Categories: opiniSimponi

Memahami Makna Syahadat

Share

Seminim pengalaman saya, belum pernah mengkaji secara mendalam tentang syahadat. Kitab fikih dimulai dari wudu yang kemudian urut penjelasan tentang rukun Islam, tapi tanpa syahadat. Bukankah memahami makna syahadat adalah syarat utama menjadi muslim? Semacam pintu masuk yang kemudian akan diberikan petunjuk berikutnya dalam urusan menjadi muslim yang baik.

Lalu apa itu syahadat? Apakah hanya cukup mengartikan “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad utusan Allah”?

Sebelum membahas lebih dalam tentang pemahaman arti di atas, syahadat merupakan bagian penting dalam beragama. Salat tanpa syahadat tidak sah, sedangkan salat sendiri adalah tiangnya agama.

Dari Abu Dzar Ra. yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa mengucapkan, ‘Laa ilaaha illallaah,’ kemudian meninggal, maka pasti masuk surga.”

Dari Anas Ra, bahwa Nabi saw telah bersabda, “Akan keluar dari neraka bagi orang yang mengucapkan, ‘Laa ilaaha illallaah,‘ walaupun hanya sebesar satu butir iman di hatinya.”

Masih ada beberapa perbedaan pendapat yang menyimpulkan bagi siapapun yang sudah bersyahadat dijamin masuk surga. Namun satu hal yang pasti, syahadat merupakan kompenen penting. Kunci dari surga itu sendiri.

Baca Juga: Muda Foya-Foya, Tua Kaya Raya, Mati Masuk Surga

Monisme, Dualisme, Pluralisme

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ

Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada-Nya kita kembali. Karena sejatinya hidup adalah dari Allah, demi Allah, dan untuk Allah. Tidak ada kuasa manusia menentukan takdir yang sudah diatur sedemikian rupa oleh Allah. Maka monisme menegaskan bahwa semua yang terjadi di alam semesta adalah kesatuan dengan Allah itu sendiri. Manusia beserta perilaku, alam beserta gejalanya, hingga pergerakan galaksi hanyalah pengejawantahan dari zat Allah.

Kemudian dualisme adalah penegasan tentang adanya khaliq dan makhluq. Tuhan adalah satu-satunya khaliq, sedangkan yang lainnya adalah makhluk. Begitupun realitas dalam kehidupan yang serba paradoks. Hitam-putih, baik-buruk, atas-bawah, kaya-miskin, indah-jelek, pria-wanita, dan lain sebagainya.

Terakhir adalah pandangan pluralisme. Bahwa untuk melihat suatu kebenaran bisa dinilai dari berbagai sudut pandang. Tergantung konteks dan perilaku yang mempengaruhi. Makanya pluralisme lebih menekankan tentang banyak kebenaran dalam memutuskan sesuatu, termasuk konsep beragama dan berketuhanan.

Pluralisme sangat dekat dengan aktivitas kita sehari-hari. Dalam konteks agama, perbedaan tafsir terhadap Alquran ataupun hadis adalah contoh dari banyaknya variabel tentang beragamnya keyakinan akan sebuah kebenaran. Sehingga pluralisme meminimalisir pemaksaan kehendak kebenaran pribadi, karena menganggap dan meyakini setiap orang punya versi kebenaran masing-masing.

Membedah Syahadat

Berikut hanya sebuah uneg-uneg saya. Kalau dalam pemahaman pluralisme, tentu setiap orang mempunyai tafsir, begitupun dengan saya.

Muhammad, bukan rasul kita?

Kalau rasul dimaknai sebagai utusan, maka sungguh sombong sekali kita terhadap Nabi Muhammad. Makanya dalam syahadat diartikan sebagai rasulullah atau utusan Allah – bukan utusan manusia. Bukankah derajat kita jauh lebih rendah dari manusia mulia Muhammad Saw? Pantaskah kita mengutus beliau?

Tapi jika dalam pemahaman monisme – tentang kesatuan. Sebagai pengejawantahan dari Allah itu sendiri, maka Nabi Muhammad memang utusan dari semuanya, termasuk manusia. Silakan direnungkan kembali.

Mengenai diksi saksi

Saya cukup tergelitik dengan istilah “bersaksi” dalam kalimat syahadat.

Saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan, dan peradilan tentang suatu perkara pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri.

Lalu kalau memang Allah itu wujud, sudahkah kita mendengar Allah, melihat Allah, dan merasakan Allah dalam hidup kita? Atau selama ini kita hanya berpura-pura mengakui keesaan Allah – kekuasaan Allah? Sudahkah kita benar-benar bersaksi?

Jika dihayati lebih dalam, sebenarnya kita memang belum benar-benar bersyahadat kepada Allah. Masuk surga memang cukup bersyahadat, tapi untuk memahami makna syahadat kita butuh usaha untuk senantiasa berdoa ditunjukan jalan yang lurus.

Yang selama ini kita syahadat-i adalah diri sendiri. Diri sebagai pencipta, diri sebagai penghancur, diri sebagai hakim, dan ego diri-diri lainnya. Allah sering diabaikan karena ketidaksadaran kita yang selalu mengambil hak kekuasaannya. Kita hanya menyaksikan Allah dari kejauhan, dari keabsurdan tentang fenomena alam dan perilaku diri sendiri. Selebihnya Allah hanya sebagai formalitas Tuhan yang selalu kita pamerkan.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU