Categories: opiniSimponi

Kiamat Tahun 2020?

Share

Entah hanya saya yang merasakan atau semua orang juga peka akan hal ini. Intinya saya khawatir, sangat khawatir. Benarkah Kiamat tahun 2020?! Ketika kemarin diajak diskusi dengan salah seorang teman yang bermimpi tentang sebuah kehancuran dunia. Hari ini bapak saya juga membahas serupa sambil menunjukan beberapa buku kuno.

“Ingkang kaserat piyambak saderengipun gerah, kados ing ngandap puniko. Sarehing tindakipun manungsa sampun boten cocok kaliyan dhawuhipun Gusti Allah, ingkang kapacak wonten ing sadaya kitab ingkang ungelipun makaten:

Tresna maring sapadha padhaning tumitah dikaya tresnane marang awake dhewe. Lah sumangga anggenipun sami ngraosaken. Amila saking punika, jaman ingkang badhe kalampahan. Sarenging manungsa tindakipun sampun boten gadhang perikamanungsan. Badhe wonten pambersihan ingkang langkung ageng tinimbang ingkang sampun.” (Soemodidjojo, 1965)

Sebuah pesan dari leluhur Jawa yang dihimpun dari tulisan Kanjeng Pangeran Harya Tjakraningrat. Meski kami (muslim) selalu diperingatkan tentang tidak bolehnya mempercayai ramalan, tapi keadaan yang memaksa untuk kembali merenung tentang sebuah kejadian besar yang sedang atau akan terjadi. Bukan hanya tenang serat, kidung, atau primbon, bahkan Alquran pun memuat perihal ramalan masa depan yang selalu sesuai dengan perkembangan peradaban.

2020, tahun dengan nomer yang indah beserta kejadian-kejadian yang tidak terkira. Dimulai dari beberapa bencana alam di awal tahun. Meletusnya 21 gunung berapi secara serentak yang kemudian dibantah BNPB sebagai kebetulan semata. Kemunculan eyang semar dalam wujud kepulan asap di Gunung Merapi yang sempat diabadikan seorang warga.

Mengenai Ismoyo atau Eyang Semar atau Bodronoyo, sejenak saya kembali mengingat kisah Sabdo Palon Naya Genggong. Sebuah perjanjian yang melibatkan Prabu Brawijaya V saat masuk Islam dalam serat Dharmagandul. Salah satu pesan yang sangat melekat adalah bagaimana Islam boleh diajarkan di bumi Nusantara dengan tanpa paksaan dan tanpa menghilangkan budaya Jawa. Jika suatu saat orang Jawa sudah kehilangan Jawa-nya, maka beliau akan kembali.

Sabdo Palon Naya Genggong mengatakan akan kembali sekitar 500 tahun setelah perjanjian tersebut. Namun jika menghitung sejak berakhirnya kekuasaan prabu Brawijaya V tahun 1478 M, maka tahun ini adalah tahun ke-542 yang artinya sudah melewati ramalan tersebut.

Baca Juga: Jalmo Tan Keno Kiniro #2

Namun versi lain dari Dr. Purwadi, M.Hum (Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara) kembali mengolah kisah Sabdo Palon Naya Genggong yang menyatakan moksa beliau adalah tanggal 5 September 1520. Artinya tahun 2020 adalah tepat beliau akan menagih janji.

Sedikit kisah tentang Sabdo Palon dan Naya Genggong merupakan dua pujangga kerajaan Majapahit yang menguasai ilmu kanuragan dari kitab Pujasastra. Penasehat utama dari Prabu Brawijaya. Kesaktian Sabdo Palon Naya Genggong karena ilmu laku dan jangka jangkah jangkane zaman. Setiap malam selalu cegah dhadar lawan guling dan setiap bulan Sura selalu tapa brata bersama cantriknya di Gunung Lawu. Beliau merupakan cucu dari Empu Sedah dan Empu Panuluh.

Sekarang kita bedah lagi tentang tahun 2020. Kita yang sudah enggan belajar Jawa, tidak mengerti unggah-ungguh, sakau dengan kebudayan asing, sampai akhirnya memusuhi dan melawan budaya sendiri (Jawa).

Sedangkan dalam tanda-tanda kiamat, kita sudah sering melempar wacana “akhir zaman”. Dimana orang-orang desa berlomba menjadi lebih kaya daripada orang kota, majikan yang menggagahi budaknya, anak yang membunuh orang tuanya, dan yang paling nyata terlihat adalah dunia penuh kepalsuan. Bangga menyebarkan kebohongan, saling mencaci dan memusuhi, melawan saudaranya sendiri dengan identitas masing-masing yang diyakininya.

Corona atau Covid 19 seharusnya menjadi peringatan yang keras bagi seluruh penduduk bumi. Dajjal sudah hadir dalam sifat-sifat kita. Belum lagi Yakjuj dan Makjuj yang menguasai kapitalisme dunia. Kita terjerat dalam pesona-pesona kekayaan dan kekuasaan.

Kita dibuat lalai, mengosongkan masjid. Adan yang sudah mulai jarang terdengar dan kita masih sibuk saling menghujat sana-sini. Semakin bergairah untuk mengurus problematika dunia dan dipaksa untuk melupakan urusan akhirat. Kita sudah jauh melupakan Allah Swt. Menyembah sesuatu yang bukan seharusnya disembah.

Semoga hanya kekhawatiran saya, karena saya yakin masih banyak di antara mereka yang tidak kehilangan budayanya sendiri, masih banyak di antara mereka yang tetap memakmurkan masjid di tengah ketakutan pandemi Corona, masih banyak yang ingin dunia aman tanpa ada bencana yang maha dahsyat tersebut.

Allah Swt. masih sayang hamba-Nya yang selalu mengingatnya. Nabi Muhammad Saw. masih sayang kepada umat-Nya yang selalu menyempatkan berselawat kepadanya. Sabdo Palon dan Naya Genggong masih sungkan kepada masyarakat yang masih ingin hidup rukun tanpa perpecahan dan perselisihan, apalagi memusuhi budayanya sendiri.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU