Categories: AransemenKajian

Maqom Manusia

Share

Maqom manusia adalah kedudukan di hadapan Allah. Dalam beberapa literatur tasawuf, maqom adalah sebuah perjalanan manusia untuk menemukan kesejatian (Allah). Setiap manusia mempunyai maqomn-nya masing-masing. Pembagian tersebut bukan dimaksudkan untuk membandingkan satu sama lain sebagai hamba Allah, namun lebih kepada kesadaran diri dan proses kebatinan dalam beragama untuk menuju kesempurnaan.

“Jika engkau ingin mengetahui kedudukanmu di sisi Allah, maka perhatikanlah dimana Allah telah menempatkan dirimu.”
Banyak para ahli sufi dan tasawuf yang menjelaskan tentang beberapa tingkatan Maqom, seperti yang di jelaskan oleh Imam Al Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin, menjelaskan beberapa maqom manusia seperti Maqom Taubat, Maqom Sabar, Maqom Faqir, Maqom Zuhud, Maqom Tawakal, Maqom Mahabah, Maqom Ma’rifat dan Maqom Ridho.

Sedangkan tokoh sufi lainnya seperti Ibn Atha’illah menjelaskan beberapa tingkatan maqom seperti, Maqom Taubat, Maqom zuhud, Maqom Sabar, Maqom syukur, Maqom khauf, Maqom ridha dan tawakal, Maqom mahabah. Selain para sufi diatas masih banyak yang menjelaskan beberapa tingkatan maqom bagi seorang salik dalam bersuluk-nya.

Syariat

Proses awal manusia dalam belajar agama adalah fase syariat. Mengetahui tentang hukum, dasar akidah, fikih, dan lainnya. Dalam kajian sufi, syariat dimaknai sebagai kulit atau jasad atau lahiriah – segala yang tampak. Aplikasinya bisa berupa ibadah, sopan santun, kerja keras, dan lain sebagainya. Mengetahui dasar agama seperti wajib, sunah, mubah, makruh, dan haram dalam beribadah. Mempelajari syarat dan rukun.

Thariqah

Tarekat atau thariqah adalah proses atau jalan menuju ke fase berikutnya. Proses pencarian ini meliputi banyak aspek. Kepada siapa, tentang apa, bagaimana cara, dan kapan dimulai. Petunjuk dalam tarekat lebih luas cakupannya daripada hanya belajar syariat. Mereka yang sudah memahami konteks beragama.

Menjalankan kewajiban dan bahkan sunah. Menjauhi yang haram atau sesat. Memalingkan dari yang mubah atau makruh. Mengutamakan sikap wara’ atau kehati-hatian.

Baca Juga: Menyelami Makna Makrifat

Hakekat

Tahap manusia mengisi rohani atau batin kepada Allah. Mempersembahkan segala bentuk ibadah, hidup, dan mati hanya untuk Allah. Peran ini banyak dipengaruhi oleh olah jiwa dan rasa. Hati sebagai sumber dan muara perkataan dan perilaku. Sehingga lebih dekat kepada sikap zuhud yang berarti memandang rendah dunia. Bukan berarti menganggap remeh dunia, namun tidak terikat oleh sifat-sifat keduniaan.

Manusia akan menuntut diri untuk memhami hakekat dari sifat, af’al, dan dzat Allah. Memahami hakekat kitab suci, hal gaib, dan lain sebagainya.

Makrifat

Puncaknya adalah makrifat, sebagai buah hasil dari proses panjang sikap keagamaan seseorang. Tidak ada sesuatu selain Allah. Segala ucapan, perilaku, dan usahanya adalah dari Allah dan untuk Allah.

Yang sering salah dipahami bahwa mereka kaum sufi banyak yang melanggar syariat, padahal untuk mencapai maqom tertinggi seseorang paling mendasar harus mengusai syariat. Meskipun tidak dipungkiri banyak juga orang yang berlomba sesegera mungkin untuk manggapai maqom tertinggi.

Seperti seseorang yang sedang salat, maka ia akan terlihat seperti orang yang hanya berolahraga jika tanpa memahami hakekat dari salat itu sendiri. Itulah pentingnya belajar tasawuf sebagai jalan menemukan kebahagiaan yang sejati. Memaknai setiap ibadah sebagai ekspresi cinta hamba kepada Tuhannya.

Manfaat Belajar Tasawuf

Belajar syariat tanpa hakekat, ibarat jasad tanpa ruh. Sebaliknya jika belajar hakekat tanpa syariat, ibarat ruh tanpa jasad. Jika seseorang sudah bisa memahami segala bentuk atau unsur agama dan kehidupan, maka ia akan dengan mudah mendapatkan sinar atau hidayah dari Allah.

Belajar tasawuf adalah cara manusia menghargai sesuatu. Memanusiakan manusia dan selalu berusaha mengingat Allah. Tasawuf adalah melatih hati untuk berlaku bijaksana dan menyadari tentang segala sifat kehambaannya. Tidak merasa memeliki sesuatu karena segala hal adalah karena Allah.

Ciri orang beriman adalah ibarat ember yang masih bagus, sehingga mudah untuk menampung air. Sedangkan orang kafir, ibarat ember yang terbalik. Tertutup untuk menerima hidayah atau sinar dari Illahi. Orang munafik, ibarat sebuah ember yang pecah, sehingga menjadi percuma segala bentuk kebaikan yang dilakukan.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU