Categories: SimponiWarganet

Mbok Kamu Itu Sadar Diri….

Share

Sudah menjadi hal biasa sekarang banyak orang yang berbondong ingin berhijrah dan sebagian dari mereka dengan mudahnya dijuluki ustaz/ ustazah. Karena kelihaian mereka dalam menafsirkan sendiri secuil hadis atau ayat Alquran. Bahkan yang lebih parahnya lagi mereka yang tidak punya guru, dengan mudahnya mengafirkan dari apa yang mereka baca di google atau medsos lainnya. Pernah kejadian salah satu teman saya bertanya kepada saya lewat WA begini, “Mengapa berdoa itu selalu di awali atau diakhiri dengan bacaan Alfatihah? kenapa tidak langsung berdoa saja meminta apa yang diminta?”. Saya tidak mau berdebat panjang lebar, cukup saya jawab dengan kutipan teman saya yang pernah bercerita kepada saya agar bisa sadar diri.

Bahwasanya Romo Yai Abdullah Faqih (Alm) pengasuh PP. Langitan pernah cerita kayak gini; dulu ada Ulama namanya Ibn Abdussalam, yang awalnya tidak percaya bahwa mengharamkan mengirimi Alfatihah ke orang mati.

Setelah beliau wafat, beliau datang ke mimpi salah seorang santrinya. “Dulu saya melarang kalian mengirim Alfatihah ke orang mati. Sekarang saya minta kalian untuk mengirimkan Alfatihah kepada saya.

Lalu temanku menjawab “Adakah hadisnya yang sahih dan jelas? Karena saya tidak mau bertaklid kepada ulama kalau belum tahu dasar hukumnya apa”

Lalu saya menjawab, “Kamu tahu keutamaan Alfatihah itu apa saja?”.

Benar saja jawaban saya hanya di R (baca:read). Oke di sini saya sadar apapun argumen saya, teman saya pasti sama saja. “Gag ngamalin gpp, ntar mati baru tau rasa deh, betapa inginnya dikirimi Alfatihah dari yang masih hidup.”

Dalam berfikih saja kita hendaknya mengambil salah satu 4 madzhab. Padahal ada sekitar 64 madzab di dunia ini, di dalam Kitab Tuhfatul Muhtaj ala Syarhil Minhaj Imam Ibnu Hajar Al Haitami menegaskan bahwa, “Barangsiapa mengambil selain madzhab 4 maka dia tidak akan benar di dalam berfiqih, barangsiapa yang bertaklid kepada salah satunya maka pasti akan dalam keadaan yang benar.

Syarat Mendirikan Madzab?

Itu Imam Ibnu Hajar Al Haitami pengarang kitab ahli fikih hlo ya, dan kita itu siapa sih? wong alim udu, wong sholeh ya udu.  Mau menghukum-hukumi sendiri perkara yang benar atau salah? duh, jadi orang itu ya mbok tau diri. Apakah perkataan salah seorang ahlul fikih kurang membuka mata hatimu? Baiklah saya akan jelaskan sedikit syarat orang boleh mendirikan madzab itu apa saja, dari Kitab Tafsir Bahrul Muhith Bi Maaniya Qurani Majid yang dikarang oleh Imam Abu Hayyan al-Andalusi di sana ada 8 syarat :

Baca Juga: Bijaksana Membawa Fikih

  1. Harus mengetahui Alquran dan Sunah

Menurut Imam Ahmad bin Hanbal minim hafal 300.000 hadis. Jadi, jika kamu ingin membuat madzab sendiri, gak usah pakai tafsir gak usah pakai sarah hadis boleh. Tapi kamu harus hafal 300.000 hadis saja, cuma itu. Hafal 1 hadis itu bukan berarti cuma hafal “innamal akmalu bin niat.” Tapi harus hafal “innamal akmalu bin niat rowaitu min syaikhi Al Habib Umar bin Hafidz, Habib Umar dari gurunya Al Habib Ahmad Masyur bin Toha AlHaddad, Habib Ahmad Masyur dari gurunya Alhabib Ahmad bin Husein Al Haddad, Al Habib Ahmad bin Husein Al Haddad dari gurunya Al Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi, Al Habib Ali dari gurunya Sayyid Ahmad Zaini Dahlan terus sampai nyambung ke Rasulullah Saw, kamu hafal berarti kamu dianggap hafal 1 hadis. Kamu bisa hafal 300.000 hadis berarti kamu memenuhi seperdelapan syarat boleh mendirikan madzhab sendiri, kalau tidak maka hukumnya haram.

  1. Mengetahui hukum-hukum

  2. Menguasai Kias

Mau membuat madzhab tidak menguasai Kias, bilang pengajian minggu pagi haram karena menyerupai jadwalnya orang Nasrani, kalau menyerupakan seperti ini tapi dia tidak menguasai ilmu kias maka penyerupaannya pasti salah.

  1. Menguasai ijma ulama

Contoh Guru saya, Gus Mustain Nasoha beliau pernah menjadi mushoheh / tim perumus Bathsul Masail yang diadakan se-Jateng .kata beliau, di situ ada yang satu dari Kiai Langitan dan yang satu dari PWNU baca kitabnya memang pinter tapi belum paham. Maksudnya tidak cukup bisa baca kitab saja, kita harus paham metodologi baca kitab.

Dalam Madzhab Syafii ada qoul (pendapat) Ashoh, qoul Adhhar, qoul Masyhur dst, kalau ndak paham mana muqaabil-nya (lawannya) atau rukhshah (keringanan hukum) kitabnya. Maka dapat dipastikan dalam memutuskan keputusan Bahtsul Masail akan banyak kelirunya.

  1. Mengetahui metodologi ber-Ijtihad

  6. Menguasai bahasa arab

Kalau sudah belajar Khilafiyah Nahwu, khilafiyah bahasa arab tidak akan kaget. Baca Alfatekah bukan Alfatihah itu secara Nahwu tidak

  1. Mengusai Nasikhdan Mansukh

Contoh, pernah tu ada penceramah di TV bilang “Agamanya apapun, akidahnya apapun, yang penting akhlaknya baik sifatnya baik pasti akan menjadi ahli surganya Allah.” Mereka menggunakan ayat “innalladzi naamanu wal ladzi nahadu wanashoro wasobiin“, ini tidak keliru memang ayat tersebut menjelaskan agamanya apapun entah Nasrani, Yahudi, Kristen atau apapun semua bisa menjadi ahli surga. Tapi perlu diketahui ayat ini sudah di Mansukh dengan ayat baru yaitu “innaddina indallahil islam“. Karena ayat tersebut sudah tidak berlaku setelah Injil, Taurat dan Zabur ditarikh atau diamandemen oleh 4 orang. Karena agamanya satu-satunya yang diterima oleh  Allah hanya Islam.

  1. Menguasai hadis mana yang dhoif mana yang sahih

Dari sedikit penjelasanya di atas, dapat disimpulkan bahwa kita sebagai orang awam harus tau diri belajar ilmu agama itu jangan ambil mentahnya saja, seperti apa kata Gus Nadir, “Jangan buru-buru meminum kopimu saat masih panas, nikmati saja aromanya baru kau teguk pelan-pelan. Begitu juga belajar ilmu agama, tidak bisa terburu-buru apalagi dengan hati yang panas. Nikmati saja proses belajar ini.” Dan yang terpenting kita wajib bertaklid kepada para ulama yg sanadnya jelas kepada Rasulullah Saw.

Baca Juga: Amatir Memahami Hadis

Maka dari itu carailah seorang guru, seperti yang disebutkan oleh Imam Syafi’i, “Orang yang belajar ilmu tanpa sanad guru bagaikan orang yang mengumpulkan kayu bakar di gelapnya malam, ia membawa pengikat kayu bakar yang terdapat padanya ular berbisa dan ia tidak tahu.” (Faidhul Qadir juz 1 hal 433). Ingat juga ya belajar tanpa guru saja bisa sesat, salah guru lebih sesat lagi. Jadi berhati-hatilah dan bersungguh-sungguhlah dalam mencari seorang guru.

Wallahu a’lam bishawab.


Siti Aisyah – IPPNU PAC. Kebakkramat

View Comments

  • saya bersyukur sekali di pertemukan secara teknologi lewat dunia maya.
    sesungguhnya saya tidak ada niatan apa pun untuk sombong / ujub.
    tapi saya tidak ada pilihan..hmm..
    terimakasih dulur..
    insyaALLAH nnti saya ke jogja .
    doakan waktunya sudah pas.
    nnti saya akan kabarkan ke mas joko dan teman2 lainnya.

    semoga kita semua generasi muda mampu membangkitan martabat indonesia kita ini.
    saatnya tetua tetua kita beristirahat dan menikmati hari mereka dengan aman, tentrem, damai, dan sejuk.

    terima kasih.

    Assalamu'alaikum Warohmatullah Wabarokatu.
    Thantowi Jauhari Utomo.
    16-09-2019.
    Bekasi. Jawa Barat. Nusantara (INDONESIA).