Categories: FolkorMakam

KH. Mas Mansur

Share

Kawasan makam Sunan Ampel selalu ramai dikunjungi peziarah dari berbagai kota di Indonesia bahkan luar negeri. Namun tidak banyak yang tahu bahwa di kompleks makam Sunan Ampel ini juga disemayamkan Pahlawan Nasional, yaitu KH. Mas Mansur. Bagi peziarah yang akan ke makam Sunan Ampel dari arah Gang Ampel Suci, akan menemukan makam ini terlebih dahulu, karena letaknya di sebelah timur sisi kiri masjid Sunan Ampel. Sedangkan makam Sunan Ampel berada di sebelah barat atau belakang masjid Sunan Ampel.

Sebelum menuju makam akan melewati 9 makam Mbah Sholeh yang berada tepat di sebelah kiri masjid Induk. Tak jauh dari makam mbah Sholeh, akan nampak papan nama bertuliskan keterangan makam Pahlawan Nasional KH. Mas Mansur dikelilingi pagar setinggi kurang lebih 1,5 meter. Selain itu, di area yang dikelilingi pagar tersebut juga disemayamkan ketua tanfidziyah PBNU pertama yakni KH. Hasan Gipo dan puluhan makam lainnya.

Memasuki area pemakaman, nampak bahwa area makam tersebut sangat dijaga kebersihannya. Di area makam tersebut, batu nisan dengan ukuran senada berjejer rapi, posisi makam yang teratur meskipun sangat padat, tanah makam rata dan rapi, dan pintu masuk makam yang selalu tertutup. Sekali pun pintu pagar area makam tertutup, namun tidak terkunci. Para peziarah dapat memasuki area dan berdoa di dekat makam yang ingin dikunjungi. Tidak jauh dari pintu masuk area makam tersebut, terdapat makam dengan batu nisan batu marmer berwarna coklat muda. Itulah makam KH. Mas Mansur. KH. Beliau merupakan salah satu pejuang kemerdekaan yang tergabung dalam empat sekawan bersama Ir. Soekarno, M. Hatta dan Ki Hajar Dewantara. Beliau juga pendiri majalah Suara Santri.

Berbicara mengenai KH. Mas Mansur, tak dapat dilepaskan dari dedikasi beliau kepada Islam dan Indonesia dalam merebut kemerdekaan, serta keberadaannya sebagai pemicu bagi gerakan kiai-santri untuk melawan penjajah di kota Surabaya, khususnya di daerah Ndresmo. Meskipun tak banyak catatan sejarah yang menulisnya.

Masa Kemerdekaan Indonesia

Menurut cerita dari cucu beliau, yaitu Nyai Fatimah Zahra binti Kiai Mas Muhajir ibn Kiai Mas Mansur, KH. Mas Mansur merupakan salah satu dari banyaknya kiai pesantren yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Saat itu perlawanan terhadap penjajah dilakukan oleh Kiai Hasyim Asy’ari Jombang dan Kiai Mas Mansur Ndresmo Surabaya. Selain sama-sama tokoh pesantren, Beliau berdua ini juga akhirnya dipenjara oleh tentara Jepang di Surabaya dalam satu sel di sisi yang berbeda. Di penjara mereka menerima berbagai siksaan. Termasuk tidak diberi makan selama 6 bulan lamanya. Namun beliau tetap teguh dengan pendiriannya untuk memperjuangakan kemerdekaan, sekali pun telah banyak tokoh yang merayu untuk bersikap simpati kepada penjajah agar terbebas dari siksaan.

Baca Juga : Raden Rahmat (Sunan Ampel)

Bahkan ketika KH. Hasyim Asyari hendak keluar dari penjara, KH. Hasyim Asyari pun membujuk KH. Mas Mansur agar bersikap lunak kepada penjajah agar dibebaskan dari penjara dan dapat melanjutkan perjuangan dakwah di pesantren. Namun KH. Mas Mansur menolak dengan lembut dan meskipun menanggung risiko tetap berada di dalam penjara. Keteguhan Kiai Mas Mansur tidak berubah dan tidak menyerah kepada tentara Jepang, sembari ia tetap istiqamah menggelorakan sikap anti penjajah kepada mereka yang menjenguknya. Inilah yang menjadi sebab pihak Jepang mengambil jalan pintas untuk membunuh Kiai Mas Mansur, demi stabilitas dan kepentingan Jepang. Dengan begitu, akhirnya Kiai Mas Mansur dibunuh di penjara oleh tentara Jepang. Kini, beliau dinobatkan sebagai salah satu Pahlawan Nasional.

Jiwa mulia kiai-kiai pesantren yang telah terlibat langsung dalam proses menuju kemerdekan haruslah menjadi teladan dan hikmah bagi kita yang menikmati kedamaian Indonesia saat ini. Kemerdekaan Indonesia bukanlah pemberian penjajah. Tapi diperoleh dari perjuangan panjang para tokoh bangsa yang telah mendahului kita. Hendaknya kita dapat mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang bermanfaat, meneruskan mereka untuk menjaga kemerdekaan, senantiasa mendoakan dan menyempatkan diri untuk mengunjungi makam mereka.

*Jika ingin berkunjung ke makam KH. Mas Mansur bisa menghubungi koordinator Seniman NU Regional Jawa Timur

Rina Nur Cahyani – Seni tablig Seniman NU