Categories: opiniSimponi

Konsekuensi Taklid Buta

Share

Dalam kajian fikih, taklid berarti mengikuti pandangan atau pendapat seorang mujtahid dalam hukum syariat Islam. Bahasa sederhananya adalah bentuk cinta dan percaya kepada seorang tokoh tertentu. Di lingkungan pondok pesantren, banyak santri atau masyarakat menggantungkan pendapatnya kepada kiai atau tokoh ulama dalam menentukan keputusan hukum ibadah. Kemudian berpengaruh terhadap konvensi sosial yang diamini oleh kelompok masyarakat tertentu.

Pembangunan citra ketokohan tentu tidak bisa dimiliki semua orang. Beberapa di antaranya butuh proses panjang agar tokoh tersebut diakui tingkat kealimannya, bukan hanya tentang soal caranya berbicara (ceramah), tetapi juga soal ijtihad dan perilaku di dalam masyarakat itu sendiri. Sehingga gelar ustaz, kiai, atau ulama secara naluriah melekat pada orang tersebut.

Menariknya, dalam belantika media sosial yang mudah diakses semua kalangan, gelar ustaz atau kiai begitu mudah didapatkan. Akun media sosial yang menggunakan label ustaz atau kiai pun begitu gampang ditemui di pencarian media daring. Pengakuan akan keulamaan dirinya tidak didapatkan atas kesepakatan komunal masyarakat, melainkan dari caranya memanipulasi diri agar pantas mendapatkan julukan ustaz atau kiai.

Seorang yang jauh dari pandangan umum sosial kemasyarakatan, tanpa diketahui silsilah ilmu pendidikan agama dan perilakunya sehari-hari bisa mengklaim diri sebagai tokoh ulama. Eksistensi tersebut tidak bisa dihindarkan dari mudahnya akses media sosial yang bisa digunakan siapapun, kapanpun,dan di manapun.

Ketidaktahuan akan kepribadian tokoh yang mengklaim diri ulama bisa menjadi problem dalam ijtihad-nya seseorang. Ditambah dengan dukungan seseorang yang taklid buta karena faktor politik tertentu. Secara tidak langsung pelabelan ustaz atau kiai terbentuk hanya karena kesepakatan pandangan politik yang selanjutnya mengarah kepada hal-hal yang dijadikan rujukan hukum agama. Pencitraan tersebut akan semakin memperkeruh tatanan sosial yang tidak menghiraukan aspek lain dari kelayakan seseorang disebut ustaz atau kiai. Konsekuensinya adalah plin-plan-nya pengambilan hukum syara’ dan amaliah yang tidak merujuk kepada kitab atau ulama konvensional.

Baca Juga: Taqlidku Karena Cintaku

Taklid Buta

Tidak dapat dipungkiri bahwa mayoritas pengetahuan dan wawasan yang kita miliki bersandar pada ketaklidan diri kepada orang lain. Misalkan kepada 4 madzab, ulama hadis, guru/ ulama, orang tua, bahkan kepada teman yang sudah terlanjur kita percayai. Membaca teks berdasarkan pikiran atau pandangan orang lain yang dijadikan landasan kita menentukan sikap atau perilaku. Sakit taklid kepada dokter, keadilan taklid kepada hakim, pengetahuan taklid kepada guru/ dosen, dan masih banyak lagi.

Standar taklid tentu beda antara satu dengan yang lain. Fokus bidang taklid pun juga tidak sama. Pada dasarnya tetap sama, bahwa menghilangkan bayangan taklid itu susah. Misalkan kita sadari, dari mayoritas pengetahuan kita juga bersumber karena ketaklidan kepada tokoh, organisasi, atau aliran tertentu. Kemudian menggiring persepsi kebenaran berdasarkan ketaklidan yang kita yakini.

Meskipun taklid selalu menjadi bagian hidup kita, namun ada jenis taklid buta yang mngkin akan berbahaya bagi pengambilan keputusan seseorang. Taklid buta yaitu menyadarkan pilihan akan sebuah keputusan kepada seseorang yang kita tidak mengenal sedikit pun tentang kepribadiannya. Kita hanya mengikuti berdasarkan opini yang lantas kita percayai.

Peleburan Kasta

Dahulu Walisanga begitu kencangnya mengubah sistem kasta yang melekat di kalangan masyarakat. Tentang istilah gusti dan kawula, tuan dan sahaya, dan lain sebagainya. Sekat antara kerajaan/ kraton dan masyarakat mencoba dileburkan dengan istilah rakyat atau masyarakat. Artinya semua punya hak untuk menentukan keputusan terhadap sebuah kebijakan. Kemudian menjadi dasar negara bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat, bukan penguasa atau tokoh tertentu.

Peleburan secara adat kemasyarakatan adalah dengan penggunaan istilah “aku” sebagai kata ganti orang pertama tunggal. Sehingga meleburkan istilah saya (sahaya), abdi, kula (kawula), ambo, dan lainnya. Tujuannya agar semua punya hak untuk tidak bersikap taklid kepada siapapun yang tidak jelas sanad dan nasabnya di masyarakat.

Hal tersebut juga berlaku terhadap habaib sebagai keturunan Nabi Muhammad Saw, atau Raden dari keturunan kraton. Seperti penjelasan dari KH. Ahmad Musthofa Bisri, “Habib itu adalah orang yang mencintai dan dicintai semua orang”. Bentuk penjabaran yang menjelaskan bahwa melekatnya nasab habib diperoleh dari bagaimana cara orang tersebut berbicara dan berperilaku. Sehingga tetap relevan dengan ajaran Islam yang mengedepankan akhlak dan ilmu dalam beragama.

Mencintai seseorang atau tokoh tertentu adalah hak semua orang. Tapi memaksakan orang lain untuk mencintai orang tertentu adalah bentuk ketidaksopanan terhadap pilihan orang lain. Mencintai sesorang juga bukan berarti membutakan segala bentuk kebenaran nurani yang dimiliki semua orang. Dampak dari cinta buta adalah membenarkan yang salah dan mungkin menyalahkan yang benar. Sedangkan agama dihadirkan untuk mencari kebenaran yang haq.

Untuk menemukan kebenaran tentu dibutuhkan banyak informasi dan pengetahuan, mencari berbagai sudut pandang untuk menentukan kebijaksanaan diri. Sehingga dalam menilai sesuatu bisa bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Tidak egois untuk memaksakan orang lain bertaklid kepada tokoh tertentu yang konsekuensinya mengaburkan hukum dan kebenaran.

Baca Juga: Fikih dalam Perspektif Pembaruan Hukum di Indonesia

Sama di Mata Hukum

Selayaknya demokrasi harus berdampingan dengan nomokrasi agar kebebasan bisa dibatasi. Tujuannya agar tidak terjadi kekacauan dalam menyampaikan pendapat dan memaksakan kehendak. Politisi, aparat hukum, ulama, hingga masyarakat harus mengikuti arahan hukum dan aturan negara atau adat masyarakat. Tidak boleh ada tokoh yang kebal hukum. Dalam penentuannya harus diputuskan oleh hakim yang adil agar keadilan tercipta di suatu negara.

Meskipun ada yang lebih tinggi dari hukum itu sendiri, yakni keadilan. Adil berarti memberikan hal yang sama kepada setiap orang, sedangkan keadilan adalah memberikan yang sama kepada setiap orang dalam setiap situasi dan kondisi. Sehingga keputusan hakim harus berdasarkan kacamata kebijaksanaan agar tidak miss persepsi tentang makna keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Taklid bukan hanya tentang pengaruh ketokohan tertentu, lebih general lagi, taklid tidak bisa diletakkan pada sikap dukungan dan kritikan terhadap segala perilaku dan kebijakan tokoh atau instansi. Semua orang bisa bertaklid kepada siapapun dan apapun, tapi dalam diri setiap manusia mempunyai idealis menentukan kepada siapa mereka akan ber-taklid. Konsekuensi taklid tersebut juga harus bisa dipertanggungjawabkan agar tidak mengganggu sistem atau nilai yang terlanjur disepakati oleh masyarakat.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU

Tags: kastataklid