Categories: opiniSimponi

Mana Dalilnya?!

Share

Tentu masih banyak di sekitaran kita yang menanyakan atau ditanyai seputar landasan sebuah amalah atau ibadah. “Mana Dalilnya?”, serunya. Semacam sebuah penegasan bahwa segala sesuatu “harus” disertai dalil agar lega melakukan ritual peribadatan. Kalau tidak bisa menjelasakan, apalagi bilang tidak ada, maka segeralah dihujat dan ditinggalkan.

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا ، وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَىْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ

“Sesungguhnya agama itu mudah. Dan selamanya agama tidak akan memberatkan seseorang melainkan memudahkannya. Karena itu, luruskanlah, dekatilah, dan berilah kabar gembira! Minta tolonglah kalian di waktu pagi-pagi sekali, siang hari di kala waktu istirahat dan di awal malam,” (HR. al-Bukhari [39] dan Muslim [2816])

Dalam ibadah muthlaqah, kaidah fikih yang berlaku:

اْلأَصْلُ فِي الشُّرُوْطِ فِي الْمُعَامَلاَتِ الْحِلُّ وَالْإِبَاحَةُ إِلاَّ بِدَلِيْلٍ

Hukum asal sesuatu adalah boleh sampai ada dalil yang melarangnya. Sementara dalam ibadah mahdloh, kaidah yang berlaku sebaliknya, hukum asal sesuatu itu haram sampai ada dalil yang memperbolehkannya. Jika ada orang bertanya mana dalilnya suatu perbuatan atau amalan, tidak usah sibuk buka kitab mencari justifikasi dalil. Tanyakan kembali mana dalilnya yang melarangnya! Ujung-ujungnya pasti akan kembali kepada qiyas, mencari padanan dalil, karena dalil sharîh, baik yang memerintahkan maupun melarangnya, sama-sama tidak ada.

Saking bosannya melayani pertanyaan yang itu-itu saja, saya sempatkan menanyai mereka yang tidak begitu fasih dalam dunia per-dalil-an. “Hidup itu asalkan kita bisa bermanfaat bagi yang lain”. Anggapnya setiap perbuatan, yang itu bisa bermanfaatan dan tidak merugikan orang lain, maka lakukanlah. Tidak usah ribet dan meribetkan diri untuk menanyakan mana dalilnya.

Toh, berapa persen perbuatan yang mungkin masuk kategori peribadatan kita tidak berlandaskan dalil?!

Mulai dari membaca Alquran menggunakan mushaf dengan tulisan yang sudah “dimudahkan”, adan menggunakan toa, belajar agama melalui media sosial, naik haji menggunakan pesawat terbang, salat mengenakan baju koko, dan masih banyak lagi.

Baca Juga: Amatir Memahami Hadis

Ada dalilnya?!

Tidak

Lantas?

Menggunakan qiyas dan ijma’

Mungkin akan sangat menakutkan jika mereka yang baru belajar agama harus diluweskan cara berpikirnya seperti penjelasan di atas. Apalagi dibumbui dengan ancaman-ancaman fiddunya wal akhirah. Setiap perkara baru (dalam peribadatan) itu hukumnya sesat! Bidah! Masuk neraka!

Menariknya pembahasan seputar bidah ini cukup nge-trend dari zaman ke zaman. Bahkan sering nangkring di urutan pertama pencarian media daring. Segala sesuatu yang ada bahasan seputar bidah, maka akan cepat dan tanggap direspon untuk beradu argumen. Lucunya, dari waktu ke waktu argumennya cuma itu-itu saja. Tidak ada yang mau mengalah.

Tujuannya?!

Untuk mendapatkan banyak jamaah.

Sampai pada titik dimana saya harus mendengarkan keluh kesah seorang kawan karena keraguannya menjalankan sebuah amalan atau ibadah muamalah hanya karena tidak ketemu dalilnya. Entah sejak kapan agama dianggap begitu menyusahkan dan menakutkan. Sedangkan saya beragama adalah ingin merasakan kenyamanan dan kebahagiaan.

Masak iya, usaha mengingat Allah, lantas diganjar kesesatan (neraka)?!

Jika susah mengukur parameter kebermanfaatan suatu perbuatan, maka pikirkanlah. “Apakah perbuatan ini bisa mengingat (mendekatkan) kepada Allah, atau malah sebaliknya?!”. Saya kira itu lebih sederhana untuk meyakinkan seseorang dalam melakukan sesuatu, khususnya hal peribadatan.

Padahal soal ibadah tersebut sebenarnya masih ada yang lebih utama dari hanya sekedar mencari dalil. Yakni, Hati!

Seorang muslim dianjurkan untuk melakukan salat jamaah di masjid, sedangkan mereka yang jamaah di masjid tapi dalam hatinya ada perasaan sombong atau riya’ dalam urusan agama. Maka bukan pahala yang didapatkan, tapi sebaliknya. Mungkin ada kisah lainnya, dimana ada seorang muslim yang miskin sehingga tidak bisa melakukan ibadah ke masjid saking sibuknya mencari uang untuk menafkahi keluarga. Tapi sepanjang hari -setiap saat- hati dan pikirannya selalu mengingat Allah.

Tidak membutuhkan dalil untuk menilai kualitas keimanan dan ketakwaan seseorang. Prasangka untuk “buru-buru” menilai dan menyalahkan seseorang hanya karena dikira tidak ada dalilnya adalah sebuah “kesesatan pikir” itu sendiri. Sebagai seorang muslim tidak diajari untuk menilai amalan orang lain, sampai lupa mengkoreksi diri sendiri.

Saya sudah menjalankan setiap peribadatan yang ada dalilnya

Tapi sudahkah hati Anda ikhlas, syukur, dan takwa kepada Allah?

Ada yang lebih penting dari itu, bahwa kebencian, prasangka buruk, ghibah, menghujat, dan lupa ber-muhasabah diri adalah sifat dan sikap yang tidak diperkenankan dalam ajaran agama.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU