Categories: FolkorMakam

Kiai Ahmad Siraj

Share

Kiai Ahmad Siraj adalah putra dari Kiai Umar alias Imam Pura. Kiai Imam Pura memiliki nasab atau keturunan dengan Sunan Hasan Munadi yang juga merupakan paman dari Raden Patah. Beliau diberikan tugas untuk mengislamkan daerah lereng Gunung Merbabu sebelah utara, yaitu desa Nyatnyono. Kiai Ahmad Siraj, biasa disebut mbah Siraj mempunyai beberapa saudara, antara lain adalah Kiai Kholil di Kauman Solo dan Kiai Djuwaidi yang bertempat tinggal di Tengaran Semarang.

Lokasi makam mbah Siraj berada di kompleks makam haji Laweyan. Kalau dari Solo Kota, berjalan 2 km setelah menyebrang rel kereta api di Jalan Slamet Riyadi. Setelah itu belok kiri 100 meter. Sedangkan kalau dari jalur kartasura, lokasinya sebelum by pass Laweyan. Hendaknya bertanya kepada peziarah lainnya untuk menemukan makam mbah Siraj. Karena kompleks makam haji tidak ada juru kuncinya, serta merupakan tempat pemakaman umum berjajar banyak makam di sekitarnya.

Baca Juga : Syaikh Maulana Maghribi

Semasa muda, mbah Siraj merupakan sosok ulama yang begitu takzim kepada gurunya. Bila berjanji selalu ditepati, bila berkesanggupan pasti dijalani. Beliau bergaul dengan semua lapisan masyarakat tanpa membedakan ras, suku, agama, dan status sosial. Saking dekatnya dengan saudara non-muslim, seorang penjual bakso yang beragama nasrani selalu mengirimkan tiga ekor kambing serta beberapa kuintal beran untuk haul mbah Siraj.

Sanad Keilmuan

Kiai Ahmad Siraj berguru kepada beberapa ulama besar. Salah satunya adalah Kiai Bahri (ayah Kiai Ibnu Mundhir) di Nganjuk Jawa Timur. Kemudian juga kepada KH. Dimyai At-Tirmizi di Pacitan Jawa Timur. Beliau juga berguru kepada Kiai Sholeh Darat di Semarang Jawa Tengah. Mbah Siraj adalah jamaah dari Tariqah Qadariyah Naqsabandiyah seperti Syekh Abdul Qodir al-Jaelani.

Semasa hidupnya, beliau mendirikan Pesantren yang bernama Pesantren As-Siraj di Jalan Honggowongso no. 57 Kelurahan Panularan, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta dengan luas 200 meter persegi. Sedangkan beberapa kitab yang diajarkan beliau adalah Sullamut Taufiq, Safinatun Najah, Duratul Bahiyyah, dan Fathul Qorib.

Semasa perjuangan, mbah Siraj menjadi front terdepan untuk melawan penjajah. Bersama KH. RM. Adnan, Kiai Abdurrahman, Kiai Ma’ruf Mangunwiyoto, Kiai Abdul Karim Tasyif, Kiai Martoikoro, dan Kiai Amir Thohar. Beliau selalu didatangkan di hadapan para pejuang laskar hizbullah untuk memberikan pengarahan dan pelatihan sikap dalam berperang.

Kiai Ahmad Siraj merupakan generasi pertama yang turut andil mendirikan NU, khususnya di lingkup daerah Surakarta. Mbah Siraj tercatat pernah mengikuti kongres I yang diadakan pada bulan Rabi’ul Awwal 1345 H/ 21-23 September 1923 di hotel Muslimin Peneleh Surabaya. Perjuangan mbah Siraj juga diikuti oleh keturunannya. Seperti puteranya, KH. Shomiuri yang pernah menjadi Rais Syuriah PCNU Boyolali. Kemudian juga cucunya, KH. Tamam Shimuri (Rais Syuriah PCNU Boyolali), KH. Mubin Shoimuri (Ketua PCNU Kota Surakarta), KH. Makin Shoimuri (Pengasuh Pondok Pesantren Putri Raudhatut Thalibin Leteh Rembang), Nyai Basyiroh Shoimuri (Ketua PP IPPNU periode kedua).

Baca Juga : Habib Anis bin Alwi Al Habsyi

Karomah Kiai Ahmad Siraj

Kiai Siraj dilahirkan 1878 Masehi. Penampilan mbah Siraj cukup mudah dikenali. Lewat pakaian khas beliau dengan memakai iket (blangkon), berbaju puti, bersarung wulung dan memakai gamparan tinggi walau sedang berpergian jauh. Selain dari penampilan, beliau juga dikenal dengan kepribadian yang arif, saleh, dan memiliki kharisma. Setiap ucapannya mengandung makna (sasmita).

Mbah Siraj mempunyai kemampuan melihat sesuatu yang tidak diketahui oleh mata biasa (kasyaf). Peristiwa ini terjadi ketika perang melawan penjajah bersama pasukan tentara hizbullah. Selain itu karomah beliau lainnya adalah bisa berulang kali naik haji. Secara lahiriah, beliau belum pernah berhaji, namun banyak orang yang bertemu beliau di tanah suci. Masih banyak lagi karomah mbah Siraj, seperti; berjalan dengan sangat cepat (kilat), kehujanan tapi tidak basah, banjir besar terlewati, pintu terkunci bisa masuk, bak kosong penuh tiba-tiba, mimpi yang jadi kenyataan, dan lain sebagainya.

Semasa hidupnya, Kiai Ahmad Siraj tidak pernah mengaku sebagai waliyullah. Namun banyak orang yang mengakui kewalian beliau beserta karomahnya.

Sumber: Hakim Adnan, 1989. Mengenang Jejak Kyai Ahmad Siraj/ Sala Masyhur: Waliyullah, Berkaromah Banyak (1878-1981), Sala: Ponpes As-Siraj.

* Jika ingin berziarah ke makam Mbah Siraj bisa menghubungi koordinator Seniman NU Jawa Tengah atau Sub Koordinator Solo Raya

Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU