Categories: FolkorMakam

KH. Ahmad Dahlan

Share

KH. Ahmad Dahlan adalah seorang pendiri organisasi Islam, Muhammadiyah. Beliau beristrikan Siti Walidah, yang juga pendiri Aisyiyah. Muhammadiyah sendiri lahir pada 8 Dzulhijjah 1330 H atau 18 November 1912 M. Organisasi ini sangat besar manfaatnya dalam berbagai bidang. Contohnya adalah politik, pendidikan, dan kesehatan. Banyaknya manfaat yang dihasilkan inilah yang akhirnya menjadikan KH. Ahmad Dahlan dan Nyai Ahmad Dahlan dianugerahi gelar sebagai pahlawan nasional.

KH. Ahmad Dahlan dikenal dengan nama kecil Darwis. Darwis kecil telah menunjukkan potensinya dengan senang membuat aneka macam kerajian dan permainan. Seperti layaknya anak pada seumurannya, ia sangat senang main layangan dan gasing.

Darah keilmuan dan alim mengalir sangat deras dari kedua orang tua KH. Ahmad Dahlan. Ayahnya, KH. Abu Bakar adalah seorang Imam Khatib Mesjid Besar Kesultanan Yogyakarta sedangkan ibunya adalah Nyai Abu Bakar. Puteri dari H. Ibrahim Hoofd Penghulu di Yogyakarta. Beliau adalah anak keempat dari tujuh saudara yang lima diantaranya adalah perempuan.

Apabila dirunut mata rantai keturunannya, KH. Ahmad Dahlan adalah keturunan kedua belas dari salah satu wali songo, Maulana Malik Ibrahim. Beliau adalah pelopor pertama penyebaran dan pengembangan Islam di tanah Jawa.

Di usianya yang masih muda, beliau belajar agama pada Kiai Muhammad Saleh dan Kiai haji muhsin untuk belajar nahwu. Selain du aitu, beliau juga memiliki guru yang lain yaitu Kiai Haji Abdul Hamid dan Kiai Haji Muhammad Nur.

KH. Ahmad Dahlan dikenal sebagai orang gemar membaca dan mencari ilmu. Sebelum naik haji ia banyak membaca kitab-kitab Ahlussunah wal jamaah dalam ilmu alqaid dari mashab Syafii dalam ilmu fikih, dan ilmu-ilmu tasawuf dari Imam Ghazali. Pada saat naik haji pertama kali ke Mekkah tahun 1888, KH. Ahmad Dahlan juga banyak belajar pada para ulama.

Untuk ilmu hadis ia belajar kepada Kiai Mahfudh Termas dan Syekh Khayat, belajar ilmu qiraah kepada Syekh Amien dan Sayid Bakri Syatha, belajar ilmu falaq pada KH. Dahlan Semarang, Ia juga pernah belajar pada Syekh Hasan tentang cara-cara atau mengobati racun binatang. Selain dengan guru-guru di atas, selama delapan bulan di tanah suci, ia sempat bersosialisasi dengan Syekh Akhmad Khatib dan Syekh Jamil Jambek dari Minangkabau, Kiai Najrowi dari Banyumas, Kiai Nawawi dari Banten, para ulama dari Arab, serta pemikiran baru yang ia pelajari selama mukim di di Mekkah.

Baca Juga: Syekh Maulana Maghribi

Lokasi Makam KH. Ahmad Dahlan

Makam ini terletak, di kompleks makam Karangkajen, di tengah pemukiman padat. Tepatnya Jl. Karangkajen, Brontokusuman, Kec. Mergangsan, Kota Yogyakarta. Salah satu alasan mengapa beliau dimakamkan tidak di Kauman yang notabene adalah tempat tinggal sekaligus poros utama Muhammadiyah adalah karena ketika Kiai Dahlan berdakwah di luar Kauman khususnya di Karangkajen mendapatkan sambutan hangat dari masyarakat, sehingga Kiai Dahlan merasa memiliki kedekatan khusus dengan warga Karangkajen.

Tempat peristirahatan KH. Ahmad Dahlan ini terlihat berbeda dengan makam wali biasanya. Perbedaan yang mencolok adalah karena makam KH. Ahmad Dahlan ini terlihat seperti makam pada umumnya. Batu nisan yang digunakan berupa pasangan batu bata yang direkatkan dengan semen sambung-menyambung sehingga membentuk bangun persegi panjang. Pada bagian tengah nisan dibiarkan kosong dan dihias dengan taburan batu kerikil. Jirat dari makam KH. Dahlan hanya satu, yakni di bagian kepala (utara). Jirat ini bertuliskan namanya.

Tidak ada tempat untuk peziarah duduk untuk sekedar ngalap berkah atau membaca tahlil. Salah satu penjaga makam tersebut mengatakan bahwa para peziarah hanya disarankan untuk berdoa saja atau membaca Al-Fatihah.

Pengunjung dapat melihat bahwa semua yang menjaga makam tersebut adalah abdi dalem kraton. Hal ini dikarenakan tanah makam tersebut adalah milik kraton. Sehingga selain abdi dalem, tidak bisa menjadi penaga makam tersebut.

Tidak ada haul ataupun peringatan yang rutin dilakukan untuk mengenang beliau. Bahkan pada setiap tanggal wafatnya pun tidak ada peringatan apapun. Para ahli waris hanya berkumpul setiap tanggal 15 sya’ban untuk berdoa dan bersih-bersih makam.

Dengan banyaknya jasa dan kiprah beliau pada negara, sangatlah pantas bila pada akhirnya KH. Ahmad Dahlan dan istri mendapat gelar Pahlawan nasional.

*Jika ingin berziarah ke makam KH. Ahmad Dahlan bisa menghubungi koordinator Seniman NU Yogyakarta


Salwa Fathoni – Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak