Categories: opiniSimponi

Memahami Ustaz Evie Effendi

Share

Saya akan coba memahami cara berpikir dan perasaan Ustaz Evie Effendi yang akhir ini banyak menerima hujatan. Meskipun saya hanya menyaksikan beliau dalam beberapa potongan video – tidak pernah mengikuti kajian beliau di YouTube. Tapi saya berusaha memaklumi diri jika ada salah dalam beliau menyampaikan dakwahnya.

Beberapa hal yang dianggap masalah mengenai kasus Ustaz Effendi,

Gelar Ustaz

Menjadi ustaz itu memang berat, selain dituntut bicara yang benar, mereka juga harus bisa menjadi teladan dalam berperilaku dan bersikap. Bukan hanya paham beberapa kitab, mereka juga harus siap konsekuensi atas apa yang disampaikan di depan jamaah. Makanya gelar ustaz itu tersemat oleh mereka yang menyepakati gelar tersebut pantas disematkan kepada seseorang – bukan klaim personal. Jadi pantas dan tidaknya Evie Effendi menjadi ustaz itu adalah hak komunal seseorang.

Salah Baca Alquran

Ini yang kadang sering menjadi dilema dalam membaca Alquran. Membaca Alquran salah itu wajar. Kecuali mereka yang sudah fasih dan paham baca Alquran, tapi disalah-salahkan dengan motif tertentu. Proses belajar Alquran itu kan dimulai dari kesalahan, selanjutnya menjadi paham dan mahir baca Alquran. Soal kelayakan gelar Ustaz Evie Effendi yang ternyata mempunyai banyak jamaah itu persoalan lain. Mungkin mereka sudah menyepakati kalau orang yang masih salah baca Alquran juga bisa menjadi ustaz dan diikuti banyak jamaah.

Langsung belajar dari Rasulullah

Pernah mendengar dan membaca juga, kalau dalam sebuah video, Evie Effendi mengatakan kalau beliau belajar agama langsung dari Rasulullah dan para sahabat. Padahal kalau mau sedikit belajar tentang filsafat atau psikologi. Hampir semua ilmu pengetahuan yang kita dapatkan itu bersumber dari taklid. Kecuali Evie Effendi ternyata punya ilmu laduni yang bisa belajar langsung secara kebatinan dengan Rasulullah.

Tidak Tau Kalau Dia Tidak Tau

Nah, terkahir ini yang menjadi penting dalam karya Imam Al Ghazali. Dalam beberapa level pengetahuan, ada beberapa jenis manusia.

Tahu kalau dia tahu, ini wajib hukumnya untuk berdakwah dan menyebarkan kebenaran kepada masyarakat.

Tahu kalau dia tidak tahu, ini adalah jenis orang yang sadar diri bahwa dia belum tahu. Ketika sudah sadar, maka ia akan terus belajar agar dia bisa tahu. Tetap istikamah menjadi murid yang mendengarkan, daripada sok-sokan jadi guru yang banyak bicara.

Tidak tahu kalau dia tahu, ini ibarat orang yang sedang tidur. Dia harus dibangunkan -diingatkan- agar mau menyebarkan ilmunya kepada banyak orang.

Tidak tahu kalau dia tidak tahu, terakhir adalah orang yang terlanjur gengsi, sehingga menganggap masabodo segala hal yang telah diucapkan atau dilakukan. Tidak berpikir risiko dan permasalahan ke depannya. Meraka selalu merasa benar, meskipun “semua” orang menganggapnya salah.

Baca Juga: Sertifikasi Ustaz

Memahami Ustaz Evie Effendi

Gairah muda memang menuntun kita untuk bisa tampil eksis di segala ruang dan waktu. Karena memang naluri manusia itu ingin diakui. Banyak cara yang ditempuh; mulai dari menampilkan potensi dirinya, berperan gila di media sosial, prank tidak berpendidikan, hingga deklarasi ustaz.

Zaman media informasi memudahkan semua orang dari berbagai lapisan masyarakat untuk menjadi populer. Bahkan sudah muncul berbagai akun yang menyandang gelar ustaz di depan namanya masing-masing. Bagaimana tidak menggiurkan, dengan gelar ustaz seseorang bisa mendapatkan uang jika diundang pengajian atau seminar, bisa mendapatkan istri sesuai pilihannya – karena wanita banyak tertarik punya “imam” yang bisa membimbing dirinya dunya wal akhirah.

Apalagi sekarang musim fanatik terhadap identitas keagamaan. Kasus apapun bisa dikaitkan dengan nilai keagamaan. Sehingga agama menjadi daya tawar yang menarik bagi semua kalangan. Ibarat film, agama itu seperti kisah cinta yang selalu diselipkan dalam setiap adegan untuk menambah dramatisir alur cerita.

Pun untuk Ustaz Evie Effendi, beliau tentu butuh eksistensi. Perkara bagaimana orang menilainya itu adalah hak masing-masing. Jika beliau pun tidak mengaku salah atas bacaan Alquran yang banyak tersebar di media sosial pun sebenarnya tidak apa-apa. Jikapun itu masih kolot dianggap salah, yang seharusnya disalahkan adalah orang yang mengikutinya – bukan yang diikutinya. Ibarat ada anak kecil baru belajar Iqra’ dan salah itu adalah hal yang wajar. Perkara anak kecil itu diikuti dan dianggap benar segala ucapannya itu hal lain.

“Sudah tahu salah, masih saja diikuti.”

Jika keduanya sama-sama tidak mau mengaku salah, berarti secara konsensus dianggap kebenaran oleh kelompok tersebut. Dan demikian yang sering terjadi di sekitar kita, bahwa sudah banyak kesalahan yang dianggap kebenaran karena kurangnya kesadaran diri untuk mengaku salah dan meminta maaf.

Tetap semangat Evie Effendi, jangan lelah belajar dan jangan buru-buru mengajar….


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU