Categories: opiniSimponi

Kaum Beragama Indonesia: Ritual Gersang Spritual

Share

“Agama dimaksudkan sebagai rahmat bagi semua umat manusia, untuk bisa menjadi tali penghubung antara semua ciptaan-Nya. Kita semua kaum beragama dan bersaudara bukan karena satu keturunan tapi karena satu Tuhan yang berkuasa di atas sana.”

Oh Tuhan, kadang aku berpikir bahwa agama lebih baik tidak ada saja. Karena justru agama lah penyebab perselisihan, perpecahan dan pertumpahan darah dan bukan menjadi tali pemersatu umat manusia. Saudara kandung saling berselisih hanya karena berlainan keyakinan. Perbedaan antara gereja juga mengakibatkan dinding pemisah bagi dua hati yang berkasih-kasihan.

Baca Juga : Agama Sudah Tidak Penting

Aku sering bertanya pada diriku sendiri: Apakah agama merupakan sebuah rahmat kalau prakteknya malah seperti ini? Kata orang, agama akan menjaga kita dari perbuatan dosa, namun berapa banyak dosa yang telah diperbuat atas nama agama?”

RA. Kartini

Tulisan yang dibuat seorang gadis berusia 20 tahun saat itu yang sekarang dikenal sebagai pejuang emansipasi wanita masih sangat relevan dengan kondisi yang terjadi dewasa ini. Faktanya belakangan ini terus terjadi sentimen rasial antar anak bangsa yang menimbulkan tanda tanya besar terutama bagi penulis. Sampai sejauh manakah keberagaman bangsa Indonesia akan bisa tetap bertahan.

Apakah sebatas wacana teori?! Atau seperti produk deodorant?! yang wanginya digunakan untuk dipermukaan menutupi masalah yang sebenarnya mengakar. Bilamana disebutkan oleh orang luar, bahwa masyarakat negeri ini terkenal degan keramahtamahannya. Apakah hal tersebut masih relevan?

Kejadian seperti kasus Pura di Lumajang yang dirusak orang tak dikenal. Penyerangan terhadap ulama di Lamongan. Perusakan masjid di Tuban. Ancaman bom di kelenteng Kwan Tee Koen Karawang. Serangan Gereja Santa Lidwina Sleman. Persekusi terhadap Biksu di Tangerang dan banyak lagi kasus intoleransi yang serupa masih terjadi dan nyatanya peran pemerintah belum benar-benar terlihat hadir. Melindungi segenap warga bangsa untuk menjalankan keyakinanya dengan rasa aman dan nyaman.

Dengan demikian masih relevankah bangsa ini disebut sebagai bangsa yang ramah?! Penulis kira, kita bersama harus kembali menelaah tentang tujuan negara bangsa ini diupayahkan untuk merdeka dari penjajah, dengan fakta bahwa masyarakat yang mengupayakan kemerdekaan itu bukan hanya dari satu golongan. Akan tetapi dari semua warga bangsa yang memiliki satu cita-cita luhur. Bahwa kemanusiaan yang beradab harus menjadi kunci kemerdekaan yang abadi.

Jika menelaah kembali tentang peran besar yang bisa dilakukan terutama umat Islam sebagai mayoritas penduduk Indonesia seperti dalam laporan Pew Research. Sebuah lembaga riset global, yang mencatat pada 2010. Indonesia memang menempati urutan teratas sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di Dunia. Pada tahun itu tercatat 209,1 juta jiwa lebih penduduk Indonesia merupakan muslim.

Akan tetapi sangat disayangkan jumlah muslim abangan yang mayoritas seringkali dewasa ini dengan pemahaman seadanya namun dengan “didandani” Untuk tampil terlihat agamis didukung dengan proses editing untuk tampil memukau di media mainstream, lebih banyak diminati hanya karena terlihat menarik, dan sampai pada tahap tontonan yang menjadi tuntunan.

Kebalikannya dengan muslim santri yang jumlahnya sekitar 30 % dari jumlah muslim di tanah air yang pemahaman agamanya bisa dikatakan paling mendalam, akan tetapi malah sering di anggap kurang menarik hanya karena penampilan yang tidak laku untuk dijadikan tontonan, dan tidak sedikit dari kemampuan ilmu yang mendalam dan wawasan yang luas kaum santri itu malah dianggap menyimpang dan menganut berfikir liberal yang kebablasan. Inilah tanda akhir zaman yang sebenarnya, yang ahli malah dianggap menyimpang hanya karena pemahaman orang yang belum paham.

Masyarakat kita juga masih menggap menjalankan ritual semata sudah bisa menjadikan Islam sebagai agama yang akan sampai pada puncak kisah terbaiknya. Padahal bagi penulis orang yang hanya mementingkan ibadah ritual saja, tak ubahnya orang yang egois untuk kepentingan dirinya sendiri tetapi menuntut agama mengantarkan dirinya kepada puncak tertinggi peradaban manusia dan jika berhasil ia merasa ikut terlibat padahal tidak sama sekali.

Untuk itu spiritualitas yang membantu seseorang untuk mengembangkan dirinya secara utuh melalui penciptaan kemungkinan untuk menerapkan nilai-nilai positif harus juga diterapkan dalam bermasyarkat tidak hanya dalam lingkup individu, golongan akan tetapi sampai pada tahap rahmatan lil’alamin.

Baca Juga : Marginal Kaum Pelangi

Untuk itu pemahaman secara kontekstual harus dipahami sebagai bagian penting dalam memecahkan persolaan umat, terutama dalam hal keberagaman yang sudah menjadi ketetapan pencipta. Namun apakah mungkin hal-hal mendasar tersebut dapat diharapkan lebih-lebih diamanahkan pada mereka yang hanya memepercantik penampilan dari pada memperdalam ilmu dan memperluas wawasan khazanah keilmuan?! Bagi penulis tidak akan mungkin!


Riki Asianyah – Seni tablig Seniman NU