Categories: FolkorMakam

Kiai Sirojudin

Share

Minggu, 25 Agustus 2019. Komunitas Seniman NU mengadakan kegiatan “MY TRIP MY SNU”. Tujuannya adalah berziarah ke beberapa titik makam alim ulama di Jawa Tengah. Kunjungan pertama adalah Kiai Sirojudin (Masjid Damarjati) di Kota Salatiga. Masjid Damarjati di Dukuh Krajan RT 02 RW 05, Kelurahan Salatiga, Kecamatan Sidorejo, Kota Salatiga.

Berdasarkan cacatan sejarah Masjid Damarjati sudah berusia lebih dari 190 tahun. Masjid ini didirikan oleh Kiai Ronosetiko dan Kiai Sirojudin yang diyakini merupakan orang dari Kejaraan Mataram. Sejak berdiri hingga sekarang, masjid ini sudah dua kali pemugaran. Renovasi kali pertama dilakukan pada 1987. Kemudian renovasi kedua dilaksanakan pada 2007. Masjid Damarjati memiliki lahan seluas 369 meter persegi.

Baca Juga: Ki Ageng Galang Sewu

Masjid Damarjati dibangun di tengah kecamuk perang antara Pangeran Diponegoro dan pemerintah kolonial Belanda. Konon, pembangunan masjid ini merupakan bagian dari strategi Kiai Ronosetiko dan Kiai Sirojudin untuk mengalahkan Belanda sekaligus mensyiarkan Islam di Salatiga. Supaya tidak dicurigai Belanda, kedua tokoh tersebut membuka perkampungan baru bersama laskarnya. Kiai Sirojudin membuka perkampungan di Dukuh Krajan, sementara Kiai Ronosentiko babat alas di daerah Bancaan yang berada sekitar tiga kilometer dari Krajan.

Kiai Damarjati

Belakangan, Kiai Sirojudin mengganti namanya menjadi Damarjati. Penggantian nama terpaksa dilakukan karena beliau berserta Kiai Ronosentiko merupakan sosok yang diburu Belanda. Di Salatiga, kedua ulama tersebut ditugasi untuk memata-matai Belanda. Salatiga sejak dulu memang dikenal sebagai basis militer Belanda di Jawa Tengah. Apabila laskar Diponegoro itu melakukan perang terbuka pasti akan kalah, sehingga pilihan paling realistis adalah dengan penyamaran dan perang gerilya. Dan itulah yang dilakukan oleh Kiai Ronosentiko dan Kiai Sirojudin (Damarjati) di Salatiga.

Hingga pada suatu waktu, guna menghindari kecurigaan Belanda, kedua laskar Diponegoro ini berpencar dan memilih pusat kegiatan yang berbeda. Kiai Sirojudin memilih tinggal di kampung Krajan dan Kiai Ronosentiko di kampung Bancaan. Syiar agama Islam adalah cara yang mereka pilih dan itu sama sekali tidak menimbulkan kecurigaan di kalangan tentara Belanda.

Berjalannya waktu, surau yang sekarang berubah menjadi Masjid Damarjati oleh Kiai Sirojudin bukan saja dijadikan sebagai tempat mengajarkan agama Islam, tetapi juga ruang berkumpul para pengikutnya, mengumpulkan informasi kegiatan memata-matai pergerakan Belanda. Termasuk lanjutnya, menyusun strategi melawan tentara Belanda.

Kiai Sirojudin dikisahkan menetap di Krajan hingga akhir hayatnya. Saat wafat, jenazahnya dimakamkan di seberang masjid. Untuk mengenang jasa-jasanya, warga setempat menamai masjid tersebut dengan nama Masjid Damarjati.

Di saat Ramadan, masjid ini banyak dikunjungi oleh jemaah. Selain melaksanakan salat fardhu, mereka memanfaatkan teras masjid untuk beristirahat melepas lelah. Selain itu, banyak pula musafir yang singgah di masjid untuk melaksanakan salat Zuhur dan Asar. Sementara saat berbuka, ada tradisi yang telah dilakukan oleh warga secara turun temurun. Sejak permulaan puasa hingga akhir, tiap-tiap RT secara bergiliran mengirimkan makanan dan minuman untuk berbuka, seperti kolak, bubur, atau jenis makanam dan minuman lain yang lazim dijadikan sebagai menu takjil.

Lokasi Makam Kiai Sirojudin

Makam Kiai Sirojudin yang terletak di samping masjid sering didatangi para peziarah dari berbagai kota. Makam tersebut dilapis (dinding) kayu. Di pintu depan makam terlihat kayu penuh ornamen ukiran tertutup rapi. Peziarah bisa masuk melalui gerbang besi di samping makam. Di depannya ada berbagai tanaman yang menambah suasana teduh saat berziarah. Di dalam ruangan banyak Alquran dan kitab Yasin Tahlil. Suasana yang tenang di dalam makam, karena berada di dalam kampung di Salatiga. Lokasi Makam Kiai Sirojudin cukup mudah ditemukan karena berada di tengah jantung kota Salatiga. Sekitar 500 meter dari jalan utama Salatiga-Semarang.

*Jika ingin berziarah ke makam Kiai Sirajudin bisa menghubungi koordinator Seniman NU Jawa Tengah atau Sub Regional Semarang


Maulida Goldy Firdausi – Seniman NU Regional Semarang