Categories: kolase

Manusia Virus

Share

“Jangan lupa beli masker….”

Suasana yang gagap, suara meracau dari segala penjuru, mencekam! Namines diam terpaku melihat sekelilingnya. Membeli perabotan rumah, memborong makanan pokok, wajah panik ibu-ibu di sepanjang jalan. Anak-anak masih ngemut es krim di trotoar. Orang gila menyebut-nyebut nama Sabdo Palon.

“Sudah mau kiamat!” ujar seorang wanita yang membangunkan Namines dari lamunan panjang.

“Belum! Masih ada babak berikutnya. Aku hanya melihat beberapa debu berterbangan. Selebihnya hanya sorak sorai kelemahan pikir manusia modern”

“Sebentar lagi Ramadan”

“Ada juga yang sudah berpuasa untuk tidak menyebarkan virus”

”Maksudmu?”

Namines lantas duduk di bangku pinggir jalan. Menatap awan yang mulai mendung. Wanita tadi mengikuti duduk di sampingnya.

“Aku bahagia lahir di sini. Sebuah tempat yang begitu kokoh peradaban dan budayanya. Manusia yang kaya akan bahasa dan perilaku. Kuat dari berbagai macam bala bencana. Setiap kali merapi meletus, anak-anak merekamnya. Banjir bandang, malah menjadi wahana kolam renang. Mereka bukan penakut dan akan selalu tangguh memegang prinsip.”

“Tapi sekarang mereka tampak begitu kacau?”

“Yang sedang kamu lihat bukan keadaan sesungguhnya. Ada pula mereka yang labil karena terlalu berlebihan mengkonsumsi media. Banyak di antaranya tetap tenang. Waspada. Berjuta jenis penyakit sudah begitu erat di sini. Sampai himbauan penguasa tidak menyurutkan manusia ini berhenti untuk melakukan segala hal untuk kebahagiaannya. Semakin diancam, mereka akan semakin melawan. Jangankan virus, senjata api dan bom saja pernah dilawan dengan tekad membara.”

“Kamu tidak melihat sekarang?”

Menghela nafas. Namines memejamkan mata dan tersenyum. Hujan rintik-rintik mulai mengisi nuansa sore itu. Orang-orang semakin berdesakan mencari tempat berteduh. Memaksa masuk beberapa etalase toko.

“Bukan. Bukan virus itu yang membuat mereka begitu. Ada virus lain yang begitu susah disembuhkan dan membuat mati banyak orang. Virus yang membekukan perasaan, virus yang mematikan logika akal sehat, dan virus yang ditebar secara sengaja agar banyak orang mengikutinya.”

Baca Juga: Namines Belajar Sejarah

“Virus kebencian?”

“Iya. Sudah sejak lama kita susah mencari vaksin dari virus ini. Semula segelintir sekarang melimpah ruah dari berbagai golongan. Bukan lagi kebencian soal ras, politik, agama, dan suku. Selanjutnya menjamur menjadi kebencian antar personal satu dengan yang lain. Satu perbedaan akan menyebabkan banyak kebencian. Manusia-manusia sekarang menuntut persamaan dan gemar mengutuk. Soal mimpi, visi-misi, dan tujuan ke depan. Pemaksaan kehendak untuk berlaku seperti dirinya.”

“Ini manusia yang tadi kamu banggakan? Manusia yang katamu kokoh memegang prinsip, kaya akan peradaban?”

Namines menundukkan kepala. Menangis seirama jatuhnya air hujan.

“Aku tidak tahu kenapa saudaraku menjadi demikian….” melanjutkan tangisnya yang semakin keras nada sesenggukan.

“Seolah semua musuh di mata mereka. Tidak mau mengingat sejarah indah peradaban sendiri. Menjadi sebuah negara dengan kekuatan akhlak dan adab. Itu yang tidak akan pernah mampu disaingi oleh negara lain. Karena kami semua sadar tidak akan mungkin bersaing secara ekonomi, teknologi, dan militer.”

“Benar. Sekarang tidak ada lagi yang dibanggakan dari negara ini. Virus kebencian yang seharusnya tidak mempan bagi masyarkat kita, kini sudah menjadi pandemi.”

“Persatuan. Bhineka Tunggal Eka. Menghargai kemajemukan. Gotong royong. Menemukan agama yang sejati dalam hati nurani manusia yang abadi. Satu yang mampu menyembuhkan segala macam virus : NURANI”.

Mereka berdua pergi meninggalkan tampat tersebut. Tersisa secarik kertas tentang pesan keteguhan hati seorang manusia dalam menghadapi berbagai macam penyakit. Salah satunya mengurangi kegelisahan dan kebencian. Kemudian menambah perasaan bahagia dan nyaman dalam diri dan lingkungan sekitar. Jangan sampai virus kebencian mendarah daging dalam diri kita, sampai tidak sadar bahwa kita adalah pasien yang paling berbahaya bagi yang lainnya.

(Cerita fiksi “Namines Mencari Jalan”)


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU