Categories: FolkorMakam

Ki Ageng Gribig Klaten

Share

Ki Ageng Gribig yang memiliki nama asli Wasibagno Timur atau Syekh Wasihatno merupakan cucu Prabu Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit. Putra dari R.M. Guntur atau Prabu Wasi Jolodoro. Beliau sendiri merupakan salah satu ulama pada zaman Mataram yang menyebarkan Agama Islam, khususnya di daerah Jatinom Klaten.

Ki Ageng Gribig memiliki jasa besar terhadap Kerajaan Mataram. Hingga Sultan Agung bermaksud untuk mengangkat Ki Ageng Gribig sebagai Bupati Nayaka. Namun, Ki Ageng Gribig tidak bersedia dan lebih memilih menjadi ulama.

Sebutan Ki Ageng Gribig melekat pada diri beliau konon dikarenakan kesukaan beliau tinggal di rumah beratap gribig (anyaman daun nyiur).

Semasa hidupnya, beliau sempat menunaikan ibadah haji di Mekah. Sepulangnya dari Mekah membawa oleh-oleh berupa kue dari Arab Saudi untuk dibagikan kepada dan murid-muridnya. Karena tidak mencukupi, beliau lalu menyuruh istrinya yaitu Nyi Ageng Gribig, untuk membuatkan kue tambahan agar semua muridnya kebagian.

Kue inilah yang kemudian disebut dengan nama Apem Yaqowiyyu, berasal dari doa yang dipanjatkan beliau ketika penutup pengajian. Yang berbunyi: “Ya qowiyyu Yaa Aziz qowina wal muslimin, Yaa qowiyu warsugna wal muslimin”. Yang artinya “Ya Tuhan berikanlah kekuatan kepada kami segenap kaum Muslimin”. Apem Yaqowiyu tersebut sampai sekarang diperingati menjadi upacara adat di Jatinom yang diselenggarakan setiap tahun pada hari Jumat, sekitar tanggal 15 Bulan Sapar dalam penanggalan Jawa. Berlokasi di dekat makam.

Baca Juga : Sunan Pandanaran Tembayat

Tradisi Yaqawiyu

Ki Ageng Gribig biasanya diidentikkan dengan tradisi rutin tahunan yang diadakan di Jatinom, yaitu tradisi “Yaqowiyyu” atau warga setempat menyebutnya “Saparan”. Acara menyebar kue Apem kepada masyarakat. Apem merupakan kata serapan dari bahasa Arab yaitu “Affan”, yang bermakna Ampunan. Tujuan diadakannya acara sebaran kue apem itu supaya masyarakat selalu memohon ampunan kepada Sang Pencipta.

Sepulang perjalanan sang wali dari Tanah Suci, beliau membawa oleh-oleh 3 buah penganan. Sayangnya saat akan dibagikan kepada penduduk, jumlahnya tak memadai. Bersama sang istri, ia pun kemudian membuat kue sejenis apem. Kue-kue inilah yang kemudian disebarkan kepada penduduk setempat, yang berebutan mendapatkannya. Sambil menyebarkan kue-kue ini, iapun meneriakkan kata Ya Qowiyyu, yang artinya “Tuhan, Berilah Kekuatan”. Makanan ini kemudian dikenal dengan nama apem, saduran dari bahasa Arab Affan, yang bermakna “ampunan”. Tujuannya, agar masyarakat selalu memohon ampunan kepada Sang Pencipta.

Sejak saat itu, tepatnya sejak tahun 1589 M, Ki Ageng Gribig selalu melakukan hal tersebut. Ia pun mengamanatkan kepada masyarakat Jatinom saat itu. Di setiap bulan safar memasak sesuatu untuk disedekahkan kepada mereka yang membutuhkan.

Peristiwa inilah yang kemudian diabadikan dalam tradisi Yaqawiyu, yang dihelat rutin setiap bulan Safar. Masyarakat setempat menjalankan amanat dari beliau dengan membagikan apem dalam jumlah besar kepada para pengunjung dari berbagai daerah Jatinom dan sekitar. Hingga sekarang tradisi tersebut masih digelar dan animo para pengunjung juga cukup besar untuk memperebutkan apem yang disebar.

Ki Ageng Gribig memiliki jasa besar pada Kerajaan Mataram. Hingga Sultan Agung bermaksud untuk mengangkat Ki Ageng Gribig sebagai Bupati Nayaka. Namun, Ki Ageng Gribig tidak bersedia dan lebih memilih menjadi ulama dari pada jadi pejabat.

Baca Juga : Kiai Melati

Lokasi Makam Sunan Gribig

Makam Ki Ageng Gribig adalah situs berupa makam yang berada di dukuh Jatinom, desa Jatinom, kecamatan Jatinom, kabupaten Klaten yang saat ini menjadi obyek wisata religi.

Kompleks makam memiliki luas lahan sekitar 70 m x 40 m (2.800 m2) dengan luas bangunan 15m x 12m (180m2). Secara geografis kompleks makam ini berjarak ± 9 Km dari kota Klaten. Makam (batu nisan) sendiri memiliki panjang 2m, terbuat dari batu merah dan kayu. Makam itu sekarang difungsikan sebagai tempat ziarah, yang biasanya ramai dikunjungi pada malam Jumat legi dan Jumat kliwon.

Menggantung di atas cungkup, terlihat ada kalimat yang menggunakan aksara Jawa di sebelah kiri, dan menggunakan aksara Latin di sebelah kanan. Bunyi kalimat tersebut yaitu,

Hambabar ubaling karso, hadedasar poncasila, hangudi luhuring bongso, hangayati kanti waspodo, handayani sentoso karto-raharjo.

yang dalam bahasa Indonesia berarti “Terurai keinginan diri, berdasar pada Pancasila, bercita-cita menjadi bangsa yang luhur, menghayati hidup dengan waspada, mendorong kemakmuran.”

Di samping area makam terdapat beberapa tempat, di antaranya Masjid Agung Jatinom dan Sendang Palampeyan, Sendang Suran dan Guwo Belan, Masjid Tiban dan Oro-Oro Tarwiyah yaitu tempat di mana ki Ageng menanam tanah yang dibawanya dari Arofah, Mekah.

Sumber : pariwisataklaten.id; nu.or.id

*Jika ingin berziarah ke makam Ki Ageng Gribig bisa menghubungi koordinator Seniman NU Jawa Tengah atau Sub Regional Solo Raya

Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU