Categories: SimponiWarganet

Kilas Balik Normal Baru Pesantren

Share

Beberapa hari terakhir, publik tengah asyik membincangkan tata kehidupan yang bernama new normal atau normal baru. Penyebaran virus Covid-19 yang terus berlangsung ditambah dengan makin lemahnya kondisi ekonomi warga membuat pemerintah menjadikan normal baru sebagai opsi. Ketika new normal diterapkan, pusat keramaian seperti kantor, pasar, atau sekolah dibuka kembali seperti biasa. Kebaruannya terletak pada adanya sejumlah aturan yang mesti ditaati oleh para pengunjung dan penyedia layanan, utamanya terkait dengan protokol pencegahan virus Corona.

Persoalan muncul ketika new normal dibenturkan dengan kehidupan kaum santri di pondok pesantren. Sebagaimana kita tahu, kehidupan pesantren amat lekat dengan nuansa kebersamaan. Sepanjang waktu santri bersosialisasi dan berkumpul dengan teman sepondoknya tanpa dibatasi jarak. Hal lain yang juga menjadi pertimbangan adalah fasilitas pendukung. Agar sesuai protokol kesehatan, pesantren tidak hanya butuh peralatan medis yang lengkap. Gedung asrama dan ruang belajar juga mesti diperluas, ditambah lagi dengan penyediaan kamar isolasi untuk ribuan santri yang baru kembali.

Banyak orang pesimis dengan penerapan new normal di pesantren. Muncul kekhawatiran bahwa akan muncul klaster baru dalam cerita penyebaran virus Covid-19 di Indonesia. Namun di balik semua itu, penulis melihat secercah optimisme dalam diri pesantren dan kaum santri mengingat kayanya pengalaman yang telah dilalui sepanjang sejarah perjalanannya. Telah banyak kejadian serupa di masa lalu, tapi pesantren mampu menghadapinya tanpa kehilangan identitas dan ciri khas. Normal baru yang hari ini diagendakan pemerintah tak ubahnya pengulangan dari sejumlah peristiwa pada masa silam.

Normal baru di pesantren berlangsung pada masa penjajahan, tepatnya ketika banyak bangsa asing masuk ke bumi Nusantara. Bisa dibayangkan betapa resahnya kaum santri saat itu menghadapi situasi yang serba baru. Pemerintah kolonial mengeluarkan sejumlah protokol atau undang-undang yang isinya sangat bertentangan dengan budaya dan akidah santri. Akibatnya, pembelajaran di pesantren menjadi tidak kondusif. Pengajian digelar sembunyi-sembunyi agar aman dari incaran kompeni. Bila sewaktu-waktu terjadi perang, santri dan kiai harus rela turut berjuang, pesantren sementara diliburkan.

Namun demikian, semangat belajar santri tak pernah padam. Meski negerinya berada di bawah kuasa penjajahan, santri-santri Nusantara justru semakin haus pengetahuan. Mereka mengembara dari satu pesantren ke pesantren lain untuk menimba ilmu. Bahkan meski transportasi belum secanggih sekarang, tak sedikit dari mereka yang mencari ilmu hingga luar negeri. Di masa ini pula lahirlah sejumlah ulama yang namanya tetap harum dan dikenang hingga sekarang. Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Ahmad Dahlan, serta sejumlah tokoh lain adalah merupakan produk pesantren di era normal baru penjajahan.

Baca Juga: Tradisi Roan Membangun Karakter Santri

Pada era kemerdakaan, pesantren juga dituntut melakukan sejumlah perubahan mengikuti perputaran zaman dan rezim yang berkuasa. Kebijakan pemerintah terhadap kaum santri yang selalu berubah dari masa ke masa tak mampu membuat nyali kaum santri surut dan menciut. Pesantren tetap menjadi lembaga favorit sekalipun penguasa pernah memperlakukannya secara tak adil dan apatis. Alumninya juga telah menyebar ke berbagai sektor profesi sekalipun banyak yang mengecapnya kaum sarungan yang kolot dan konservatif.

Dengan segudang pengalaman di masa lalu, penulis rasa tak ada yang perlu dikhawatirkan pada pesantren dalam menghadapi normal baru kali ini. Dalam hitungan waktu, kaum santri pasti akan menemukan formula yang tepat agar perkembangan virus bisa dihambat. Bahkan bukan tak mungkin bila aturan protokol Covid-19 akan terakulturasi ke dalam budaya pesantren sebagai al-jadid al-ashlaah, berbaur dengan al-qadim as-shalih yang telah lama ada. Sebab hukum alam selalu berpihak pada mereka yang mudah beradaptasi, bukan pada kuasa atau pula harta yang dimiliki.

Meskipun begitu, membiarkan pesantren berjuang sendiri juga bukanlah pilihan bijak. Di era yang serba baru ini, mestinya semua pihak bisa bersatu-padu menghadapi perubahan tatanan kehidupan. Santri, alumni, dan masyarakat luas mestinya bisa berkompromi dengan cara berpikir positif atas kebijakan yang diambil para kiai dan pengasuh. Begitu pula dengan negara, regulasi atau peraturan yang dibuat terkait penerapan new normal mestinya mengakomodir aspirasi dan kearifan lokal kaum sarungan. Berusaha merecoki langkah pesantren tanpa dalil dan solusi hanyalah menguras energi.

Harapan penulis, warga pesantren khususnya para kiai bisa segera menemukan cara terbaik dalam menyikapi kelaziman baru ini. Semakin cepat solusi ditemukan, maka lebih cepat pula perubahan tata kehidupan ini diterima masyarakat. Ini bisa terjadi karena ijtihad hasil pemikiran pesantren biasanya akan lebih mudah diterima dan diikuti oleh alumninya yang telah berkiprah di berbagai sektor. Semoga ijtihad para ulama, kiai, dan santri mendapat dua pahala di sisi Allah, satu pahala karena kesungguhan analisanya, dan satu lagi untuk kebenaran pemikirannya. Amin.


Ach. Khalilurrahman – AlumnusPonpes Annuqayah Sumenep