Categories: biografiFolkor

Kiai Kholil Bangkalan: Cikal Bakal NU-Muhammadiyah

Share

Kiai Kholil Bangkalan merupakan keturunan dari seorang ulama kharismatik, yakni Kiai Abdul Latief bin K.H. Hamim bin K.H. Abdul Karim bin K.H. Muharrom. Beliau lahir di desa Lagundih, Kecamatan Ujung Piring, Bangkalan. Pada hari selasa 11 Jumadil Akhir 1252 H (20 September 1834 M). Meninggal dunia pada hari Kamis 29 Ramadhan 1343 H (24 April 1925 M) dalam usia kurang lebih 91 tahun.

Kelahiran Kiai Kholil Bangkalan memberikan kebahagiaan tersendiri bagi ayahnya, yang sejak lama menantikan seorang anak laki- laki sebagai penerus kepemimpinan dalam dunia pesantren. Kiai Abdul Latief memiliki harapan besar terhadap anaknya agar bisa menjadi pemimpin dan pengayom umat di masyarakat. Kiai Abdul Latief berdoa kepada Allah supaya segala yang menjadi keinginannya dapat terkabulkan. Ternyata Allah mengabulkan doa Kiai Abdul Latief, Kiai Kholil menjelma sebagai ulama kharismatik. Bahkan, pengaruh Kiai Kholil sebagai ulama tidak pernah lekang oleh zaman, makamnya selalu didatangi peziarah dari berbagai daerah. Ia pun diyakini sebagai seorang waliyullah.

Jejak Pendidikan dan Jaringan Intelektual

Kiai Kholil ditempa di lingkungan pesantren sebagai langkah awal untuk menopang pengembangan dakwah Islam secara keseluruhan. Pendidikan ilmu agama bagi kalangan pesantren merupakan hal yang sangat penting bagi pembentukan karakter dan moral dalam mengayomi umat. Apalagi, ayah Kiai Kholil adalah seorang ulama kharismatik yang menjadikan pesantren sebagai sentrum pendidikan bagi umat Islam dalam mengenyam ilmu agama dan ilmu-ilmu lainnya.

Sebelum Kiai Kholil Bangkalan merantau ke beberapa pesantren di tanah air, beliau mendapatkan pendidikan agama langsung dari ayahnya, Kiai Abdul Latief. Beliau terlebih dahulu belajar Alquran dan mengulas kitab kuning dengan beragam materi, mulai dari fikih, ilmu kalam, tafsir, hingga tasawuf. Bakat yang luar biasa ini membuat Kiai Kholil mampu menguasai berbagai disiplin ilmu agama, terutama ilmu fikih dan ilmu nahwu. Bahkan, ia sudah hafal dengan sangat sempurna Nazam Alfiyah Ibnu Malik sejak usia muda.

Sebelum merantau ke luar Madura, Kiai Kholil Bangkalan terlebih dalu berguru ke Tuan Guru Dawuh, yang lebih dikenal dengan Bujuk Dawuh, di desa Malajeh, Bangkalan. Sistem pengajaran yang diberikan Tuan Guru Dawu terbilang unik, karena dilakukan secara nomaden, kondisional, dan tidak menetap pada satu tempat. Selain itu, Kiai Kholil belajar kepada Tuan Guru Agung, yang dikenal dengan Bujuk Agung. Kepadanya, Kiai Kholil belajar ilmu agama secara konsisten tanpa mengenal lelah. Apalagi, sang Guru bukan sekadar mempunyai kemampuan ilmu zahir, tapi juga beliau sangat menguasai ilmu batin.

Selanjutnya, Kiai Kholil melakukan pengembangan atau petualangan untuk mengenyam ilmu agama ke beberapa pesantren di Jawa. Di antaranya Pesantren Bungah (Gresik), asuhan Kiai Sholeh, Pesantren Langitan Tuban (KH. Mohammad Noer), Pesantren Cangaan, Bangil (KH. Asyik). Pesantren Darussalam, Kebon Candi Pasuruan (Kiai Arif), Pesantren Sidogiri, Pasuruan (Kia Noer Hasan), Pesantren Winongan (Kiai Abu Dzarrin), dan Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Banyuwangi (Kiai Abdul Bashar). Secara genealogis, petualangan akademis- intelektual Kiai Kholil ini semakin memperkuat jaringan atau hubungan dengan beberapa pesantren di Madura dan Jawa.

Petualangan intelektual beliau ke pesantren-pesantren di Jawa Timur, menunjukkan bahwa beliau  merupakan seorang santri yang terus berproses untuk menempa diri dan mencari ilmu. Setelah  memperoleh restu dari gurunya, beliau memutuskan untuk pengembaraan intelektualnya ke Makkah sekitar tahun 1859 H.

Bekal ilmu agama yang diperoleh di pesantren maupun kemandirian beliau dalam membiayai sendiri keberangkatannya ke Makkah. Kiai Kholil diberikan kemudahan oleh Allah untuk menekuni berbagai bidang ilmu keagamaan. Konsistensi Kiai Kholil ini tidak pernah luntur meskipun beliau mengenyam ilmu agama ke Makkah al-Mukarramah. Bahkan, kealiman beliau dalam bidang ilmu keagamaan banyak diakui oleh beberapa sahabat maupun gurunya yang melihat secara langsung bagaimana petualangan intelektual-spiritualnya yang semakin matang.

Baca Juga: KH. Hasyim Asy’ari – Pendiri Nahdlatul Ulama

Ilmu Tasawuf Kiai Kholil Bangkalan

Ketika belajar di Makkah, Kiai Kholil menekuni berbagai bidang ilmu keagamaan, baik yang eksoterik maupun yang esoterik. Bagi Kiai Kholil, ilmu keagamaan yang bersifat eksoterik maupun yang bersifat esoterik adalah sama-sama penting yang harus dipraktikkan secara seimbang. Tidak heran bila ketekunannya dalam memahami ilmu-ilmu keagamaan, membuatnya memiliki setumpuk karomah, sebagai sebuah kekuatan dan keistimewaan bagi orang-orang dekat dengan Tuhan. Predikat sebagai seorang waliyullah pun melekat dalam diri beliau, sehingga derajat kesufian dan dimensi mistik menjadi bagian tak terpisahkan dari perbincangan semua kalangan. Sebagai seorang waliyullah, Kiai Kholil pun disegani dan dihormati oleh semua kalangan karena pengembaraan spiritual yang dilakukannya di Makkah benar-benar memberikan dampak signifikan bagi pembersihan hati dari segala dosa. Sebagaimana pengembaraan Nabi Muhammad untuk mencapai ekstase agama menuju surga.

Derajat kesufian yang melekat dalam diri Kiai Kholil tentu saja banyak dibantu oleh beberapa Syekh yang secara langsung memberikan asupan ilmu. Ketika di Makkah, beliau mempelajari banyak ilmu agama kepada para ulama Nusantara yang bermukim di sana, diantara Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Umar Khatib Bima, Syekh Ahmad Khatib Sambas, Syekh Ali Rahbini. Di Mekkah, Kiai Kholil tidak sekadar mempelajari ilmu dzahir (eksoteris), tapi juga mempelajari ilmu batin (esoteris) ke beberapa guru spiritual yang menguasai langsung ilmu kerohanian atau dunia tasawuf. Bahkan, beliau belajar ilmu tarekat kepada Syekh Ahmad Khotib Sambas, yang merupakan pendiri dan penganut organisasi tarekat Qadariyah wa Naqsabandiyah.

Setelah menyelesaikan belajarnya di Makkah, Kiai Kholil diminta oleh gurunya untuk kembali ke Indonesia dan diharapkan melanjutkan perjuangan untuk menyebarkan Islam di pulau Madura. Sepulangnya dari Makkah, beliau mendirikan pondok pesantren di desa Cengkebun sekitar 1 km arah Barat laut dari desa kelahirannya. Di pondok inilah, Kiai Kholil menerima beberapa santri yang datang dari berbagai daerah untuk belajar ilmu agama. Setelah putrinya menikah dengan Kiai Muntaha, Kiai Kholil menyerahkan pesantren tersebut untuk dilanjutkan oleh menantunya. Sementara Kiai Kholil mendirikan pesantren baru di desa Demangan, 200 meter arah barat alun-alun kota Bangkalan. Dari pesantren inilah, santri berdatangan dari pula Jawa, termasuk Kiai Hasyim Asy’ari maupun Kiai As’ad Syamsul Arifin.


Angga Saputra – Seni tablig Seniman NU