Categories: opiniSimponi

Islam Abu Abu

Share

Islam Abu-Abu. Identitas muslim sekarang menjadi bahan rebutan sesama ormas atau madzab. Pengakuan dengan menunjukan berbagai bukti tentang kemusliman satu sama lain. Di sisi lain, mereka yang dipameri iman seseorang, juga berlaku sama (memameri keimanan kepada yang lain). Sehingga agama menjadi bahan pertontonan untuk saling berlomba menampakan siapa yang pantas menyandang gelar muslim.

Pembahasan agama bisa menjadi hal yang sensitif pada beberapa aspek. Bukan hanya bagi mereka yang berbeda keyakinan, bahkan sekarang yang berbeda pilihan politik juga agak sungkan untuk diskusi seputar agama. Kemajuan teknologi informasi memaksa umat saling menyalip pengetahuan untuk mendebatkan keyakinan.

Apalagi jika sudah memasuki ranah politik. Tentang kekuasaan (menguasai kelompok), bisa berupa paradigma, keputusan membela dan menentang, dan hak untuk ikut bersuara atas kebenaran sang penguasa panggung. Jamaah yang kurang wawasan dalam beragama akan dengan mudah mengikuti segala bentuk doktrin untuk mengubah karakter sebelumnya. Tawaran tentang kebenaran individu sang penguasa yang menggiurkan dan layak diidamkan sebagai bahan untuk berargumen kepada yang lain.

Panggung-panggung yang dikuasai oleh mereka yang kurang paham tentang konsep agama bisa menimbulkan kegaduhan di ruang publik. Perbedaan yang seharusnya menjadi berkah bisa menjadi amarah, agama yang seharusnya saling mengasihi bisa berubah saling mencaci maki. Microphone sudah ada di mana-mana, semua umat punya hak untuk membunyikannya. Bisa pula meneriaki dengan mengencangkan volume suara, intensitas yang padat, dan kalimat provokasi untuk sengaja memancing keriuhan.

Jamaah yang saling baku hantam di bawah hanya menjadi lelucon bagi penguasa panggung. Satu atau dua kalimat di media sosial (oleh sang penguasa agama) akan menjadi ajang saling menyumpah serapah sesama muslim di kolom komentar. Mereka dengan sesuka hati mewadahi jamaah untuk saling bertikai. Sedangkan mereka sendiri (pejabat politik agama) bisa senyam-senyum karena eksistensinya di ruang publik yang begitu meriah.

Baca Juga: Islam, Proyek Konstruksi yang Mandeg

Dimensi Gerak Agama

Agama memiliki dua dimensi gerak. Pertama, dimensi ajaran bergerak ke dalam untuk mengatur kehidupan umatnya sendiri. Kedua, dimensi ideologi bergerak keluar dalam interaksinya dengan ideologi-ideologi lain, dalam posisi sebagai salah satu ideologi umat.

Pada dimensi ideologi inilah, sebagai konsekuensi interaksi, Islam memasuki wilayah politik, di samping wilayah kultural. Wilayah politik terkait dengan kemestian “sifat alami daya saing” yang dimiliki oleh setiap ideologi. Doktrin politik dalam agama bermula dari kepentingan untuk mengatur rumahtangga internal umatnya.

Dalam Islam, pertemuan dimensi ajaran dan dimensi ideologi dimodali oleh tiga hal:

  1. Sifat Islam sebagai “rahmat bagi seluruh alam semesta”,
  2. Tugas sebagai khalifah Tuhan, dan
  3. Perintah untuk taat kepada Tuhan, Rasul, dan pemerintah yang berkuasa.

Dimensi kedua adalah realitas politik agama bisa memperoleh tempat yang lebih menonjol dibanding dengan dua hal lainnya. Kemungkinannya adalah munculnya klaim dari diri umat Islam sendiri sebagai khalifah Tuhan. Klaim ini dapat berupa persaingan internal antar kelompok-kelompok umat Islam sendiri atau antara umat Islam dengan komunitas di luarnya. Terlepas dari kompetisi politis yang variatif tersebut. Hal pertama dan ketiga menjadi kontrol bagi keberlangsungan politik, yang diwujudkan dalam program-program tertentu. Dalam hal inilah akses sosiologis realitas politik teruji.

Islam Abu-Abu

Melimpahnya informasi tafsir agama, membuat sebagian kalangan resah menentukan keyakinannya. Agama hanya disandarkan pada menurut orang lain yang dianggapnya ulama. Tentang keyakinan – akal malas untuk mecari dan berpikir mengenai sesuatu yang disebutnya Islam abu-abu.

Melihat kegamangan yang begitu menular di masyarakat, ada seorang atau sekolompok yang dengan mudah memasukan ideologi. Keabu-abuan seseorang bisa dengan cepat berubah menjadi hitam dan kadang bertransformasi menjadi putih. Agama hanya dijadikan pakaian menutupi segala aib kebimbangan manusia.

Pilihan mengenai warna dan jalan yang dirasa sulit menambah kekhawatiran. Apalagi tidak adanya titik terang tentang sebuah kebenaran yang mutlak. Semua serba katanya. Persepsi tentang Islam juga tidak dipertimbangkan dengan matang. Sehingga pemikiran tekstual bisa ditelan mentah tanpa mau melibatkan akal untuk sejenak merenungi tentang hakikat sebuah agama.

Islam abu-abu menjadi sebuah renungan bahwa manusia harus terus menjalani proses penyucian diri dari segala tipu daya dan sikap kemunafikan. Berbagi peran dengan sesama, mahabah kepada sang kuasa. Memasrahkan diri kepada Illahi, beramah tamah kepada yang lain. Islam tidak semenakutkan neraka, tidak pula mencekam seperti bencana. Islam tidak keras seperti batu, tidak pula lihai mencaci seperti pengecut. Islam damai dengan segala bentuk keragaman dan  kebersamaan.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU