Syukur

Share
Sudah bersyukur kah hari ini?

Syukur itu artinya wujud atau ungkapan atau perasaan terima kasih kepada Allah. Meskipun ada yang mengkontradiksikan makna syukur menjadi cemoohan, misalnya saat ke-selek makanan, “Syukurin, makanya kalau makan itu berdoa dulu”. Namun di sini kita akan sedikit membedah makna denotatif dari syukur itu sendiri.

Sebelum membaca tulisan berikut, alangkah lebih mesranya kalau kita mengenang perjalanan hidup selama 24 jam ke belakang. Berapa banyak nikmat yang sudah diberikan kepada kita dan berapa banyak laku dosa yang kita perbuat. Belum lagi sikap atau perasaan abai kepada Tuhan dan seluruh kuasa-Nya.

Kalau masih susah untuk mewujudkan perasaan syukur, coba bayangkan jika kita tidak diberi kenikmatan bernafas maksimal 5 menit saja dari 24 jam tersedia dalam sehari. Masihkah kita bisa tertawa, menghujat, menghakimi, membenci, dan bermaksiat?! Seharusnya kita mati.

Sayangnya sekarang mati bukan lagi menjadi sebuah ketakutan bagi manusia. Himbauan berziarah agar mengingat mati juga tidak mempan bagi mereka yang merasa punya umur berlebih untuk melakukan segala apapun. Padahal kiai saya pernah bilang, “Bahwa kunci hidup itu adalah ingat mati.” Membayangkan kalau satu jam dari sekarang kita akan mati.
Kembali kepada hakekat bersyukur,

أَفْضَلُ الذِّكْرِ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ ، وَأَفْضَلُ الدُّعَاءِ : الْحَمْدُ لِلَّهِ

Saya akan membahas kalimat terakhir dari HR. Tirmidzi berikut. Keutamaan doa adalah membaca alhamdilillah. Kalimat yang biasa diucapkan untuk mensyukuri nikmat yang telah diberikan. Sayangnya, ungkapan syukur ini hanya dilakukan pada momen tertentu yang bisa memanfaati dirinya. Sehingga sesuatu yang dianggap wajar atau biasa, lupa kita syukuri. Lupa bersyukur karena bisa melihat, mendengar, istirahat, berbuat baik, hingga bisa bercita-cita.

Padahal syarat utama menjadi “manusia”, adalah ekspresi bersyukur. Dijatah Allah sebagai makhluk paling sempurna di alam semesta. Kita bukan tumbuhan yang hanya sami’na wa atho’na sama Tuhan dengan tumbuh tinggi/ besar sepanjang waktu, kemudian layu atau mati ditebang oleh manusia. Saat buah dan daun mereka dipetik, mereka tidak bisa berteriak dan meronta meminta tolong seperti manusia yang hendak terancam. Tumbuhan mengajarkan sikap kepasrahan yang luar biasa yang jarang ditiru manusia.

Baca Juga: Mari Bersyukur, Kenikmatan Menjadi Umat Muslim

Bersyukur Menjadi Manusia

Kita juga bersyukur karena tidak ditakdirkan menjadi binatang. Ada untuk dikonsumsi. Saat anaknya akan disembelih, binatang bisa meronta. Namun wujud meronta dan tangisan induk binatang tidaklah sesempurna manusia. Kambing hanya diberi kuasa mengembik saat marah, lapar, sedih, menangis, dan lain sebagainya. Bintang bisa mengendapkan nafsunya terhadap dunia. Mereka hanya butuh makan. Tidak punya kegelisahan punya mobil, rumah, istri yang cantik, instagram dengan ribuan followers. Bintang hanya butuh makan dan kasih sayang.

Kita diberikan dua tangan untuk memaknai syukur atas nikmat Allah. Misalkan tangan kiri memegang minuman, tangan kanan memegang handphone. Manusia tidak bisa lagi menerima jika diberikan buah-buah saat itu juga. Karena yang ia butuhkan hanyalah handphone dan minuman. Berbeda dengan kera. Tangan kanan memegang pisang, tangan kiri memegang kacang, jika diberikan botol minuman masih bisa mengambil dengan kakinya. Keserakahan bukan lah wujud dari manusia.

Kemarin saya salat Jumat di serambi masjid. Kemudian saya melihat ada seorang berpakaian lusuh duduk bersama tongkatnya. Saya melihat dia hanya mempunyai satu kaki. Bukan hanya sekali ini, dia selalu duduk paling awal di emperan samping masjid. Ketika selesai salat, jamaah dihimbau untuk makan siang di pelataran depan masjid. Sepanjang mata memandang, tidak ada pria tadi ikut mengantri mengambil makan. Kemudian saya tanya salah satu jamaah dan meyakinkan saya bahwa dia adalah seorang tukang rosok. Hati saya bergetar, betapa seringnya saya lupa untuk mensyukuri nikmat beribadah. Yang seharusnya menjadi kerinduanku berjumpa dengan Allah, tapi salat hanya sebagai bentuk penggugur kewajiban bagi seorang muslim.

Bersyukur menjadi manusia. Agama adalah mereka yang sudah bisa menyadari diri sebagai manusia. Menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Jika Allah menyuruh sembahyang, maka wujud syukur kita adalah dengan bersembahyang. Jika Allah meralang kita bermaksiat, maka wujud syukur kita adalah dengan menjaga dari kemaksiatan.

Tapi orang gila tidak wajib untuk sembahyang?

Iya. Seharusnya mereka yang tidak bersembahyang disebutnya sebagai orang gila. Entah setinggi apapun pendidikannya, entah sebanyak apapun harta kekayaannya. Orang yang tidak sembahyang berarti dia stratanya sama dengan orang gila. Jangan marah pula jika kita disebut gila karena tidak menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Selain bersyukur menjadi manusia, seharusnya kita juga bersyukur menjadi umat Nabi Muhammad. Bahkan Nabi Musa pun berharap bisa menjadi umat Nabi Muhammad. Keistimewaan ini seharusnya bisa menjadikan diri senantiasa bersyukur. Betapa mudahnya kita dijanjikan surga, seperti sembahyang ke masjid, menyantuni fakir miskin, membantu tetangga, hingga mencium istri pun semua dijanjikan pahala. Nikmat yang luar biasa ini seharusnya menyadarkan kita sebagai muslim, bahwa berdakwah tidak melulu dengan ekspresi penghakiman. Manusia hanya butuh rangsangan-rangsangan untuk mau beribadah dan bersyukur menjadi muslim.

Jangan malah ditakuti dengan tuduhan kesesatan, ancaman siksa akhirat, dan lain sebagainya. Karena seharusnya kita selalu sadari dan syukuri bahwa kita beruntung menjadi umat Nabi Muhammad. Dan beliau adalah rahmatan lil’alamin bukan hanya sebatas rahmatan lil’muslimin atau rahmatan lil’mukminin.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU

Tags: muslimsyukur