Categories: AransemenKajian

Keajaiban Alquran #2

Share

Keajaiban Alquran sebagai susunan kitab yang terpadu dalam menghadapi dan memperlakukan peserta didiknya dengan memperhatikan keseluruhan unsur manusiawi, jiwa, akal, serta jasmaninya. Ketika Nabi Musa a.s. menerima wahyu dari Allah Swt, yang menjadikan beliau tenggelam dalam situasi ruhani. Allah Swt bertanya yang berkaitan dengan kondisi material, “Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa?” (QS Thaha [20]: 17).

Musa a.s sadar sambil menjawab, “Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya dan memukul (daun) dengannya untuk kambingku, di samping keperluan-keperluan lain” (QS Thaha [20]: 18).

Di lain sisi, hali ini bertujuan agar muslim tidak terlalu larut dalam alam material. Alquran menggunakan benda alam sebagai tali penghubung untuk mengingatkan manusia akan kehadiran Allah Swt. Dan bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah di bawah kekuasaan, pengetahuan, dan pengaturan Allas Swt.

“Tidak sehelai daun pun yang gugur kecuali Dia mengetahuinya, dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi. Tidak juga sesuatu yang basah atau kering kecuali tertulis dalam Kitab yang nyata (dalam jangkauan pengetahuannya)” (QS Al-An’am [6]: 59)

“Bukan kamu yang melempar ketika kau melempar. Tetapi Allah-lah (yang menganugerahkan kemampuan sehingga) kamu mampu melempar” (QS Al-Anfal [8]: 17)

Ayat Alquran merupakan serat yang membentuk tenunan kehidupan seorang muslim, serta benang yang menjadi rajutan jiwanya. Karena itu seringkali pada saat Alquran berbicara tentang satu persoalan menyangkut satu dimensi atau aspek tertentu, tiba-tiba ayat lain muncul berbicara tentang aspek atau dimensi lain yang secara sepintas terkesan tidak saling berkaitan. Tetapi bagi orang yang tekun mempelajarinya akan menemukan keserasian hubungan yang amat mengagumkan, sama dengan keserasian hubungan yang memadukan gejolak dan bisikan-bisikan hati manusia. Sehingga pada akhirnya dimensi yang semula terkesan tidak karuan, menjadi terangkai dan terpadu dengan indah, bagai kalung mutiara yang tidak diketahui di mana ujung pangkalnya.

Salah satu dari banyak tujuan Alquran untuk memilih sistematika yang demikian, adalah untuk mengingatkan kepada manusia bahwa ajaran-ajaran dalam Alquran adalah satu kesatuan terpadu yang tidak dapat dipisah-pisahkan.

Keharaman makanan tertentu seperti babi, ancaman terhadap yang enggan menyebarluaskan pengetahuan, anjuran bersedekah, kewajiban menegakkan hukum, wasiat sebelum mati, kewajiban puasa, hubungan suami-istri. Dikemukakan Alquran secara berurut dalam belasan ayat surat Al- Baqarah. Mengapa demikian?! Mengapa terkesan acak?!

Jawabannya antara lain adalah, Alquran menghendaki agar umatnya melaksanakan ajarannya secara terpadu.” Tidakkah babi lebih dianjurkan untuk dihindari daripada keengganan menyebarluaskan ilmu. Bersedekah tidak pula lebih penting daripada menegakkan hukum dan keadilan. Wasiat sebelum mati dan menunaikannya tidak kalah dari berpuasa di bulan Ramadhan. Puasa dan ibadah lainnya tidak boleh menjadikan seseorang lupa pada kebutuhan jasmaniahnya, walaupun itu adalah hubungan seks antara suami-istri.

Baca Juga: Keajaiban Alquran #1

Demikian terlihat keterpaduan ajaran-ajarannya. Alquran menempuh berbagai cara guna mengantar manusia kepada kesempurnaan kemanusiaannya antara lain dengan mengemukakan kisah faktual atau simbolik. Keajaiban Alquran tidak segan mengisahkan “kelemahan manusiawi,” namun itu digambarkannya dengan kalimat indah lagi sopan tanpa mengundang tepuk tangan, atau membangkitkan potensi negatif. Tetapi untuk menggarisbawahi akibat buruk kelemahan itu, atau menggambarkan saat kesadaran manusia menghadapi godaan nafsu dan setan.

Ketika Qarun memamerkan kekayaannya kepada yang lain, kemudian tidak mau mendengar semua nasihat. Merasa semua itu adalah hasil pengetahuan dan jerih payahnya. Setelah itu tidak mau mendengar nasihat, terjadilah bencana longsor sehingga seperti bunyi firman Allah:

“Maka Kami benamkan dia dan hartanya ke dalam bumi” (QS Al-Qashash [28]: 81)

Dan berkatalah orang-orang yang kemarin mendambakan kedudukan Qarun, “Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba – hamba-Nya dan mempersempitkannya. Kalau Allah tidak melimpahkan karuniaNya atas kita, niscaya kita pun dibenamkannya. Aduhai benarlah tidak beruntung orang-orang yang kikir (QS Al-Qashash [28]: 82)

Keajaiban Alquran bahkan mengemukakan situasi tentang ketidakkuasaan manusia, langkah konkret dan kalimat-kalimat rayuan seorang wanita bersuami yang dimabuk cinta oleh kegagahan seorang pemuda yang tinggal di rumahnya.

“(Setelah berulang-ulang kali merayu dengan berbagai cara terselubung). Ditutupnya semua pintu dengan amat rapat, seraya berkata (sambil menyerahkan dirinya kepada kekasihnya-setelah berdandan), “Ayolah kemari lakukan itu!” (QS Yusuf [12]: 23)

Tetapi itu sama sekali berbeda dengan ulah sementara seniman, yang memancing nafsu dan merangsang berahi. Alquran menggambarkannya sebagai satu kenyataan dalam diri manusia yang tidak harus ditutup -tutupi tetapi tidak juga dibuka lebar, selebar apa yang sering dipertontonkan, di layar lebar atau kaca.

Keajaiban Alquran bisa menguraikan sikap dan jawaban Nabi Yusuf, anak muda yang dirayu wanita. Juga dengan tiga alasan penolakan, seimbang dengan tiga cara rayuannya. Yang pertama dan kedua adalah, “Aku berlindung kepada Allah, sesungguhnya suamimu adalah tuanku, yang memperlakukan aku dengan baik” (QS Yusuf [12]: 23). Yang ketiga, khawatir kedua alasan itu belum cukup. “Dan sesungguhnya tidak pernah dapat berbahagia orang yang berlaku aniaya” (QS Yusuf [12]: 23).

Alquran menuntut bersatunya kata dengan sikap. Karena itu, keteladanan para pendidik dan tokoh masyarakat merupakan salah satu tujuannya. Ketika Alquran mewajibkan menghormati orangtuanya, pada saat itu pula ia mewajibkan orang tua untuk mendidik anak-anaknya. Ketika masyarakat diwajibkan untuk menaati Rasul dan pemimpin, pada saat itu juga Rasul dan pemimpin diperintahkan untuk menunaikan amanah, menyayangi yang dipimpin sambil bermusyawarah dengan mereka.

Demikian keajaiban Alquran menuntut keterpaduan orang-tua, masyarakat, dan pemerintah. Tidak mungkin keberhasilan dapat tercapai tanpa keterpaduan itu. Tidak mungkin kita berhasil kalau beban pendidikan hanya dipikul oleh satu pihak, atau hanya ditangani oleh guru dan dosen tertentu. Tanpa melibatkan seluruh unsur kependidikan.

*Diambil dari buku Wawasan Alquran karya Prof. M. Quraish Shihan, MA


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU