Categories: SimponiWarganet

Kisah Kontroversial Abu Nawas

Share

“Ilahi lastu lil firdausi ahlaan wa laa aqwaa ‘alaa naari jahiimi. Fa habli taubatan waghfir zunuubii fa innaka ghaafirudzdzambil ‘azhiimi” – Abu Nawas. (Wahai Tuhanku! Aku bukanlah ahli surga tapi aku tidak kuat dalam neraka. Maka berilah aku taubat/ampunan dosaku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dosa besar).

Syair di atas sering saya dengar di kampung ketika dilantunkan muadzin setelah adan zuhur di kampung. Penyair tersebut adalah Abu Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami atau yang dikenal dengan nama Abu Nuwas, di Indonesia dikenal dengan sebutan Abu Nawas. Nama Abu Nuwas merupakan sebuah gelar yang artinya ikal, ia mempunyai rambut ikal sebahu. Ia dilahirkan di Kota Ahvas Persia pada 756 M. Hidup di masa Khalifah Harun ar-Rasyid. Di masa puncak-puncaknya kejayaan peradaban Islam (Abbasiyah). Di masa ini banyak orang yang kaya mendadak, sukses mendadak, mengejar kemewahan dan kekayaan terus lupa diri. Sebaliknya, ada orang yang juga benci dengan kekayaan akibat dari lupa diri terus menarik diri dari kehidupan dunia (menganggap dunia hina dan rendah).

Abu Nawas terkenal dari Kisah Seribu Satu Malam, merupakan buku cerita. Masyarakat mengenalnya dari buku tersebut, cerita-cerita tentang hal lucu. Sebenarnya ia bukanlah seorang yang lucu saja, namun  dia merupakan seorang yang cerdik, pintar, seorang ulama bahkan dianggap sebagai sufi. Kisah Abu Nawas merupakan seorang yang kontroversial. Ayahnya adalah seorang tentara pada masa Khalifah Marwan, ketika ayahnya meninggal ia akan dijadikan sebagai pengganti ditunjuk khalifah menjadi qadi (hakim).

Abu Nawas orang yang pintar dalam syariat, menurut Ibnu Mu’taz dalam Thabaqat al-Shu’ara: “Abu Nuwas adalah seorang faqih yang banyak mengetahui hukum dan fatwa agama. Berpikiran terbuka, memiliki hafalan kuat dan pengetahuan modern, mengetahui nasakh-mansukh dan muhkam mutasyabih al-Quran”. Namun ia tidak ingin menjadi qadi, ia ingin hidup bebas. Ketika itu ia berpura-pura menjadi gila agar tidak dijadikan qadi. Orang-orang yang melayat beranggapan bahwa Abu Nawas gila karena ditinggal ayahnya. Harun ar-Rasyid beranggapan jika dia diangkat menjadi hakim bisa kacau perkara yang ditanganinya. Penasihat Harun ar-Rayid menasihati agar menunggu beberapa hari (sekiatar sepuluh hari) karena mungkin Abu Nawas masih shock karena ditinggal ayahnya. Karena hal itu Abu Nawas terpaksa berpura-pura gila selama sepuluh hari agar tidak dijadikan hakim.

Dalam hidupnya Abu Nawas suka membuat kontroversi, suka membuat keramaian, dan kegaduhan. Tapi sebenarnya (di balik kekontroversiannya) ia membuat satire (sindiran) kepada masyarakat. Sindiran kepada orang-orang munafik, orang-orang yang hipokrit (bepura-pura). Masyarakat tidak mau mengatakan senang ketika senang (malu-malu tapi mau), enak tidak mau mengaku, senang tidak mau mengaku, terlalu menjaga image, takut derajat sosialnya turun. Hal seperti itu sering dikritik oleh Abu Nawas.

Pada masa Khalifah Harun ar-Rasyid ia pernah diasingkan di Mesir. Setelah wafatnya Harun ar-Rasyid ia kembali lagi ke Bagdad, ketika itu khalifah dipegang oleh al-Amin (anak Harun ar-Rasyid dan murid dari Abu Nawas). Pada masa ini Abu Nawas lebih merasakan kebebasan, banyak syair-syairnya di produksi masa ini.

Masa mudanya dihabiskan untuk berfoya-foya, melakukan kemaksiatan, tiada hari tanpa minum khamr –minum adalah jalan hidup, khamr tidak dapat dipisahkan dari diri Abu Nawas ketika muda. Ilmu yang dimiliki digunakan untuk menjustifikasi nafsunya, sering kali ia mengatakan, “Demi Allah, aku hanya beragama Islam, hanya saja mabuk menghendakiku sehingga aku menerima beberapa kemuliaan” di tengah-tengah masyarakat. Menurutnya bukan dirinya yang mendatangi mabuk namun mabuk yang mendatangi dirinya.

Baca Juga: Abu Nawas – Sang Penyair Jenaka

Suatu ketika, Abu Nawas dalam kondisi mabuk melaksanakan salat berjamaah. Ketika imam membaca ayat petama surat al-kafirun “qul ya ayyu hal kafirun” (katakanlah wahai orang-orang kafir!). Abu Nawas menjawab dengan lantang labbaik (aku datang) –jika dikaitkan dengan zaman sekarang banyak orang yang takut disebut sebagai orang kafir. Namun Abu Nawas balak-blakan menyebut dirinya sebagai kafir, mengajarkan bahwa untuk apa takut dianggap kafir dan sebagai bentuk sindiran bahwa sebenarnya diri kita kafir tapi tidak mengaku. Setelah salat Abu Nawas ditangkap dan diinterogasi, akhirnya dilepaskan karena dianggap melawak.

Abu Nawas pun mengatakan kepada teman-temannya yang sesama pemabuk “biarkan masjid-masjid dipenuhi orang yang salat, kita mabuk aja sepuasnya. Neraka terbuka untuk orang salat bukan pemabuk fa wailul lil musholliin (maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat)”. Pastinya ini diucapkan ketika mabuk, namun di balik perkataannya ada nasihat-nasihat bagi masyarakat bahwa sering kali kita menjustifikasi kesalahan-kesalahan kita dengan ayat-ayat yaitu meletakkan ayat tidak pada tempatnya.

Hal itu merupakan sindiran Abu Nawas kepada masyarakat yang sering menggunakan dalil. Dalam menggunakan dalil tidak sekedar mengambil ayat namun harus sesuai dengan konteksnya. Makna khamr sebenarnya samar, bukan hanya sebagai minuman yang memabukkan saja. Khamr merupakan sebuah simbol dari kemabukkan –mabuk dapat dimaknai macam-macam, mabuk dunia, mabuk harta, dan banyak hal yang dapat memabukkan lainnya.

Perbuatan Abu Nawas diakibatkan karena kekecawaan terhadap masyarakat saat itu. Masyarakat yang terlalu mengejar dunia dan masyarakat yang terlalu menjauhi dunia membuat diri Abu Nawas kecewa terhadap masyarakat. Dia berkesimpulan bahwa masyarakat ini sakit dan tidak dapat sembuh, karena itu Abu Nawas ingin bersenang-senang melihat keadaan di masyarakat yang memuakkan.

Kisah Abu Nawas di masa tuanya mengalami pertaubatan, menjadi ulama bahkan menjadi sufi. Dalam syairnya ia menasihati dirinya sendiri “hai Abu Nawas, jadilah orang terhormat, baik dan sabar. Waktu telah merusakmu dengan harta dan keinginan hanya demi kesenanganmu. Hai pendosa besar, ampunan Allah lebih besar daripada dosamu. Sebesar-besarnya sesuatu itu masih kecil dibandingkan dengan ampunan Allah yang paling kecil”.


Bayu Bintoro – Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga