Categories: FolkorMakam

Ki Ageng Galang Sewu

Share

Bagi masyarakat Semarang tentu sudah akrab dengan nama Ki Ageng Galang Sewu, apalagi bagi mahasiswa Universitas Diponergoro Semarang. Selain nama masyhur di masyarakat, Ki Ageng Galang Sewu juga lekat dengan pondok pesantrennya yang dirintis oleh KH. M. Sam’ani Khoiruddin, S.Ag. tanggal 16 Agustus 1999 yang lalu. Letaknya yang berada di kawasan kampus Universitas Diponegoro menjadikan Ponpes Kiai Galang Sewu menjadi pilihan tepat bagi mahasiswa yang ingin menuntut ilmu sembari memperdalam ilmu agama.

Ki Ageng Galang Sewu dikenal oleh warga sekitar dengan sebutan Kiai Galang Sewu. Beliau lahir sekitar tahun 1790-an. Berasal dari keluarga Bustaman Semarang, yaitu cucu dari Kiai Bustaman. Kiai Bustaman sendiri mempunyai keturunan sekitar 11 orang di antaranya adalah Kiai Ngabei Surodirdjo. Kemudian Kiai Ngabei Surodirdjo berputra sekitar 11 orang. Di antaranya yang pertama adalah Kiai Adipati Surohadimenggolo (Pangeran Terboyo), dan urutan kesepuluh adalah RM. Suryo Kusumo atau Kiai Galang Sewu serta kakak beliau bernama RM. Yuda Widarmo (R. Sukar).

Para Sesepuh kampung tembalang mengisahkan bahwa, Kiai Galang Sewu adalah termasuk panglima perang Pangeran Diponegoro untuk wilayah semarang dan sekitarnya. Saat terjadi peperangan di Jatingaleh Semarang yang meluas sampai ungaran beliau dibantu oleh Kiai Galang Sewu dan keluarganya. Termasuk kakak Kiai Galang Sewu yang bernama R. Sukar. Sehingga ketika Pangeran Diponegoro di asingkan ke Makasar Sulawesi maka R. Sukar pun ikut ke pengasingan bersama rombongan.

Berdakwah di Tembalang

Kiai Galang Sewu sendiri berjuang dan menyebarkan agama Islam di wilayah Tembalang dan sekitarnya sehingga meninggal dan dimakamkan di area pemakaman samping gedung Prof. Soedarto SH ditengah Kampus Universitas Diponegoro. Pernah suatu cerita saat penjajahan belanda ketika pesawat belanda melewati di atas makam beliau, maka pesawat tersebut hilang kendali dan terjatuh.

Cerita lain para sesepuh tentang sosok Kiai Galang Sewu yang cukup fenomenal adalah tentang perkataan beliau bahwa nanti suatu saat di atas tanah ini akan bermunculan banyak sekali jamur-jamur. Perkataan beliau belum bisa dimengerti saat itu. Tapi sekitar tahun 1980-an dibangunlah kampus bernama Politeknik Undip di atas tanah yang dulu didiami oleh Kiai Galang Sewu.

Baca Juga: Mbah Sholeh Ampel

Berangsur angsur setelah Politeknik Undip (Polines) berdiri maka kampus Universitas Diponegoro Semarang pindah naik ke Tembalang Semarang di sekitar komplek Makam Kiai Galang Sewu. Muncul kembali Universitas Pandanaran dan Politeknik Kesehatan (Politekes) Semarang. Sehingga di area sekitar kampus dibangun apartemen serta kos kosan dan ruko-ruko juga sektor ekonomi lainya mulai bermunculan. Ternyata itu adalah arti dari perkataan Kiai Galang Sewu adalah tersebut.

Makam Ki Ageng Galang Sewu sering dikunjungi para peziarah, khususnya mahasiswa Undip. Menurut beberapa literasi, baliau adalah salah satu keponakan dari Pangeran Diponegoro. Juga berjasa dalam pemberian nama daerah Tembalang bersama Ki Ageng Pandanaran. Beberapa kali pondok pesantren mengadakan haul Ki Ageng Galang Sewu yang diperingati bersama Pangeran Diponegoro. Termasuk yang terakhir dengan konsep acara kirab yang dimulai dari stadion Universitas Diponegoro.

Lokasi Makam Ki Ageng Galang Sewu

Tempat makam yang begitu tenang membuat para peziarah bisa dengan khusuk bermunajah. Menjadi salah satu daftar kunjungan wisata rohani bagi peziarah di luar kota. Lokasi makam berbeda dengan pondok pesantren Ki Galang Sewu yang berada di belakang kampus Undip. Sedangkan makam Ki Galang Sewu berada di dalam kampus Undip Tembalang. Tepatnya sebelah Gedung Soedarto Universitas Diponegoro atau dekat kandang rusa Undip.

*Jika ingin berziarah ke makam Ki Ageng Galang Sewu bisa menghubungi koordinator Seniman NU Jawa Tengah atau Sub Regional Semarang


Maulida Goldy Firdausi – Seniman NU Regional Semarang