Categories: FolkorMakam

Sunan Pandanaran Tembayat

Share

Sunan Pandanaran memiliki nama lain Pangeran Mangkubumi, Susuhunan Tembayat, Sunan Pandanaran (kata-kata Pandanaran juga berasal dari bahasa Jawa Kawi yaitu Pandan arang, artinya kota Suci), Wahyu Widayat. Beliau hidup pada masa Kesultanan Demak dan Giri Kedathon (pada abad ke-16 M. Di era Kesultanan Demak tersebut, jabatan penasehat Sultan dipegang oleh Sunan Giri. Kemudian mendirikan kerajaan di daerah Giri Gresik dengan nama Giri Kedathon dan merupakan kerajaan bagian dari kesultanan Demak)

Terdapat paling tidak empat versi mengenai asal-usul Sunan Pandanaran,. Namun semua sepakat bahwa beliau adalah putra dari Ki Ageng Pandan Arang, bupati pertama Semarang. Sepeninggal Ki Ageng Pandan Arang, putranya, Pangeran Mangkubumi, menggantikannya sebagai bupati Semarang kedua. Alkisah, ia menjalankan pemerintahan dengan baik dan selalu patuh dengan ajaran–ajaran Islam seperti halnya mendiang ayahnya. Namun lama-kelamaan terjadi perubahan. Ia yang dulunya sangat baik itu menjadi semakin pudar. Tugas-tugas pemerintahan sering pula dilalaikan, begitu pula mengenai perawatan pondok-pondok pesantren dan tempat-tempat ibadah.

Baca Juga: Mbah Minggir Benowo

Berguru pada Sunan Kalijaga

Sultan Demak Bintara, yang mengetahui hal ini. Mengutus Sunan Kalijaga dari Kadilangu, Demak, untuk menyadarkannya. Semula Ki Ageng Pandanaran adalah orang yang selalu mendewakan harta keduniawian. Berkat bimbingan dan ajaran-ajaran Sunan Kalijaga, Ki Ageng Pandanaran bisa disadarkan dari sifatnya yang buruk itu. Akhirnya Ki Ageng Pandanaran berguru kepada Sunan Kalijaga yang menyamar sebagai penjual rumput. Sang bupati menyadari kelalaiannya. Memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatan duniawi dan menyerahkan kekuasaan Semarang kepada adiknya.

Sunan Kalijaga menyarankan Ki Ageng Pandanaran untuk berpindah ke selatan. Tanpa membawa harta, didampingi istrinya, melalui daerah yang sekarang dinamakan Salatiga, Boyolali, dan Wedi. Namun, diam-diam tanpa sepengetahuannya, sang istri membawa tongkat bambu yang di dalamnya dipenuhi permata. Dalam perjalanan mereka dihadang oleh kawanan perampok yang dipimpin oleh yang namanya sekarang disebut Syaikh Domba.

Maka terjadilah perkelahian dan untung saja pasangan suami istri ini berhasil mengatasinya. Akhirnya dia berubah menjadi sebuah makhluk dengan perawakan manusia tetapi berkepala domba. Setelah terjadi demikian, akhirnya dia menyadari dan menyesal dengan segala perbuatannya. Kemudian menyatakan diri sebagai pengikut Sunan Pandanaran yang kemudian dibawa oleh Sunan Pandanaran ke gurunya yaitu Sunan Kalijaga. Kepala dia berubah kembali menjadi kepala manusia seperti semula. Setelah itu Syekh Domba diberi tugas untuk mengisi tempat wudu pada padasan atau gentong pada masjid yang berada pada puncak bukit Jabalkat, Bayat.

Kehidupan di Tembayat

Ki Ageng Pandanaran berhasil sampai dan menetap di Tembayat, yang sekarang bernama Bayat, dan menyiarkan Islam dari sana kepada para pertapa dan pendeta di sekitarnya. Karena kesaktiannya ia mampu meyakinkan mereka untuk memeluk agama Islam. Oleh karena itu ia disebut sebagai Sunan Tembayat atau Sunan Bayat.

Di Tembayat Sunan mendirikan sebuah masjid di atas Gunung Jabalkat yang sekaligus difungsikan sebagai tempat pendidikan agama. Tempat itu akhirnya menjadi pesantren pertama atau sekolah asrama pertama di Jawa Tengah. Dekat makam Sunan Pandanaran ada masjid kuno bernama Masjid Golo. Meskipun sangat kuno dan menyimpan sejarah panjang, masjid ini masih difungsikan umat setempat. Takmir Masjid Golo adalah murid-murid Sunan Pandanaran yang diangkatnya selama perjalanan dari Semarang ke Bayat, Klaten. Salah satu muazin yang bertugas adalah Syeikh Domba.

Tujuan Sunan Pandanaran tak lain hanya untuk menyebarkan agama Islam. Namun usaha yang dilakukan Sunan tidaklah semudah itu. Setelah memilih jalan agama dan melakoni perjalanan yang penuh petualangan ternyata hambatan masih saja ada saat dia berada di Tembayat. Salah satunya adalah perlawanan dari para pemimpin mistis Jawa.

Selain cerita tentang kesaktian yang dimiliki Sunan untuk menghadapi perlawanan para pemimpin mistis Jawa beredar juga cerita tentang kebesaran yang lainnya. Dikisahkan adalah suara adan yang terlalu kuat dan keras yang didengar oleh salah satu Wali yang berada di Demak. Suara adan tadi ternyata adalah suara dari panggilan salat Sunan Pandanaran dari Tembayat, ratusan kilometer jaraknya. Tentu saja suara yang terlalu keras itu mengganggu masyarakat hingga kemudian salah seorang wali meminta Sunan untuk menurunkan suara azan yang dibuatnya. Menyaguhi permintaan Wali tadi, Sunan kemudian memindahkan masjid yang berada di puncak Jabalkat.

Pembangunan Tembayat

Kebesaran nama sunan sebagai seorang pemimpin agama tetap terjaga hingga dirinya meninggal setelah menjalankan syiar selama 25 tahun di Tembayat. Salah satu yang membuktikan kebesaran nama Sunan adalah Sultan Agung, pemimpin besar kerajaan Mataram, yang merubah makam Sunan hingga menjadi salah satu kompleks pemakaman termegah di Jawa. Bukti bahwa Sultan pernah berada di Tembayat ditemukan dalam catatan seorang pemimpin kolonial Belanda (1631 – 1634) yang menyebutkan bahwa penguasa Mataram pergi ke suatu tempat yang bernama Tembaijat untuk melakukan pengorbanan.

Baca Juga: KH. Muhammad Muslim Rifai Imampuro

Pembangunan akhirnya dilaksanakan dengan memilih secara teliti termasuk para pekerja bangunan. Para pekerja itu harus memiliki perilaku yang santun dengan rohani yang mendukung. Terpilihlah 300.000 orang sebagai pekerja kompleks pemakaman Sunan Bayat. Ratusan ribu pekerja tadi dikisahkan duduk berderet dari lokasi tambang batu hingga makam. Mereka duduk dengan posisi bersila dan dengan kedua tangannya mereka memindahkan satu per satu batu-batu dari tambang hingga ke makam. Kisah tentang apa yang dilakukan ratusan ribu pekerja ini kemudian memunculkan gambaran tentang besarnya pengorbanan yang dilakukan untuk membangun kompleks pemakaman Sunan. Dan dengan pengorbanan yang besar itu, kompleks pemakaman Sunan dianggap sebagai salah satu makam tercantik yang pernah ada di Jawa.

Dan seperti halnya kawasan sakral lainnya di Jawa, lokasi ini juga menggelar sebuah acara budaya yang sudah menjadi tradisi. Upacara Ruwatan atau Jodangan digelar oleh warga di sana setiap tanggal 27 pada hari Jumat Kliwon di bulan Ruwah. Upacara ini adalah upacara peringatan jasa besar Sunan Bayat yang digelar dengan rangkaian upacara bersih makam, mengganti kain penutup makam, selamatan, serta pertunjukan Reog.

Lokasi Makam Sunan Pandanaran

Makam beliau terletak di perbukitan Gunung Jabalkat (berasal dari kata Jabal Katt artinya Gunung yang tinggi dan jauh) di wilayah Kecamatan Bayat, Klaten, Jawa Tengah dan masih ramai diziarahi orang hingga sekarang. Lokasi kompleks pemakaman Sunan Bayat berada di Kecamatan Bayat, sekitar 20 menit dari Klaten kota atau sekitar satu jam lebih dari Yogyakarta atau Solo dengan menggunakan kendaraan bermotor.

(diambil dari berbagai sumber)

*Jika ingin berziarah ke makam KH. Muhammad Muslim Rifai Imampuro bisa menghubungi koordinator Seniaman NU Jawa Tengah atau Seniman NU Sub Regional Solo Raya


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU