Manusia Kadaluarsa

Perkembangan dan kemujuan dunia modern sudah tidak dapat dibendung dan ditolak. Berbagai perubahan sangat pesat mulai dirasakan saat ini. Sebagai manusia yang hidup di era ini, yakni era kemajuan teknologi, hendaknya manusia mengikuti zaman. Seperti yang diungkapkan oleh Sunan Kalijaga anglaras ilining banyu angeli ananging ora keli, kurang lebih artinya mengalir mengikuti aliran air, namun tidak hanyut dalam air.

Manusia yang tidak mengikuti zaman akan ketinggalan perkembangan zaman yang begitu pesat, namun perkembangan yang sangat luar biasa harus dibatasi dalam diri kita sendiri agar tidak terjerumus dalam kenegatifan dari dampak perkembangan zaman itu sendiri.

Perkembangan zaman ditandai dengan majunya teknologi yang ada, berbagai teknologi memiliki sisi negatif maupun positifnya. Orang yang tidak mengikuti perkembangan zaman merupakan orang yang kadaluarsa, yakni orang yang sangat kurang terbuka dengan kemajuan zaman, orang yang tidak bisa sama sekali berteknologi. Manusia yang kadaluarsa ini biasanya disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya: orang tersebut tidak bisa move on atau pindah ke zaman sekarang (pikirannya masih pada zaman dahulu). Orang mengalami kekadalaursaan karena khawatir dari efek negatif dari kemajuan zaman.

Manusia yang hidup pada masa sekarang harus bisa menguasai teknologi bukan dikuasai oleh teknologi. Berbagai teknologi harus bisa dikendalikan oleh manusia, dalam artian dapat dikendalikan oleh orang-orang yang bertanggung jawab atau tidak sembarangan menggunakan teknologi untuk perbuatan jahat. Teknologi harus dimanfaatkan secara maksimal dan optimal untuk meyebarkan kebaikan dan berbuat kebaikan. Teknologi juga dapat digunakan untuk berdakwah, banyak ustaz yang melakukan dakwah di media sosial, baik twitter, facebook, youtube, dan sebagainya. Media sosial merupakan hasil dari kemajuan zaman dan teknologi yang berkembang.

Seperti dalam perkembangan teknologi pertanian. Petani harus bisa menggunakan dan menguasai teknologi yang baru dan terbaharukan. Mengingat jumlah para petani semakin lama semakin menurun. Profesi petani sudah tidak menjadi minat bagi generasi sekarang. Efek dari sedikitnya petani yakni kurang terawatnya tanaman dan hasil yang diperoleh tidak maksimal. Terobosan utama dalam meningkatkan pengelolaan pertanian yaitu teknologi.

Baca Juga: Jalmo Tan Keno Kiniro #1

Zaman sekarang banyak teknologi pertanian yang bisa meringankan tenaga para petani. Misalnya dalam teknologi untuk memanen padi dari waktu ke waktu mengalami perubahan-perubahan. Pertama kali teknologi yang digunakan untuk memanen padi adalah ani-ani. Ani-ani merupakan pisau kecil yang digunakan untuk memotong tangkai padi. Perkembangan selanjutnya menggunakan bambu atau yang biasa disebut papan gebyok. Selanjutnya menggunakan erek, yaitu perontok padi yang sudah menggunakan mesin kecil. Teknologi terakhir yaitu menggunakan mesin besar yang langsung bisa memisahkan padi dengan jerami. Teknologi lain yaitu teknologi pengolah tanah, dulu menggunakan hewan sekarang menggunakan traktor. Petani harus bisa menguasai teknologi-teknologi tersebut agar pertanian mengalami kemajuan secara maksimal

Mengikuti perkembangan zaman bukan berarti menolak atau meninggalkan budaya. Namun kebudayaan harus dijaga dan dilestarikan agar tidak punah. Seperti pernah terjadi kasus klaim dari pihak lain terhadap budaya-budaya Indonesia. Klaim tentang seni Reog, batik, dan sebagainya. Salah satu penyebab klaim budaya Indonesia karena kurang dilestarikannya budaya kita, Indonesia.

Menyikapi perubahan dan perkembangan zaman saat ini kita harus mengingat kembali ungkapan Sunan Kalijaga di atas anglaras ilining banyu angeli ananging ora keli. Ungkapan tersebut mengingatkan kita agar tidak hanyut pada perubahan yang terjadi dan bersenang-senang secara berlebih terhadap kemajuan zaman.

Ungkapan di atas juga bisa dijadikan untuk pedoman dalam berdakwah. Bahwa dakwah atau menyebarkan paham keagamaan tidak harus cara yang berbeda dengan budaya yang ada. Budaya yang ada harus dijaga dan dikembangkan secara maksimal. Seperti Sunan Kalijaga mengembangkan budaya wayang dalam berdakwah menyebarkan agama Islam dengan tidak merusak budaya yang ada, justru malah menyelaraskan budaya dengan agama. Jika ada budaya yang ada tidak sesuai dengan agama atau malah bertentangan dengan ajaran agama, sebaiknya tidak buru-buru untuk memberantasnya, namun mengubahnya secara perlahan-lahan agar tidak menimbulkan gejolak sosial, dan agama dapat diterima dengan baik oleh masyarakat.


Bayu Bintoro – Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!