Categories: FolkorMakam

KH. Samanhudi

Share

Samanhudi atau sering disebut Kiai Haji Samanhudi (lahir di Laweyan, Surakarta 1868 dan meninggal di Klaten, Jawa Tengah, 28 Desember 1956). Nama kecilnya Sudarno Nadi. Beliau adalah pendiri Sarekat Dagang Islam, sebuah organisasi massa di Indonesia yang awalnya merupakan wadah bagi para pengusaha batik di Surakarta. Beliau seorang pengusaha batik dimana pada saat penjajahan turut membantu perjuangan bagi kemerdekaan Indonesia.

Sebagai pedagang batik, beliau menciptakan wadah bagi para pedagang baik pribumi maupun non pribumi (pedagang Tionghoa) yaitu dengan membentuk Sarekat Dagang Islam. Wadah ini dibentuk dengan tujuan untuk memajukan para pedagang di Surakarta yang notabene Islam dan Tionghoa. Kiai Haji Samanhudi adalah pejuang bagi perjalanan batik Indonesia. Dengan Sarekatnya yang memberikan wadah bagi para pedagang batik, maka batik dapat bertahan pada masa itu. Artinya dunia pedagang batik bisa memberikan sebagian keuntungannya bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Dengan adanya Sarekat ini juga, Kiai Haji Samanhudi juga menyatukan etnis antara pribumi dan Tionghoa sehingga bersatu padu membangkitkan semangat perjuangan bagi dunia usaha dan juga kemerdekaan bangsa Indonesia. Perjuangan luar biasa dari beliau menjadikan bangsa Indonesia memiliki kekayaan yang luar biasa untuk dapat mengangkat eksistensi bangsa di kancah dunia internasional.

Mencontoh Perjuang KH. Samanhudi

Sepatutnya kita generasi muda bisa mengikuti langkah yang dilakukan oleh KH. Samanhudi dengan memperjuangkan orang lain, bangsa, dan negara agar merdeka seutuhnya yaitu tetap bersatu tanpa memilah-milah antar etnis dan agama. Perjuangan tanpa henti dari sosok KH. Samanhudi terus menggema sampai sekarang di Surakarta, khususnya di daerah Laweyan yaitu adanya Kampung Batik. Di sana terlihat setiap rumah memberikan nuansa batik bervariasi, dari batik Solo konvensional sampai batik modern, dari yang ribuan sampai jutaan produk.

Kita lanjutkan perjuangan beliau, minimal berusaha menyatukan etnis dan agama yang ada di Indonesia dengan meminimalisasi adanya konflik kepentingan. Mencoba memperjuangkan keutuhan Indonesia dengan tidak membeda-bedakan antar umat beragama. Jika pun yang dua hal di atas tidak bisa dilakukan, kita bisa melakukan satu hal ini yaitu: bangga memakai batik di setiap kesempatan. Mari lanjutkan perjuangan Kiai Haji Samanhudi!

Baca Juga: Ki Ageng Galang Sewu

Profil KH. Samanhudi

Pondok Pesantren yang pernah ia menimba ilmu di dalamnya adalah:

Ponpes KM Sayuthy (Ciawigebang), Ponpes KH Abdur Rozak (Cipancur), Ponpes Sarajaya (Kab Cirebon), Ponpes (di Kab Tegal, Jateng), Ponpes Ciwaringin (Kab. Cirebon) dan Ponpes KH Zaenal Musthofa (Tasikmalaya)

Beliau sangat takdim terhadap guru-gurunya. Terlebih terhadap Asysyahid KH. Zainal Mushtofa (Pahlawan Nasional). Ia banyak bercerita tentang heroisme perjuangan gurunya ketika berjuang melawan penjajah Jepang hingga beliau gugur sebagai pahlawan kusuma bangsa di depan regu tembak serdadu Jepang ketika makbaroh gurunya ini telah dipindahkan ke Taman Pahlawan Sukamanah, Tasikmalaya.

Dalam dunia perdagangan, KH. Samanhudi merasakan perbedaan perlakuan oleh penguasa Hindia Belanda antara pedagang pribumi yang mayoritas beragama Islam dengan pedagang Tionghoa pada tahun 1905. Oleh sebab itu Samanhudi merasa pedagang pribumi harus mempunyai organisasi sendiri untuk membela kepentingan mereka. Pada tahun 1905, ia mendirikan Sarekat Dagang Islam untuk mewujudkan cita-citanya.

Beliau dikenal sangat aktif mencari ilmu, khususnya agama Islam. Tidak hanya sibuk belajar, KH. Samanhudi juga mengisi waktu luang dengan bekerja. Kedua aktivitas itu telah dilakoninya sejak tamat SD. Salah satu kegiatannya di luar menuntut ilmu adalah berdagang batik yang kemudian dipasarkan di Surabaya. Sejak aktif di dunia niaga, ia semakin larut di dalam dunianya tersebut. Jiwa dagang memang sudah ada di dalam dirinya sejak lama, sehingga ia bisa dengan mudah menarik hati masyarakat.

Mendirikan Sarekat Dagang Islam

Berkat pengalaman beliau dalam berdagang itulah kemudian didirikan organisasi Sarekat Dagang Islam. Di dalam organisasi tersebut, dirinya diberikan kepercayaan untuk menjabat sebagai ketua organisasi. Sempat ada perubahan nama, dari yang semula Sarekat Dagang Islam menjadi Sarekat Islam. Beberapa tahun kemudian, sejak 1920, ia mulai sakit-sakitan sehingga tidak bisa lagi berpartisipasi aktif seperti sebelum-sebelumnya. Meski geraknya terbatasi oleh sakit yang diderita, namun tidak dengan pikirannya. Berbagai ide cemerlang masih sempat ia ciptakan terutama yang ada kaitannya dengan Pergerakan Nasional.

Samanhudi wafat pada 28 Desember 1956 di Klaten. Untuk mengenang jasa-jasanya terhadap Tanah Air, ia dimasukkan dalam daftar Pahlawan Pergerakan Nasional. Ini disahkan menurut Surat Keputusan Presiden RI No 590 Tahun 1961. Beliau dimakamkan di Banaran, Grogol, Sukoharjo. Lokasi tepatnya di dekat kompleks kampung batik Laweyan.

*Jika ingin berziarah ke Makam mbah KH. Samanhudi bisa menghubungi koordinator Seniman NU Jawa Tengah atau sub Solo Raya


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU