Categories: kolase

Interaksi Bunyi

Share

Interaksi bunyi, bagaimana manusia-manusia itu bisa bicara anti-bunyi?

Jam 7 lebih 7 menit. Biasa dalam rutinitasnya, Namines terbangun dan menepi di batas sinar mentari, di ujung sawah. Menghisap sebatang, dua batang rokok. Menikmati.

Suara lalu lalang kendaraan bermotor, suara angin mendesis, suara muda-mudi tertawa penuh lepas tentang kisahnya masing-masing. Seseorang melangkah menimba sumur dan menuangkan ke dalam bak. Alunan suara air mengalir semakin menambah harmonis kehidupan.

“Namines….”, panggil seorang kawan dari balik gerbang. Bukan kata, tapi nada. Demikian yang dirasakan Namines. Tentang bunyi, suara, nada, irama, rima, dan tempo intonasi yang begitu indah. Dalam lamunannya, dia kembali menghitung berapa banyak suara yang dihasilkan dari tubuhnya.

“Bagaimana bisa harmoni, jika intonasi saja bisa beribu arti dan sering disalahpahami” Ada kalanya kita berjumpa, berdialog, dan saling berbagi suara. Minimal mengurangi konflik adanya gesekan pemahaman yang timbul dari teks mentah. Butuh banyak diksi untuk menguatkan ekspresi yang itu sangat mudah diekspresikan jika bertemu. Ah, alangkah hamoninya kehidupan jika tanpa alat untuk menjenuhkan manusia bersuara dan giat menulis teks.

Suara-saura itu bisa pula menimbulkan opini dan maksud untuk mempengaruhi. “Sepertimu Namines, sang orator!” Dengan suara yang melengkin, detak kaki bertempo, dan intonasi yang bersahutan mencipta melodi lagu-lagu sarat makna. Semakin banyak mengeluarkan bunyi, semakin berpengaruh ia kepada sesamanya.

Pertanyaannya, apakah bunyi dan suara tersebut berpengaruh baik atau malah sebaliknya jika dikeluarkan? Bagaikan penyanyi di atas panggung yang menggiring penonton untuk mengikuti irama musik yang dilantunkan. Sang pengaruh begitu leluasa memainkan bunyi dan memperdengarkan bunyi kepada mereka yang mau-mau saja pasif menerima bunyi. Sembarang bunyi yang menurutnya baik, meski begitu memuakkan bagi yang mendengarkan.

Manusia berlomba memekikkan suara untuk menghasilkan bunyi dengan volume maksimal. Dimanapun! Sebuah grup, dalam obrolan, dan ketika sendiri bergulat dengan ego. Seolah jika seorang melawan bunyi dari kebiasaan yang diperdengarkan oleh orang banyak, ia akan merasa menjadi istimewa. Dengan pemikirannya yang melawan dan begitu vocal. Harapannya? Menjadi pusat perhatian dan terlihat istimewa dengan irama bunyi yang beda dari yang lain.

Baca Juga: Takut pada Kekasih

Manusia-manusia dalam interaksi bunyi yang kadang dipamerkan suara bass – pelan namun menggetarkan seisi jiwa. Merasa teraniaya, namun dibaliknya melengkingkan suara petir di siang bolong. “Merendah, merendah, meledak menjadi kemaluan”.

Suara tidak punya perasaan. Dia tidak berwujud seperti daun dan bulu kambing. Pendengaran yang akan mengartikan makna bunyi di balik logika manusia. Maksud dan tujuan mengeluarkan bunyi. Penilaian apakah akan mendapat riuh tepuk tangan atau cacian karena sifat-sifat keminter.

“Biarkan saling berbenturan. Salah satu hakikat bunyi.” Merelakan mereka yang doyan berbunyi-bunyi sampai membisingkan telinga binatang. Sampai muntah sekalian. Agar segera lekas bunyi yang begitu tidak beraturan segera larut dan menghilang. Lepas.

Menghela nafas. Suara yang begitu sesak dan menghempas bersama perasaan lega. Namines melangkahkan kaki menuju kemanapun. Sesekali memperhatikan gesekan-gesekan benda berwujud yang menghasilkan suara. Menepuk tangan sebagai tradisi apresiasi atas sebuah kemanangan. Kembali. Namines akan menemukan jutaan arti dalam balutan bunyi. Berinteraksi dan menyanyikan puisi.

Hewan menyambut hari dengan riangnya. Burung bermain perkusi, belalang menggesek biola, dan pengemis yang bermain gitar. Semua yang ada berbunyi sesuai selera masing-masing. Kenampakan yang sangat indah bagi manusia yang asing dengan kemunafikan – Namines.

Interaksi bunyi, menyiratkan bahwa manusia selalu mendedikasikan suara untuk kehidupan. Dalam ketidaksadarannya, melantunkan kebaikan meski sering ditafsirkan kesombongan. Menyederhanakan melodi, disangkanya kebodohan. “Semakin banyak berbunyi, maka kamu akan semakin terlihat bodoh”.

Tong kosong nyaring bunyinya ~

Otak kosong gak ada isinya ~

Ngoceh sana sini, gak ada bukti ~

Itu tong kosong, nyaring bunyinya ~

Semakin banyak bersuara, berbicara, dan berbunyi, semakin banyak pula dibenci. Maka daripada itu, Diamlah! Senyap!

(Cerita fiksi “Namines Mencari Jalan”)


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU