Categories: kolase

Kolong Meja

Share

Mereka menyebutnya kolong meja. Sejenis rongga di bawah meja sebagai tempat rahasia dan tersembunyi dari segala hal tentang kasat mata. Menyembunyikan aib, menyembunyikan kesombongan, dan menyembunyikan sesuatu yang seharusnya dibuka kepada dunia.

“Sedang apa?”, hardik Namines
“Bersembunyi”
“Dari?”
“Tuhan”

Pemuda di hadapan Namines itu terlihat gelagapan. Matanya nanar, hidungnya kembang kempis, dan dahinya mengernyit. Keringatnya mulai berjatuhan dengan nafas yang terengah. Namines membalas senyum dan memegangi gagang meja itu.

“Sampai kapan begini? Bukankah Tuhan ada itu di mana-mana? Termasuk di kolong meja? Bahkan kemanapun kamu pergi, kamu tidak akan pernah menghilang. Sebab sejatinya kita tidak ada.”
“Maksudmu?”
“Adanya kita karena adanya Tuhan. Jika Tuhan tidak berkehendak, maka kita tidak ada. Jangan terlalu kita mengada-adakan diri, sebab yang kita sangka ada, sejatinya tidak ada.”
“Hubungannya dengan kolong meja?”
“Penyebutan dan istilahmu itu ada karena sesuatu yang terikat. Jika tidak ada meja, yang kamu tempati saat ini adalah kehampaan. Hanya karena ada meja lantas kita menyepakati bahwa itu adalah kolong meja.”

Pemuda itu menunduk. Memeluk kaki meja dan meratapi segala nestapa hidupnya. Dia tidak akan pernah hilang, tidak akan pernah pergi, tidak akan pernah lari. Sejauh logika mengelak, Tuhan akan selalu ada untuk menjadi alarm perjalanan hidup manusia.

***

Dalam imajanasi.

“Sudah bosan?” tanya malaikat.

Namines mengangguk ragu. Bagaimana tidak bosan, Surga yang kerap dikiaskan sudah begitu melimpah di dunia. Pohon rindang, air susu, sungai yang mengalir merdu, keramahan penghuninya, BOSAN!

“Sampai kapan di sini?”
“Selamanya?”
“Kalau bosan?”
“Tidak boleh”

Selamanya? Tidak boleh bosan? Bukankah keindahan menjadi manusia untuk patut disyukuri adalah karena adanya masalah yang kemudian terselesaikan?! Kenikmatan hidup yang katanya seperti roda itulah yang tidak bisa didapatkan kembali. Mereka berusaha untuk selalu terhindar dari berbagai masalah. Sedangkan tanpa permasalahan orang sedang dalam ancaman masalah yang lebih besar : kejenuhan.

Orang kaya ingin sederhana dan sebaliknya, orang introver ingin ekstrover dan sebaliknya, jomlo ingin berpasangan dan sebaliknya, orang bejat ingin alim dan sebaliknya. Demikian indahnya makna di balik sebaliknya. Ada hasrat yang harus diendapkan, ada nafsu yang harus dikalahkan, dan banyak godaan yang membuat hidup harus terus disyukuri.

Baca Juga: Interaksi Bunyi

***

Masih. Dalam imajinasi.
“Menyesal?” tanya malaikat yang terus menyiksanya.

Namines mengerang kesakitan dengan menyebut nama Tuhannya. Begitu terasa lama. Dosa sedetik dibalas dengan puluhan tahun siksa. Bahkan merencanakan sesuatu yang mungkin berpotensi dosa juga diminta pertanggungjawaban. Bagaimana bisa diingatkan manusia yang terlanjur acuh tak acuh pada panggung sandiwara dunia itu.

“Aku ingin mati”, teriak Namines dalam hantaman benda penyiksaan.
“Kamu sudah mati!”
“Aku ingin tiada”
“Akan ada siksa selamanya. Tidak akan pernah berakhir. Sampaipun tangisanmu habis, katamu tentang penyesalan berbuih, kamu tidak akan pernah bisa lari atas apa yang pernah kamu perbuat. Jangankan kembali ke dunia, kami meniadakan diri pun tidak akan bisa.”

***

“Itu kan hanya imajinasimu”, bantah pemuda di hadapan Namines.
“Lalu bagaimana kamu menjelasakan adanya sesuatu yang tanpa sebab? Bagaimana pula sesuatu yang ada tanpa akhiran? Sebenarnya segala anggapan dan premis sains yang kamu agungkan akan mentah dengan berbagai hal yang nanti akan disesali”
“Mungkin juga aku banggakan. Karena kebebasan.”
“Kebebasanmu tidak memiliki sandaran, kecuali kaki meja”
“Sandaranmu juga hanya pengakuan ketidakjelasanan. Meminta tanpa landasan logika yang ilmiah. Bahkan sampai merintih tanpa pernah mendapatkan apa yang diinginkan.”
“Jika segala hal yang diinginkan bisa didapatkan, betapa membosankan hidup ini. Seperti halnya di surga.”
“Bukankah itu yang kamu dambakan?”
“Bukan! Aku adalah kolong meja yang ikhlas ada karena ada yang mengadakan. Bukan karena kemampuanku untuk menerka segala sesuatu yang jauh dari pemahamanku. Kebahagiaanku adalah ketika yang menciptakanku tidak marah dan kecewa kepadaku”
“Huh, retorika kolong meja”


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU