Categories: opiniSimponi

Sang Korektor

Share

Dulu waktu kecil ingin sekali bercita-cita menjadi seorang guru. Bukan karena tugas mulianya sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, tapi karena aktivitasnya yang duduk santai sambil mengoreksi tugas dari muridnya. Iya, menjadi korektor itu sangat menyenangkan. Bagi guru, dengan tugas mengoreksi itu bisa mengesankan diri bahwa beliau adalah sumber kebenaran. Seperti pepatah Jawa, bahwa guru itu digugu lan ditiru.

Korektor. Semacam kepuasan tersendiri. Naluri bahwa menyalahkan itu kodrat yang jarang disadari. Sepandang mata, semuanya mempunyai standar di bawah kita. Mengoreksi watak, kebiasaan, hingga hal kecil seperti cara berpakaian. Berlomba menjadi “guru” dan “dosen” dengan menganggap yang lain adalah mahasiswa, sehingga layak untuk dikoreksi.

Dulu, teknik mengoreksi orang lain dengan cara ghibah. Seiring perkembangan teknologi dan informasi, konsep mengoreksi menjadi lebih menyeluruh. Kebanggaan-kebanggaan yang dulunya dilakukan dengan ghibah, sekarang bisa dengan mudahnya dikabarkan kepada semua orang. Lucunya, mereka malah senang dan berharap koreksinya ini disaksikan oleh semua makhluk hidup.

Baca Juga: Cintailah Wahabi

Bukankah koreksi bagian dari kritik untuk menjadi lebih baik?

Harusnya iya! Tapi kadang kita lupa etika memberi kritik atau malah kita tidak tahu apa itu kritik. Sehingga yang dilihat adalah saling adu argumen untuk menyalahkan yang lain. Bukan lagi untuk menyadarkan, tapi untuk menjatuhkan dan mempermalukan. Bagi manusia yang suka dikritik seperti saya, tentu bukan menjadi sebuah masalah. Berbeda jika kritik dialamatkan kepada mereka yang anti-kritik. Apalagi menggunakan diksi yang terkesan mengolok, walhasil metode yang sama dilakukan untuk saling menjatuhkan dalam arena pertempuran yang sifatnya abu-abu.

Koreksi adalah sebuah prosesi pemaksaan kehendak membenarkan sesuatu berdasarkan sudut pandang sang korektor. Sudut pandang ini muncul dan melekat pada diri seseorang karena beberapa faktor, termasuk keyakinan dan kepercayaan. Jadi bagi manusia kaku yang begitu kuat mempertahankan argumennya akan menjadi percuma untuk dikoreksi ataupun dikritik.

Menjadi lebih runyam apabila sang korektor ini belum mempunyai kapasitas mengoreksi tapi mereka menganggap diri sudah pantas untuk mengoreksi. Lebih ekstrim lagi, jika mereka malah mengoreksi orang yang sebetulnya sudah pantas menjadi korektor. Dalam fase ini, kritik tidak lagi membuka mindset tentang sebuah kebenaran. Asalkan lawan tumbang, akan ada kepuasan yang luar biasa dalam dirinya. Masabodoh dengan toleransi, tata krama, atau apalah itu namanya.

NU dan Sang Korektor

Bagi yang membaca sekilas pengantar awal, mungkin akan menafsirkan bahwa NU menjadi sumber untuk dikoreksi oleh yang lain. Namun kali ini saya akan membahas dalam satu entitas NU dan sang korektor.

Hampir rerata artikel opini selalu berupaya membendung aliran yang sekiranya bersebrangan dengan amalan nahdliyin. Apalagi bagi generasi ambisius seusia saya (20-30 tahun). Usia-usia yang belum menep ati dalam menghadapi segala apapun. Gairah seperti ini secara spontan muncul untuk kembali melawan mereka yang melawan kita.

Porak poranda! Akhirnya saling tuduh pun berhamburan di media sosial. Entah siapa yang keras kepala tidak mau dikoreksi atau sebenarnya siapa yang hobi mengoreksi. Bagi mereka yang begitu luas ilmu dan kebijaksanaan, tentu akan senyam-senyum sendiri ketika dikoreksi oleh mereka yang sempit ilmu. Namun menjadi kebalikan jika kedua belah pihak sama-sama sempit ilmu. Bukan lagi mengoreksi sebuah ilmu, tapi saling hujat dan misuhi yang terlihat.

Kita selalu menyempatkan waktu untuk mengoreksi yang lain, tapi seringkali kita lupa mengoreksi diri sendiri. Duduk bersila di masjid, berzikir dan meneteskan air mata karena sikap ego kita yang ingin menunjukan kedigdayaan dan kemenangan berdasrkan asumsi-asumsi kesempitan ilmu.

Baca Juga: Islam, Katanya

Dalam sebuah grup ada sebuah postingan hadis tentang larangan kunut. Setelahnya ada yang komentar meminta kebenaran akan hadis tersebut. Percakapan menjadi menarik ketika yang posting mengejek bahkan menghina yang bertanya, agar lebih banyak lagi belajar agama. Kemudian sang penanya emosi dan mengajak debat ilmiah sama yang posting. Dengan emoticon terkekeh ia membalas kutipan bijak namun satir,

“Dilarang berdebat dengan orang tak berilmu”.

Sayangnya saya lupa hadis yang dikutip dengan mencantumkan Sahih Buhari Muslim beserta bab dan halamannya dalam poster tersebut. Tapi waktu membaca hadis tersebut langsung saya tanyakan kepada teman saya yang kebetulan fokus dalam bidang hadis. Bukan hanya itu, saya pun membuka google dengan beberapa halaman untuk mecari hadis tersebut. Hasilnya? Nihil! Memalsukan hadis untuk kepuasan sendiri tanpa mau untuk dikoreksi. Seolah dalam batin saya, “Orang bodoh kok mengatakan bodoh kepada orang yang tidak bodoh”.

Di lain sisi, saya pun turut mengkritisi NU sebagai organisasi yang penuh toleransi. Betapa menakutkannya jika ternyata ada pula oknum nahdliyin yang berlaku radikal, intoleran, keras kepala, dan hobi mengoreksi. Lagi-lagi hanya untuk mencari kemenangan. Marah wajar ketika ada yang “menyentil” NU, namun menjadi aneh bila nahdliyin malah melakukan hal yang sama meskipun tidak sentil, yakni “menyentil” orang di luar NU. Jadi bukan lagi bergelimangnya ilmu atas dasar Islam yang rahmatan lil’alamin, namun menjadi agama yang penuh perdebatan, konflik, dan caci maki.

Bahkan perlu diakui bahwa NU sangat santai dengan non-muslim, tapi begitu garang dengan sesama muslim. Sama-sama menjadi korektor! Perlukah kita kembali mendalami konsep NU? Bukankah semuanya adalah saudara kita? Semoga kita bisa menjadi lebih legowo dalam menyikapi sebuah perbedaan, karena yang sejatinya harus kita lawan adalah hawa nafsu kita – hawa nafsu ingin mengoreksi/ menyalahkan yang lain.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU