Categories: LiputanSimponi

Lembar Maiyah: Halaman 4

Share

Malam itu, 17 Agustus 2019, bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia, saya berkunjung ikut siraman pengetahuan di acara Mocopat Syafaat, Bantul. Pikirku, bertema kemerdekaan. Bukan! Seolah seperti Mocopat sebelumnya, pelajaran sesuai “silabus” semula yang disepakati.

Miyah oh maiyah. Andai sepanjang hari bisa mengikuti petuah-petuah mbah Nun, betapa damai jiwa ini. Ketika melihat seorang pasutri menggendong anaknya dan ditidurkan di alas plastik lima ribuan, muda-mudi yang terkekeh di warung pecel, dan seluruh pemuda yang larut dalam diksi-diksi membius pria bernama Muhammad Ainun Najib. Sederhana dan membuat betah siapapun yang terlanjur hadir. Sampai duduk bersila lebih dari 6 jam tanpa merasa kesemutan atau kelelahan.

Malam itu, mbah Nun membahas tentang manusia nilai, manusia pasar, dan manusia istana. Sebuah konsep yang sebelumnya sempat dibedah di Kenduri Cinta. Kemudian dengan seksama kembali dikemas ulang di Mocopat Syafaat.

Manusia nilai

adalah manusia yang sama sekali tidak khawatir dengan kehidupannya di dunia. Apapun profesinya, manusia nilai akan maksimal menjalani takdirnya tanpa mempedulikan berapa banyak uang yang akan ia dapatkan. Seorang guru pada hakikatnya adalah manusia nilai. Perjuangannya di dunia pendidikan untuk mentranformasikan ilmu kepada para muridnya adalah perjuangan nilai. Pendidikan adalah salah satu wilayah yang tidak boleh dikapitalisasi. Seperti halnya agama, kebudayaan dan kesehatan. Orang-orang yang menjadi garda depan dari empat wilayah tersebut adalah manusia nilai.

Manusia pasar

adalah manusia yang pijakannya adalah transaksi. Layaknya orang berdagang di pasar, ia menawarkan barang untuk dijual kemudian pembeli akan membeli sesuai dengan harga yang disepakati. Pada skala yang lebih besar, seorang pengusaha akan mampu menghasilkan keuntungan yang besar dari barang atau jasa yang ia tawarkan. Manusia pasar orientasi hidupnya adalah laba sebanyak-banyaknya agar menghindari kerugian dalam berdagang.

Manusia istana

adalah manusia kekuasaan. Menjadi Presiden, Gubernur, Menteri, Direktur dan sederet posisi jabatan lainnya di sebuah Negara, organisasi, perusahaan, atau apapun yang sifatnya struktural adalah manusia istana. Dengan menjadi manusia istana, ia memiliki hak untuk berkuasa. Dengan kekuasannya, manusia istana mampu mengendalikan perubahan pada sebuah peradaban yang sedang berlangsung.

Baca Juga: Lembar Maiyah – Halaman 1

Kehangatan semakin dirasakan ketika mengundang 3 kelompok yang mempunyai potensi menjadi manusia nilai, pasar dan istana. Mereka yang berasal dari mahasiswa, pedagang, dan penggiat atau aktivis sosial. Beragam sudut pandang memaknai konsep tersebut semakin menambah kemesraan di antara para jamaah yang hadir. Ketiga kelompok berkisah tentang kejadian yang pernah mereka alami, kemudian mendefinisikan seberapa besar kehidupannya dipengaruhi oleh konsep di atas.

Setiap manusia mempunyai pondasi diri untuk merdeka dalam menentukan pilihan. Entah menjadi manusia nilai, manusia pasar, atau manusia istana. Yang jelas, kita sudah diberikan contoh oleh Nabi Muhammad tentang bagaimana manusia menjalani proses kehidupan. Ketika kecil beliau tumbuh menjadi pribadi yang jujur dan amanah. Menjadi cerminan manusia nilai yang begitu pasrah kepada ketentuan Allah.

Kemudian ketika remaja, beliau mulai belajar berdagang. Nabi Muhammad mempunyai kesempatan menjadi manusia pasar meskipun beliau tetap istikamah menjadi manusia nilai. Sehingga dalam profesinya sebagai pedagang beliau tidak berfokus untuk mencari keuntungan, melainkan bisa berguna bagi masyarakat dan yang lainnya. Sehingga Cak Nun sangat menentang teori ekonomi dari Adam Smith, “Dengan pengorbanan (modal) yang sekecil-kecilnya untuk memperoleh hasil (keuntungan) yang sebesar-besarnya”. Kapitalisme yang kontradiski dengan kehidupan beragama dan bermasyarakat.

Ketika Allah memberi risalah kepada Nabi Muhammad, beliau kembali mendapatkan kesempatan menjadi manusia istana. Dengan kekuasaan, jabatan, dan identitas yang disandangnya. Namun, sekali lagi, beliau tetap seperti semula – menjadi manusia nilai. Sederhana dan tidak dikaburkan oleh bingar-bingar tawaran konsep duniawi.

Banyak dari kita yang terjebak pada tawaran-tawaran pilihan manusia pasar dan istana. Melupakan kehidupan sejati dari manusia nilai. Ketika manusia diberikan kesempatan menjadi manusia pasar, mereka begitu beringas dan menindas saudara yang membutuhkan. Menjadi pribadi individualis untuk mengeruk kekayaan pribadi. Apalagi dengan iming-iming menjadi manusia istana. Bagaimana dengan jabatan, seseorang bisa begitu gampangnya menentukan pilihan hidupnya.

Maiyah kembali menyadarkan manusia untuk duduk melingkar dan merenungi betapa kerdilnya pengharapan manusia kepada tawaran-tawaran yang membuatnya terlena kepada Allah. Menjadi pribadi yang bersih dan peka kepada lingkungan sekitar, sehingga tidak serakah untuk kepuasan dirinya sendiri.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU