Categories: LiputanSimponi

Lembar Maiyah: Halaman 7

Share

Islam adalah institusi yang di dalamnya ada silmi. Jauh sebelum peradaban Islam berkembang, manusia melakukan silmi dalam otoritas dirinya masing-masing. Memegang prinsip keislaman yang dituntun langsung oleh Allah Swt. Diajarkan oleh ratusan nabi sebelum akhirnya dipatenkan oleh Nabi Muhammad Saw.

Silmi adalah perilaku yang dinahkodai oleh nurani setiap manusia. Bagaimana mereka berkata, berbuat, dan mengambil keputusan. Belajar tentang makna hidup dari segala bentuk sebab-akibat. Tentang kebaikan dan keburukan. Mereka menemukannya sebelum kemudian dikuatkan dalam sebuah institusi yang bernama agama.

Agama-agama yang mengatur tentang kebijaksanaan kepada umat atau pemeluknya. Keberkahan anugerah yang diberikan oleh Allah melalui berbagai cara, jalan, dan bentuk. Kemudian manusia mengelaborasi menjadi dasat atau prinsip kehidupan.

Dalam perjalannya, manusia sebagai pemeluk agama sering melupakan aspek kebijaksanaan yang seharusnya diajarkan setiap agamanya. Agama yang kemudian menyusun “udang-undang” dalam bentuk syariat, fikih, akidah, akhlak, dan lain sebagainya. Mereka terbuai dengan euforia panji-panji kekuasaan untuk saling mengalahkan satu sama lain, bahkan kepada sesama pemeluk agama.

Silmi menjadi titik renung manusia untuk kembali mengingat hakikat adanya Tuhan, manusia, alam semesta, dan tentunya agama itu sendiri. Tentang perintah dan larangan, kebolehan menjalankan sebuah ritual, dan cara memanusiakan manusia satu sama lain. Sehingga fitrah manusia menjadi manusia yang baik tanpa balutan agama yang bersifat kaku sebagai sebuah institusi.

Qadha dan Qadar

Dalam rukun iman yang terakhir, kita diajari tentang keyakinan terhadap qadha dan qadar. Ketentuan-ketentuan Allah Swt. ini seharusnya menjadikan manusia yang nrimo atas segala hal yang sudah ditakdirkan. Qadha sebagai ketentuan yang bisa menyadarkan manusia atas segala pertanggungjawaban manusia itu sendiri. Mereka berbuat akan menerima akibat. Jika berlaku baik akan diganjar kebahagiaan, sebaliknya jika berbuat jahat akan mendapat hukuman. Sedangkan Qadar adalah ketentuan mutlak dari Allah Swt. yang setiap orang tidak diberikan hak atas apa yang sudah ditakdirkan.

Baca Juga: Lembar Maiyah – Halaman 5

Pada diri setiap manusia selalu tersirat nur illahiyah yang bisa diekspresikan menjadi keberkahan kepada yang lain. Ibarat Islam sebagai hilir, silmi menjadi hulunya. Agama sebagai buah, silmi adalah benih atau bibitnya. Jika benih kebaikan yang sudah ditanam dalam diri manusia, maka cerminan atas agama yang dianutnya akan terlihat baik.

Silmi itulah yang bisa mengubah qadha manusia untuk mendapatkan ganjaran atas apa yang telah dilakukan, baik kepada Tuhan maupun kepada sesama. Kalau dalam ajaran hindu ada istilah karma, maka manusia seharusnya sering untuk muhasabah atau instropeksi diri untuk senantiasa berlaku bijak tanpa tendensi menyakiti sesama. Entah dalam tindakan fisik atau ungkapan yang bisa melukai perasaan sesama. Saling dendam, saling hujat, saling menyerang yang parahnya mengatasnamakan agama.

Istighfar

Melihat keadaan yang serba penuh kebencian dan caci maki, kita kembali diingatkan tentang perjanjian luhur antara Allah Swt. dengan manusia sejak awal penciptaan. Aspek ruhani yang sudah hilang untuk kepuasan hasrat dan hawa nafsu kekuasaan, kekayaan, dan eksistensi.

Istighfar, sepertinya menjadi cara untuk kembali menjadi manusia yang silmi tanpa mengurangi esensi dari agama yang sejati. Menjadi pribadi yang patuh dan tunduk kepada segala hal yang sudah ditakdirkan. Tidak menjadi manusia yang malah menimbulkan kegaduhan dan memancing pertikaian terhadap sesama – sesaudara.

Mbah Nun mengajak khususnya kepada jamaah maiyah untuk senatiasa beristighfar atas segala perbuatan yang mungkin salah tapi tidak kita sadari. Sekalian meng-istighfarkan seluruh umat manusia atas segala bentuk kelalaian yang menyebabkan bala bencana. Tidak ada daya dan kekuatan selain dari Allah Swt.

Jika memang kehendak untuk diberikan musibah dan masalah, maka setiap manusia dituntun untuk pasrah dan menyerahkan segalanya kepada Allah Swt. Sekali lagi dalam pribadi manusia terdapat silmi masing-masing. Mereka mempunyai pendirian sebagai rakyat yang mengatuh kekhilafahan dalam dirinya. Segala intervensi dari pemerintah, institusi, organisasi, bahkan agama tidak akan mampu mempengaruhi kualitas silmi sebagai sinar kebaikan dalam diri manusia.

Banyak cara untuk mengingat Allah Swt. Istighfar adalah salah satunya, sebagai bentuk pembersihan dan pensucian diri dari segala kesalahan dan kekhilafan manusia terhadap Allah, manusia, dan alam semesta.

Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU