Categories: SimponiWarganet

Membangun Imperium Melalui Mimpi

Share

Tulisan ini berawal dari salah-satu ciutan di grup whatsapp Seniman NU. Obrolan menarik ini membahas tentang tafsir mimpi. Topik ini menarik sekaligus menantang. Menariknya adalah karena fenomena mimpi ini sudah melekat dengan diri kita. Sedangkan tantangannya ialah karena kita jarang sekali menganggap mimpi sebagai fenomena penting dalam hidup kita. Oleh sebab itu, KH. Nasruddin Umar mengatakan bahwa mimpi jangan hanya dipandang sebagai simbol “bunga tidur” semata, melainkan sebagai pengalaman esoterik dari setiap individu yang sangat-sangat penting.

Tulisan ini mungkin akan mengambil posisi tantangan tersebut, dengan beberapa pertanyaan pembuka, kenapa mimpi ini penting untuk dibahas?! Jika semua yang ada adalah mahakarya Tuhan, maka mimpi ini pun termasuk di dalamnya. Kenapa mimpi diciptakan Tuhan?!

Baca Juga: Pilih Waras atau Sehat?

Untuk menjawab beberapa pertanyaan itu, posisi saya bukan sebagai seorang teolog, yang berani berbicara tentang mahakarya Tuhan, tapi sebagai insan yang haus akan rasa ingin tahu.

Setiap apapun yang diciptakan Tuhan sudah pasti punya maksud dan tujuannya, begitupun dengan mimpi. Ibarat kita ingin mengetahui, kenapa matahari terbit dari timur? Kenapa tidak dari barat? Pertanyaan ini adalah pertanyaan rasa ingin tahu. Hal yang sama jika kita ingin membicarakan fenomena mimpi ini.

Karena berbau “rasa ingin tahu” maka mimpi masuk dalam kajian saintifik. Banyak ahli psikologi, seperti Sigmund Freud sangat menaruh perhatiannya pada fenomena ini. Bahkan bukunya yang berjudul The Interpretation of Dreams secara kesuluruhan membahas fenomena ini.

Buku Freud itu menarik sekaligus menimbulkan banyak kritik. Freud sangat menaruh perhatiannya pada aspek alam bawah sadar yang belakangan disebut sebagai dorongan id (biologis). Menurut Freud bahwa hampir seluruh aktivitas manusia dipengaruhi alam bawah sadar.

Ibarat gunung es, posisi alam bawah sadar (id) berada di posisi bawah, sedangkan di atas gunung es adalah alam kesadaran. Jika kita melihat gunung es secara keseluruhan, tampak di bawah gunung es lebih besar dibanding di atasnya. Artinya, alam bawah sadar sangat besar pengaruhnya terhadap alam sadar manusia.

Sejauh mana pengaruh alam bawah sadar ini bagi kehidupan manusia?

Kita bisa ambil contoh seperti reaksi kita saat mau makan. Menurut Freud, dorongan mau makan ini masuk dalam kategori alam bawah sadar atau id yang cenderung biologis. Reaksi ini sudah tertanam lama di alam bawah sadar, yang kita peroleh dari masa kanak-kanak. Dari reaksi mau makan ini kemudian berpengaruh terhadap alam kesadaran yang diistilahkan Freud sebagai superego.

Proses dari pengaruh alam bawah sadar ke kesadaran ini akan menimbulkan benturan, antara dorongan biologis dengan rambu-rambu sosial yang ada, karena posisi kesadaran sangat bersentuhan dengan di luar diri manusia yakni tata nilai masyarakat.

Oleh sebab itu, ketika kita makan, kita akan terbentur dengan adat kesopanan, seperti jangan makan sambil berbicara dan lain-lain. Artinya, ada sedikit kompromi antara alam bawah sadar (mau makan) dengan kesadaran (adat kesopanan). Meskipun demikian, dorongan alam bawah sadar tetap sangat kuat pengaruhnya terhadap alam kesadaran. Dorongan alam bawah sadar ini sangat sulit di kontrol, sekalipun ada pengaruh tata nilai masyarakat.

Penjelasan di atas disebut Freud sebagai dinamika psikologis. Nah, sekarang mari kita tengok fenomena mimpi. Jika kita pakai teori Freud, maka kita akan melihat fenomena mimpi sebagai gejala alam bawah sadar. Yang mana, alam bawah sadar dipenuhi pengalaman traumatis semasa kanak-kanak yang akan muncul suatu saat di mimpi kita. Sebab itu, kita sering memimpikan saat posisi kita masih seperti kanak-kanak dulu, yang takut di kejar-kejar anjing atau lainnya. Bahkan, orang-orang yang telah meninggal, yang pernah kita jumpai semasa kita masih kanak-kanak pun akan muncul di alam mimpi kita!

Jadi, mimpi ini bisa dikatakan sebagai akibat dari pengalaman traumatis yang pernah dialami oleh setiap individu. Sampai di batas inilah kemampuan Freud menjelaskan fenomena mimpi. Pertanyaan berikutnya, lantas apa yang kurang dari Freud? Mungkin Freud belum menjelaskan terkait campur tangan Tuhan dalam fenomena mimpi ini.

Sebenarnya, bukan Freud tidak bisa menjelaskannya, tapi Freud adalah ilmuwan yang sekaligus seorang atheis. Maaf. Ini bukan berarti memojokan Freud sebagai seorang ilmuwan yang kredibel. Untungnya Freud masih menyisakan sedikit kelemahan dari teorinya, sehingga ada ruang bagi kita untuk mengulasnya lebih jauh terkait fenomena mimpi ini. Jadi, saya perlu angkat topi pada Freud. Terima kasih!

Baca Juga: Takut pada Kekasih

Karena ada sedikit kelemahan dari teori Freud itulah, maka saya ingin beranjak pada anggapan bahwa mimpi adalah fenomena esoteris, yang sifatnya sangat sufistik. Apa yang terlihat di alam mimpi, mungkin bisa dianggap sebagai petunjuk ilahi, atau bisa juga sebagai pengenalan jati diri. Harusnya kita banyak bertanya, kenapa bermimpi, kok diri kita tidak terlihat? Apakah diri yang tidak terlihat ini bisa dikatakan sebagai jiwa? Menjawab pertanyaan itu butuh waktu yang cukup lama, butuh refleksi tingkat dewa! Oleh sebab itu, pertanyaan itu saya sisakan untuk pembaca (dan sekaligus dengan saya) bersama-sama menjawabnya.

Keterkaitan mimpi dengan pengalaman esoterik ini sangatlah penting. Kenapa penting? Hal ini mengingatkan saya pada kisah Nabi Yusuf menafsirkan mimpi raja Mesir kala itu. Atas perkenaan Tuhan, Nabi Yusuf berhasil menafsirkan mimpi raja Mesir. Dampak dari keberhasilan Nabi Yusuf sungguh luar biasa bagi kondisi perekonomian Mesir waktu itu. Akhirnya Mesir dapat membangun peradaban yang gemilang.

Namun, penafsiran ini jangan disalah-artikan sebagai peramalan. Karena Islam pasti sangat menolak konsep peramalan. Sebab hal itu identik dengan perdukunan sekaligus kesyirikan. Artinya, posisi mimpi tetap dipandang sebagai rahmat yang diberikan Tuhan bagi manusia. Karena rahmat inilah, maka mimpi bisa dijadikan petunjuk: sebagai pengenalan jati diri, atau sebagai refleksi untuk membangun imperium (peradaban) yang gemilang. Wallahua’lam.


Muh Kashai Ramadhani PelupessyS2 Psikologi Universitas Negeri Yogyakarta