Categories: opiniSimponi

Istri Bukan Budak Seks

Share

Saya kira bukan hal yang tabu untuk membahas seks. Apalagi teman saya juga kalangan mahasiswa yang cenderung lebih kritis dan terbuka. Bahkan juga sudah banyak pendidikan seks dalam pelajaran formal sekolah maupun informal seperti pondok pesantren.

Menarik menulis ini, karena semalam saya diskusi banyak mengenai kehidupan berumah tangga dengan seorang bapak X. Saat itu saya sedang duduk wedangan di sekitar kampus, kemudian ada seorang bapak paruh baya (sekitar 30-an tahun) duduk di samping saya dan mengajak ngobrol. Mulanya kami hanya saling tanya kesibukan dan basa-basi lainnya. Namun entah kenapa tiba-tiba si bapak tadi curhat ke sana kemari. Bukan berarti ingin menyebar curhatan seseorang kepada khalayak umum. Namun saya berharap kisah dari bapak X tersebut bisa dijadikan pelajaran.

Singkat cerita, bapaknya adalah seorang duda. Sekitar 3 tahun yang lalu bercerai dengan istrinya. Bapak X sangat menyesal karena hingga saat ini juga belum mau menikah karena trauma dengan rumah tangga sebelumnya. Mantan istrinya saat ini tinggal bersama orang tuanya. Dengan mantan istrinya, bapak X memiliki satu orang anak yang sampai saat ini belum pernah ditemuinya sejak bercerai. Yang lebih memilukan adalah bapak X tidak bisa mencukupi kebutuhan mantan istri dan anaknya.

Mungkin bapak X tersebut juga memberikan pesan kepada saya bahwa kehidupan keluarga tidak segampang yang dibayangkan. Soalnya bapak dan ibu saya juga baik-baik dalam berumah tangga. Dan ternyata dunia sangat luas untuk melihat segala fenomena. Apapun. Termasuk kehidupan berumah tangga. Bapak X tersebut saat ini bekerja sebagai tukang las mobil. Dan hanya tinggal di kos. Tidak pernah pulang ke rumah orang tuanya.

Fenomena perceriaan di Indonesia

Setelah cerita banyak dengan bapak X, kemudian saya mencari fenomena perceraian di Indonesia. Berdasarkan data di website Mahkamah Agung (MA), 419.268 pasangan bercerai sepanjang 2018. Dari jumlah itu, inisiatif perceraian paling banyak dari pihak perempuan yaitu 307.778 perempuan. Sedangkan dari pihak laki-laki sebanyak 111.490 orang. Beberapa kasus yang menyebabkan perceraian di antaranya adalah faktor kekerasan fisik. Namun saya kira bukan hal yang aneh KDRT terjadi pada sebuah keluarga. Banyak faktor seperti finansial, perbedaan keputusan, dan sistem kerja berumah tangga.

Kemudian saya berpikir bahwa kehidupan berumah tangga bukan hanya sekedar dua sejoli yang saling mencinta dan cukup kebutuhan finansial. Melainkan banyak faktor, dan yang paling penting adalah kesiapan mental psikologis antar pasangan.

Bapak X tersebut juga memberi banyak saran, setelah beliau tahu saya belum berumah tangga. Inti dari pesan tersebut adalah pernikahan harus berdasarkan restu orang tua. Sedang yang paling utama adalah mengendapkan ego satu sama lain. Apalagi untuk ukuran pemuda yang masih labil dalam segi emosional.

Baca Juga: Wanita Adalah Tiang

Budak Seks

Ini adalah salah satu dari beberapa sumber yang menyebabkan bapak X bercerai dengan istrinya. Hampir setiap hari bapak X meminta istrinya untuk “melayaninya”. jika menolak maka akan melakukan kekerasan fisik. Bapak X begitu menyesali perbuatannya. Meskipun istrinya tidak pernah berontak secara kasar. Namun seiring berjalannya waktu, bapak X menyadari kesalahannya. Bahwa istri bukan hanya sekedar budak seks dalam berumah tangga.

Istri juga mempunyai hak dan tanggungjawab yang semestinya menjadi komitmen mereka yang berumah tangga. Sehingga saling rela, rida, dan bahagia. Tidak memaksakan kehendak dan saling membantu di antara keduanya. Dalam berumah tangga memang dibutuhkan kedewasaan satu sama lain. Meski beberapa mengakui bahwa kedewasaan akan muncul secara naluriah setelah menikah, namun alangkah lebih elok jika disiapkan sebelum menikah. Dewasa itu pilihan dan proses belajar untuk bisa lebih memahami.

Bukan bermaksud ingin menasehati orang yang sudah berumah tangga. Toh, saya sendiri juga belum berumah tangga. Saya yakin juga tidak akan berpikir linier demikian jika nanti sudah berumah tangga. Setidaknya kisah dan cerita bisa menjadikan pelajaran untuk menatap masa depan.

Sebagai suami tentu yaang diperhatikan adalah harkat martabat seorang istri. Istri sekarang bukan wanita di jaman Bani Isroil yang hanya dijadikan pemuas nafsu para lelaki. Wanita punya peran, bukan sampah yang habis manis sepah dibuang.

Memang menjadi tugas istri untuk memenuhi kebutuhan biologis seorang suami. Namun juga perlu diperhatikan situasi dan kondisi. Tidak serta merta mesti menuruti kebutuhan seks setiap saat diperlukan. Suami tidak akan pernah merasakan perjuangan seorang istri yang pagi hingga malam selalu bekerja demi rumah tangga.

Terakhir sekali bapak X membayari saya makan dan tersenyum seolah menemukan hasrat hidupnya kembali. Padahal saya hanya tempat keluh kesahnya. Sama sekali tidak memberikan solusi atas masalah yang menimpa bapak tersebut. Saya juga menyadari diri bahwa saya belum menikah dan tidak sopan menasehati orang yang sudah menikah. Sebenarnya banyak cerita yang ingin saya bagikan. Namun saya bingung, soalnya ada beberapa aib yang memang tidak baik untuk diceritakan. Salam.

-2018


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU