Categories: opiniSimponi

Memetakan Bahasan Diskusi

Share

Dalam kesehariaannya, kita sering menemukan berbagai kajian formal maupun informal. Kosep seminar, debat, hingga basa-basi. Terjebakknya adalah ketika kita tidak mengetahui pemetaan pengetahuan yang dimiliki serta objek bahasan yang akan dikaji. Sehingga banyak perdebatan atau perselisihan yang tidak ada ujung pangkalnya. Makanya manusia butuh memetakan bahasan diskusi untuk menemukan keselarasan.

Kajian filsafat banyak menjelaskan tentang pemahaman mendasar ontologi sebuah pengetahuan. Peta atau batas pembahasan harus detail agar tidak meracau tanpa tujuan yang jelas. Tidak boleh memaksakan kehendak “kebenaran” si A kepada si B jika benang merah diskusi belum terarah.

Konsep kebenaran bisa dibentuk atas dasar informasi yang ditermiannya. Sehingga manusia secara naluriah akan menyimpulkan kebenaran berdasarkan tafsirnya masing-masing. Informasi mengenai pengetahuan bisa didapatkan dari tangkapan panca indera yang kemudian diolah oleh otak yang beberapa menjadi buah perilaku, lainnya menjadi ideologi dalam memahami sesuatu.

Karena setiap orang mempunyai versi kebanaran masing-masing, maka diskusi harus bisa memetakan materi yang akan dibahas.

Pemetaan Kebenaran

Kebenaran Logika

Tentang bagaimana manusia menyimpulkan kebenaran berdasarkan logika yang diamini mayoritas manusia. Dalam penyusunan kebenaran logika harus urut (runtut) agar tidak terjadi miss-informasi yang disampaikan kepada orang lain. Pemahaman logika juga harus memperhatikan pakem analisa yang komperhensif dan tidak menyimpang.

Kebenaran Empiris

Menyimpulkan kebenaran berdasarkan pengalaman. Semakin banyak orang yang mengalami, maka akan semakin dekat kebenaran yang didiskusikan. Alat yang digunakan untuk mendapatkan kebenaran empiris adalah dengan menggunakan panca indera.

Kebenaran Etika

Terjadi karena konvensi sosial di suatu masyarakat. Dalam melihat kebenaran etika digunakan kacamata moral. Sehingga kebenaran akan mempunyai banyak bias tergantung cara pandang yang melihatnya.

Kebenaran Metafisika

Lebih cenderung kepada penghayatan setiap individu manusia. Kepercayaan atau keyakinan akan segala hal yang gaib (tidak diketahui). Diskusi mencari kebenaran yang masuk dalam area metafisika akan sulit untuk ditemukan titik temunya. Pilihannya adalah meyakini atau tidak atas informasi yang disampaikan.

Baca Juga: Membedah Seniman NU – Apa itu Kebenaran?

Dari pemetaan kebenaran di atas, seseorang akan menyampaikan bahasan atas informasi yang diterima dari pengalamannya. Sumber dari kebenaran tersebut bisa berasal dari wahyu (kitab suci), pengalaman diri, media informasi, dan lain-lain.

Proposisional yang akan membentuk pemahaman setiap manusia ditentukan dari seberapa informasi yang ditangkap dan dikembangkan. Sehingga bangunan dari ontologi pengetahuan tersebut akan menjadi konstruksi epistomologi dasar. Kemudian akan diejawantahkan dalam ilmu aksiologi.

Jika pemetaan dasar bahasan tidak ditemukan, maka bahasan akan sama-sama bebal atas argumen yang dilemparkan. Tidak ada yang mengalah, karena merasa sama-sama benar. Sedangkan kebenaran itu sangat banyak jika setiap orang tidak buru-buru untuk memaksakan kehendaknya. Apalagi kekayaan informasi satu dengan yang lain berbeda.

Ibarat seorang polisi yang mengajak diskusi seputar bahaya merokok kepada seorang dokter. Bukan berarti mendiskreditkan polisi, tapi lebih untuk menyadarkan posisi bidang mana yang dikuasai. Jadi tidak menjadi radikal dalam kuasa untuk mengetahui berbagai pengetahuan dan kebenaran.

Pemetaan bahasan diskusi juga harus melihat cara berpikir lawan dialog. Menggunakan model logika, empiris, etika, atau metafisika. Jadi jangan lantas menghakimi kesalahan pemahaman orang lain hanya karena menggunakan metode metafisika ketika melihat kebenaran, pun sebaliknya.

Kenyataannya dalam mencari kebenaran akan ditemui banyak cara, jenis, metode yang digunakan. Sehingga akan sangat dangkal apabila seseorang yang sudah meyakini kebenaran lantas memaksakannya kepada semua orang yang ditemuinya. Mempertahankan prinsip atau ideologi memang sangat penting, tapi memaksakannya adalah sebuah kekonyolan yang tidak akan ketemu titik seimbangnya.

Makanya dalam bahasan diskusi sangat diperlukan prinsip moderat. Moderat berarti “tergantung”. Memandang suatu gejala mungkin akan berbeda satu dengan yang lain. Tergantung siapa, darimana, kenapa, bagaimana cara pandang setiap orang.

Lebih rumit lagi ketika masuk bahasan metafisika. Keyakinan atau kepercayaan setiap orang tentu mempunyai konstruksi pemikiran masing-masing yang diperoleh berdasarkan pengalaman dan informasi yang didapatkan. Tidak serta merta kita menyalahkan jika kita sendiri tidak mengalami dan memahami kepercayaan orang lain tersebut. Adanya saling menjelekan satu sama lain karena kurang cakapnya memetakan bahasan diskusi.

Pada dasarnya semua orang mempunyai konsep kebenaran, seringnya mereka tidak bisa memetakan kebenaran mana yang seharusnya dijadikan bekal dan kebenaran mana yang tapat untuk disampaikan. Sehingga banyak kekacauan pemikiran atas doktrin yang dipaksakan untuk diikuti oleh banyak orang. Karena prinsip kebanyakan orang adalah ingin berpengaruh – termasuk atas kebenaran yang diperolehnya.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU