Categories: AransemenKajian

Keajaiban Alquran #3

Share

Melanjutkan tulisan tentang keajaiban Alquran. 22 tahun 2 bulan dan 22 hari ayat-ayat Alquran silih berganti turun. Selama itu juga Nabi Muhammad Saw. dan sahabatnya tekun untuk mengajarkan Alquran kepada umatnya. Sehingga berhasil membangun masyarakat yang terpadu secara ilmu dan iman, nur dan hidayah, keadilan dan kemakmuran di bawah lindungan rida dan ampunan Ilahi.

Kita bisa saja bertanya mengapa 20 tahun lebih, baru selesai dan berhasil?! Boleh jadi jawabannya dapat disimak dari hasil penelitian seorang guru besar Harvard University. Dilakukannya pada 40 negara, untuk mengetahui faktor kemajuan atau kemunduran negara-negara itu sendiri.

Salah satu faktor utamanya -menurut sang Guru Besar- adalah materi bacaan dan sajian yang disuguhkan khususnya kepada generasi muda. Diketemukan bahwa 20 tahun menjelang kemajuan atau kemunduran negara-negara yang sudah ditelitinya. Generasi muda dibekali dengan sajian dan bacaan tertentu. Setelah dua puluh tahun generasi muda itu berperan dalam berbagai aktivitas, peranan yang pada hakikatnya diarahkan oleh kandungan bacaan dan sajian yang disuguhkan itu. Demikian dampak bacaan, terlihat setelah berlalu dua puluh tahun, sama dengan lama turunnya Alquran.

Kalau demikian, jangan menunggu dampak bacaan terhadap anak-anak kita kecuali 20 tahun kemudian. Semua orang boleh memilih untuk optimis atau pesimis, tergantung dari penilaian tentang bacaan dan sajian itu. Akan tetapi kalau melihat bentuk kegairahan anak-anak dan remaja dalam membaca Alquran, serta kegairahan umat mempelajari kandungan isinya. Maka menjadi wajar kalau bersikap optimis, karena kita sepenuhnya yakin bahwa keberhasilan Rasul dan generasi terdahulu dalam membangun peradaban Islam yang jaya selama sekitar 800 tahun. Karena Alquran yang mereka baca dan hayati mendorong pengembangan ilmu dan teknologi, serta kecerahan pikiran dan kesucian hati.

Kita wajar optimis, melihat kesungguhan pemerintah menangani pendidikan, serta tekadnya mencanangkan wajib belajar.

Ayat “wa tawashauw bil haq” dalam QS Al-‘Ashr [103]: 3 bukan saja mencanangkan “wajib belajar” tetapi juga “wajib mengajar”. Bukankah tawashauw berarti saling berpesan, saling mengajar, sedang al-haq atau kebenaran adalah hasil pencarian ilmu? Mencari kebaikan menghasilkan akhlak, mencari keindahan menghasilkan seni, dan mencari kebenaran menghasilkan ilmu. Ketiga unsur itulah yang menghasilkan sekaligus mewarnai suatu peradaban.

Baca Juga: Keajaiban Alquran #1

Alquran yang sering kita peringati nuzulnya ini bertujuan antara lain:

  1. Untuk membersihkan akal dan menyucikan jiwa dari segala bentuk syirik serta memantapkan keyakinan tentang keesaan yang sempurna bagi Tuhan seru sekalian alam. Keyakinan yang tidak semata-mata sebagai suatu konsep teologis, tetapi falsafah hidup dan kehidupan umat manusia.
  2. Untuk mengajarkan kemanusiaan yang adil dan beradab yakni bahwa umat manusia merupakan suatu umat yang seharusnya dapat bekerja sama dalam pengabdian kepada Allah dan pelaksanaan tugas kekhalifahan.
  3. Untuk menciptakan persatuan dan kesatuan. Bukan hanya antar suku dan bangsa, tapi juga kesatuan alam semesta. Kesatuan kehidupan dunia dan akhirat, natural dan supranatural, kesatuan ilmu, iman, dan rasio. Kesatuan akan kebenaran, kesatuan terhadap kepribadian manusia, kesatuan sosial, politik dan ekonomi, dan semua yang berada di bawah satu keesaan, yaitu Allah Swt.
  4. Untuk mengajak manusia berpikir dan bekerja sama dalam bidang kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Melalui musyawarah dan mufakat yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan.
  5. Untuk membasmi kemiskinan material dan spiritual, kebodohan, penyakit, dan penderitaan hidup, serta pemerasan manusia atas manusia, dalam bidang sosial, ekonomi, politik, dan juga agama.
  6. Untuk memadukan kebenaran dan keadilan dengan rahmat dan kasih sayang, dengan menjadikan keadilan sosial sebagai landasan pokok kehidupan masyarakat manusia
  7. Untuk memberi jalan tengah antara falsafah monopoli kapitalisme denganfalsafah kolektif komunisme. Menciptakan ummatan wasathan yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran.
  8. Untuk menekankan peranan ilmu dan teknologi, guna menciptakan satu peradaban yang sejalan dengan jati diri manusia, dengan panduan dan paduan Nur Ilahi.

Demikian sebagian tujuan kehadiran Alquran. Tujuan yang tepadu dan menyeluruh, bukan sekadar mewajibkan pendekatan religius yang bersifat ritual atau mistik, yang dapat menimbulkan formalitas dan kegersangan.

Keajaiban Alquran adalah petunjuk-Nya yang bila dipelajari akan membantu kita menemukan nilai- nilai yang dapat dijadikan pedoman bagi penyelesaian berbagai problem hidup. Apabila Alquran mau dihayati dan diamalkan akan menjadikan pikiran, rasa, dan karsa, serta karya kita mengarah kepada realitas keimanan yang dibutuhkan bagi stabilitas dan ketenteraman hidup pribadi dan masyarakat.

Itulah keajaiban Alquran dengan gaya bahasanya yang merangsang akal dan menyentuh rasa. Menggugah hati untuk senantiasa menerima dan memberi kasih dan keharuan cinta. Sehingga dapat mengarahkan kita untuk memberikan sebagian dari apa yang dimiliki untuk kepentingan dan kemaslahatan umat manusia. Itulah Alquran yang ajarannya telah merupakan kekayaan spiritual bangsa kita, dan yang telah tumbuh subur dalam negara kita.

*Diambil dari buku Wawasan Alquran karya Prof. M. Quraish Shihan, MA


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU