Categories: FolkorMakam

Mas Jong Agus Ju

Share

Banten Girang merupakan salah satu situs bersejarah di provinsi Banten. Situs yang masih terlihat secara fisik pun hanya tersisa tiga; yaitu makam Ki Mas Jong dan Agus Ju yang dilindungi di dalam museum Banten Girang. Kemudian punden berundak yang menyambut di halaman depan ketika memasuki situs. Terakhir gua yang berada 100 meter dari situs.

Menurut juru kunci yang juga penduduk asli Banten, mengisahkan bahwa Ki Mas Jong dan Agus Ju merupakan patih Banten Sultan Syarif Hidayatullah. Arya Jumina atau sebutan lain dari Ki Mas Jong dan Agus Ju, ialah dua kakak beradik penduduk Banten Girang pertama yang memeluk Islam. Karena sebelum Banten berwujud sebagai suatu kesultanan, wilayah Banten Girang termasuk bagian dari kerajaan Sunda Pajajaran. Agama resmi kerajaan ketika saat itu adalah agama Hindu.

“Patih Banten Arya Jumina ini atau Ki Mas Jong dan Agus Ju adalah orang yang berjasa. Mereka selain membantu Syarif Hidayatullah, juga mengupayakan orang-orang yang ada di Banten Girang untuk memeluk Islam” jelasnya.

Baca Juga: Syaikh Bela Belu

Banten Girang juga terdapat sebuah gua yang di dalamnya terdapat tiga ruang kamar. Gua tersebut merupakan tempat Prabu Sang Ratu Jaya Dewata atau yang lebih dikenal Prabu Pucuk Umum bersemedi. Gua bawah tanah tersebut dapat dijangkau dengan berjalan kaki beberapa ratus meter dari makam Ki Mas Jong dan Agus Ju.

Kerajaan Banten Girang

Pendiri kerajaan ini ialah Prabu Jaya Bupati yang disebut juga Prabu Saka Domas. Prabu Jaya Bupati berasal dari keturunan kerajaan Mataram pada zaman Hindu, yang tidak mendapat kesempatan untuk mengabdi di kerajaan Mataram Kuno. Prabu Jaya Bupati mendirikan Sunda di Banten Girang pada tahun 932 sampai tahun 1016. Dengan luas wilayah kekuasaan meliputi Jawa Barat dengan perbatasannya Cipamali dan bahkan sampai wilayah Lampung. Pada saat itu disebut kerajaan Tatar Sunda, dengan keadaan yang subur makmur. Sehingga dapat menjalin hubungan dengan kerajaan di Jawa.

Pada tahun 1016 Prabu Jaya Bupati memindahkan pusat pemerintahannya ke daerah Cilaceh, Sukabumi. Karena khawatir akan adanya penyerbuan yang akan dilancarkan oleh kerajaan Sriwijaya terhadap kerajaan Tatar Sunda di Banten Girang. Mengingat usia Prabu Jaya Bupati yang sudah tua pada saat itu, ketika Prabu Jaya Bupati berada di pengungsian ia berhasil mendirikan kerajaan Surawisesa. Pada tahun 1357 kerajaan Surawisesa dipegang oleh Prabu Baduga Sir Maharaja, keraton Surawisesa disebut kerajaan Pajajaran. pada awal abad ke-16 yang berkuasa di Banten adalah Prabu Pucuk Umum dengan pusat pemerintahan kadipaten di Banten Girang (Banten hulu). Surosowan (Banten lor/ Banten pesisir) hanya berfungsi sebagai pelabuhan. Pelabuhan Sunda Kelapa dan Banten merupakan pelabuhan yang besar dan ramai dikunjungi pedagang-pedagang dalam dan luar negeri. Dari sanalah sebagian lada dan hasil negeri lainnya diekspor.

Setelah menguasai Malaka pada tahun 1511, bangsa Portugis memulai perdagangan dengan bangsa Sunda. Ketertarikan utama mereka adalah pada lada yang banyak terdapat di kedua sisi Selat Sunda. Bangsa Cina juga sangat berminat pada jenis rempah-rempah ini, dan kapal Jung mereka tela berlayar ke pelabuhan Sunda setiap tahunnya untuk membeli lada. Walaupun kerajaan Pajajaran masih berdiri, namun kekuasaannya mulai menyusut. Setelah kerajaan Galuh Pakuan (Pajajaran) dipindah ke Banten Girang bekas kerajaan Sunda tertua. Pada saat itu, Ajar Jong yang sebagai patih kejayaan Dewata agar adiknya yang bernama Ajar ju untuk diangkat menjadi tumenggung, karena melihat adiknya yang cukup lama mengabdi kepada rajanya Prabu Jaya Girang, yang dinamakan Pajajaran Banten dibantu oleh wakil patihnya yang bernama Ajar ju.

Pemindahan Kekuasaan

Pada suatu ketika terjadi konflik intern di dalam kerajaan, sehingga Ajar jong keluar dari kerajaan Pajajaran Banten, kemudian Ajar jong pergi mengabdi di kerajaan Islam Jawa Demak. Sehingga mengenal orang-orang penting di kerajaan Islam Demak, diantaranya Sultan Trenggono dan Syarif Hidayatullah untuk menguasai kerajaan Banten untuk menjadi penganut agama Islam pada tahun 1521. Karena melihat keberadaan perekonomian Sunda Banten yang kurang menguntungkan maka bersama Sabakingking (nama asli Sultan Maulana Hasanuddin) Mas Jong dengan Agus Jo merundingkan untuk memindahkan pusat pemerintahan Banten Girang ke Banten Pesisir. Hal ini dikarenakan keadaan ekonomi yang semakin sulit dan perdagangan yang terus merosot pada tahun 1532.

Pada 1 Muharam bertepatan pada tanggal 8 Oktober 1526 pusat pemerintahan Banten Girang dipindah ke Surosowan (Banten Pesisir) sekaligus penyerahan kekuasaan dari Syarif Hidayatullah ke Hasanuddin. Maka pada saat itulah Sabakingking mendapat julukan sebagai Sultan Banten dan mendapat gelar dari orang Arab sebagai Sultan Maulana Hasanuddin. Pada saat terjadi penyerangan Banten Girang diganti namanya oleh orang Belanda menjadi Tirtalaya.

Baca Juga: KH. Muhammad Muslim Imampuro

Banten Girang merupakan induk ibu kota pemerintahan pertama yang dirajai Prabu Jaya Bupati. Situs Banten Girang yang menjadi pusat kota kerajaan diduga terdapat hubungan dengan gunung Pulosari sebagai gunung yang sakral, kaitan keagamaan di Banten Girang dengan gunung Pulosari, yaitu ketika Sunan Gunung Jati dan Hasanuddin kemudian melanjutkan perjalanan hingga ke gunung Pulosari yang menjadi tujuan utama mereka. Menurut Sunan Gunung Jati, gunung merupakan wilayah Brahmana kendali, di atas gunung itu hidup 800 ajar-ajar (pendeta) yang dipimpin oleh Prabu Pucuk Umum.

Hasanuddin tinggal bersama mereka selama 10 tahun lebih. Ketika Hasanuddin mengislamkan para pendeta, maka pendeta hidup menetap di gunung Pulosari, sebab jika tempat itu kosong akan menjadi tanda berakhirnya tanah Jawa. Setelah kemenangan Hasanuddin yang tidak mau masuk Islam memberikan diri ke pegunungan selatan yang sampai sekarang dihuni oleh keturunan mereka yaitu orang Baduy. Kegiatan ini didukung oleh kebiasaan orang Baduy berziarah ke Banten Girang.

Berikut susunan nama raja-raja di Jawa Barat pada masa Hindu yang beraliran Waisnawa yang disebut Raja Pajajaran :
  1. Prabu Jaya Bupati (932 – 1029)
  2. Prabu Hyang Kencana (1057 – 1013)
  3. Prabu Hyang Dewa Niskala (1243 – 1312)
  4. Prabu Sri Baduga Maha Raja (1314 – 1357)
  5. Hyang Patih Buni Sora (1357 – 1471)
  6. Prabu Niskala Wastu Kencana (1471 – 1474)
  7. Prabu Banjaran Sari- Tabaan (1475 – 1482)
  8. Prabu Sang Ratu Jaya Dewata – Pucuk Umum (1482 – 1521)

*Jika ingin berziarah ke makam Masjong dan Agusju bisa menghubungi koordinator Seniman NU Regional Banten


Syahadat Annisa – Seniman NU Regional Banten