Categories: opiniSimponi

Gegabah Menilai Sesuatu

Share

Seminggu ini saya disibukan dengan pertanyaan mengenai tanggapan Reuni 212 di Monas dan sekitarnya. Dari mereka yang pro sampai yang kontra. Dari yang liberal sampai yang radikal. Radikal?

Entah mengapa isu radikalisme begitu menggelora di masyarakat Indonesia saat ini, dimulai dari pernyataan Kemenag yang baru, diskusi kemendagri, sampai perpanjangan ijin FPI. Semua mulai menyerempet tentang sebuah seruan “perangi radikalisme”. Ya mesti harus diakui bahwa penyebutan istilah radikalisme selalu melekat pada agama Islam. Padahal saya juga sering bahas tentang konsep radikalisme di beberapa tulisan sebelumnya. Jadi bagi yang ketinggalan bisa dikepo kembali.

Saya akan mulai membahas hal mendasar dulu tentang kita. Semoga dengan diksi kita bisa lebih menggambarkan tentang hakekat manusia dalam berkehidupan, termasuk saya. Tulisan ini juga harapannya bisa menjadi sebuah pemahaman yang fundamental dalam beragama dan berkemanusiaan.

Saya coba menganalogikan seperti ini :

Ada sekawanan semut merah merayap di dinding dan berjalan beriringan. Dari ratusan hingga ribuan semut merah tersebut ada 1 semut hitam yang terlihat mencolok di antara mereka semua. Lantas dengan hebohnya kita mendiskusikan tentang sosok semut hitam tersebut. Mencibirnya, mencacinya, dan lebih parahnya dijadikan sampel atas kesimpulan karakter dan perwatakan semua semut yang padahal warnanya merah.

Seperti halnya ketika saya pernah menemui sebuah meme dan video yang menjawab sembilan soal secara benar, kemudian ada satu soal yang dengan sengaja dijawab salah. Seketika semua orang menyoraki dan menyebutnya bodoh karena menjawab salah pertanyaan yang sebetulnya sepele.

Pesannya adalah bahwa kita seringkali melihat dengan mudahnya kesalahan orang lain tanpa sedikitpun mengapresiasi keberhasilan atau kebaikan orang lain. Entah sejak kapan naluri manusia seperti ini muncul, yang jelas banyak di antara kita mulai hobi untuk meledek, menghina, melucuti, mereka yang kita anggap salah atau berbeda dengan kita.

Baca Juga : Overdosis Agama

Mereka yang Berbeda

Saya pun masih berusaha untuk tidak membenci kepada mereka yang berbeda paham dengan kita. Apalagi memukul rata semua yang berbeda dengan satu atau orang sebagai pelakunya. Misalkan kita melihat teroris menggunakan celana cinkrang dan wanitanya bercadar. Bukan lantas menyimpulkan semua dari mereka yang cingkrang dan bercadar adalah teroris atau terpapar radikalisme.

Termasuk kasus 212, meskipun ada yang secara nyata mendeklarasikan anti-pancasila dari salah satu penggagas 212, juga jangan lantas menyimpulkan mereka semua yang hadir di acara alumni 212 disebutnya radikal, merongrong NKRI, dan pejuang khilafah. Mungkin ada, tapi juga tidak semua. Jangan pula menyalahkan mereka yang kita anggap radikal sebagai musuh hanya karena kurangnya wawasan kita terhadap pemahaman dan keyakinannya dalam beragama. Semua serba ribet dan penuh kerancuan jika tidak ada keterbukaan pengetahuan dan pemahaman satu sama lain. Isinya hanya semata praduga-praduga. Jika ada di antara kita yang salah, mari kita benarkan. Bukan malah disalah-salahkan.

Apa memang sudah kodrat manusia sebagai makhluk yang suka menyalahkan?!

Mari belajar bepikiran positif. Bahwasanya mereka yang mengadakan reuni alumni 212 dengan niat berdoa untuk keselamatan Indonesia. Bekumpul dan berzikir bersama. Berselawat kepada Nabi dan menjaga ukhuwah sesama muslim. Kalau selalu curiga-mencurigai, apa yang diharapkan dari Agama yang katanya cinta damai ini?!

Baru saja saya ditag salah seorang teman di sebuah postingan yang menceritakan sebuah diskusi dengan Permadi Arya (Abu Janda). Entah bermaksud mengejek atau bagaimana bahwa seolah banser semuanya seperti Abu Janda. Lebih parahnya – bahwa Abu Janda adalah perwujudan Nahdlatul Ulama. Sehingga jika ada diskusi menarik tentang khilafah yang kemudian dibawa sebagai senjata menyerang NU adalah Abu Janda. Demikianlah kita, yang suka mendiskusikan semut hitam daripada ribuan semut merah yang berjajar rapi.

Itu masih mending, mengambil sampel dari kehadiran tokoh. Lebih memuakan lagi adalah menghukumi atau menyalahkan mereka yang berbeda dari potongan pernyataan (video). Apa iya mungkin dari ribuan manusia yang bernaung dalam sebuah organisasi harus dituntut sama persis pemikiranannya satu sama lain? Atau kita sendiri yang tak sempat berpikir luas karena sibuk membenci dan sesegera ingin menghancurkan lawan?!

Saya memang bukan tokoh yang memliki ribuan atau jutaan jamaah yang dengan gampang mengajak untuk menuju satu jalan yang saya anggap benar dan baik. Tapi saya selalu berdoa, semoga kita (manusia) bisa selalu sadar dan mengingat kesalahan diri sendiri sebelum giat menyalahkan orang lain. Menjadi baik itu memang susah, sesusah melihat kebaikan orang lain.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU