Categories: opiniSimponi

Keluar dari NU, Sebuah Kisah

Share

Menurut salah seorang Kiai sepuh, Nahdlatul Ulama (NU) ini ibarat kereta api yang sudah legend. Gerbongnya terdiri dari berbagai macam latar belakang orang, yang bermacam-macam juga kelakuan dan kepentinganya. Tetapi semua diayomi dalam satu tarikan nafas NU, untuk membawanya dalam satu rangkaian gerbong. Sama-sama menuju illahi dengan bimbingan dan arahan para kiai. Jadi di gerbong ini semua ada, dari orang kelas bawah, menengah, sampai atas. Kenapa? karena NU ingin menyelamatkan sebanyak-banyaknya umat kanjeng Nabi Muhammad. Yang belum baik diajak meninggalkan kemaksiatan, yang belum istikamah, diajak untuk istikamah, yang sudah baik diajak merangkul yang belum baik. Seperti itulah lokomotif NU.

Penulis agak tergelitik beberapa waktu yang lalu saat salah seorang pendakwah yang terkenal viral karena statment kontroversialnya yang sering menghujat dan merangkai kata-kata makian. Mengatakan bahwa dirinya resmi keluar dari NU. Seolah-olah dia ingin membangun opini di masyarakat bahwa NU organisasi yang tidak lagi benar. Tentu hal demikian merupakan ilusi kebenaran sesuai yang dia yakini secara subjektif.

Apakah berhasil? Tentu, bagi orang yang selama ini telah di-jejeli berbagai propaganda “kesesatan” NU. Maka ini menjadi sebuah kebenaran yang selama ini masih berupa kabar burung atau hembusan angin tentang berita-berita miring di tubuh NU. Setidaknya itulah yang penulis rasakan dari pengalaman-pemgalaman selama ini berselancar di media mainstream.

Baca Juga: Kembali dari Hijrah

Sekali lagi, banyaknya propaganda untuk menjauhi NU dan membuat masyarakat tidak senang dan percaya kepada eksistensi NU. Kebanyakan berseliweran dari ruang dunia maya. Hal ini bisa dipahami karena rasa ingin tahu masyarakat berbanding terbalik dengan minat baca. Menganalisa suatu fenomena dan tidak kritis dalam menyikapi informasi baru. Membuat suburnya informasi bohong dan kebencian lalu-lalang di tengah masyarakat.

Belakangan penulis juga menemukan, salah seorang teman yang lebih senior secara usia dengan yakinnya di grup whatsapp silahturahmi alumni kampus. Tiba-tiba mengatakan NU secara langsung menyebarkan kesesatan di tengah masyarakat. Andai Anda warga NU struktural atau pun yang kultural menyaksikan langsung orang yang memfitnah sedemikian rupa. Hal apakah yang akan lakukan?

Penulis sendiri saat melihat orang yang beropini demikian, secara langsung berhadapan, mungkin pilihanya hanya dua ‘baku hantam” atau yang bersangkutan mencabut opininya dan meminta maaf. Namun demikian saat ditanyakan maksud dan tujuan yang bersangkutan membuat fitnah keji seperti itu, kebanyakan dari mereka tidak memiliki dasar yang kuat. Hanya dari informasi sepihak dari media sosial yang tidak jelas sumbernya atau memang berasal dari kelompok yang selama ini sangat sering menyerang NU secara langsung maupun dengan menyudutkan kiai dan ulama NU.

Tentu kelas penulis bukanlah orang yang bisa sesabar para ulama, kiai, habaib NU yang selama ini senantiasa sabar dalam menghadapi berbagai fitnah akhir zaman. Akan tetapi, rasanya sebagai warga nahdliyin biasa atau orang yang cinta kepada NU, tidak sampai hati berperilaku melanggar norma apa lagi sampai melanggar hukum demi memberi pelajaran kepada para pembenci NU. Hal demikian karena warga NU senantiasa menjaga adab dan ajaran para ulama serta ikut dan taat pada para kiai. Karena yang diajarkan para guru-guru kita adalah memaafkan, biar nanti karma yang akan membalas kezaliman.

Kebanyakan mereka orang-orang sombong yang merasa dengan pemahaman agamanya yang nanggung itu bisa berbicara apa saja sesuka nafsunya. Andai mereka sadar pasti akan malu dengan ulama, kiai, habaib NU yang selama ini mereka hina. Rupanya memiliki pondok pesantren dan majelis ilmu yang besar dengan santri ratusan ribu, mengajarkan berbagai cabang bidang ilmu agama yang tidak akan pernah mereka dapatkan di sekolah luar bahkan kajian-kajian Islam mingguan di masjid-masjid ala muslim perkotaan.

Seharunya mereka malu dan tahu diri, tetapi sudah sangat masyhur memang, nasehat tentang orang fasik/ bodoh yang memang mulutnya bisa berkata apa saja dan mengomentari siapa saja karena mereka tidak butuh kecerdasan. Sama hal nya seperti orang yang mengatakan keluar dari NU tetapi mau diakui jadi NU Struktural, KartaNU tidak punya, mau ngaku warga NU tapi “teman-temanya” dengan orang sebelah, yang kalau tidak ujung-ujungnya politik ya duit . “Endi amaliyah NU keseharianmu, Cuks?


Riki Asiansyah – Seni tablig Seniman NU