Categories: SimponiWarganet

Bertahap Menjadi Produsen Kabar Baik kepada Sesama

Share

Informasi yang baik, berita baik dan kabar baik, siapakah yang sebenarnya yang harus bertanggung jawab atas ini semua?! Siapapun kita boleh bertugas, masyarakat tidak bisa berdiri sendiri tanpa pemerintah dan pemerintah tidak bisa berdiri sendiri tanpa masyarakat. Maka ada 4 pihak yang bertanggungjawab, pertama adalah pemerintah, kedua adalah kalangan dunia usaha, yang ketiga adalah kalangan perguruan  tinggi, yang keempat adalah masyarakat itu sendiri.

Jadi ada 4 pihak yang paling terpanggil untuk melakukan pembenahan – pembenahan karena informasi yang membanjir. Diberitahukan 3 gambar gembira bagi tiga golongan manusia. Dalam firman itu Allah Swt., memberikan petunjuk agar kita meningkatkan mutu informatif kita sebagai orang yang beriman.

Jenjang perbaikannya adalah (a) konsumen informasi, yang dalam bahasa kita, “Yang terbuka menerima semua informasi”. Orang semacam ini terbuka menerima informasi yang baik, yang berguna. (b) pencerna informasi, lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya”. Maksudnya, setelah menerima semua informasi yang baik, kemudian memilah dan memilih, sehingga dapat menentukan yang terbaik. Dan itulah yang diikuti. Pada jenjang kedua ini daya pilih atas informasi atau daya selektivitas orang beriman dapat bekerja sebagaimana seharusnya, dan (c) produsen informasi, pada jenjang kualitas ketiga ini, orang mengikuti informasi yang terbaik, kemudian menyandarkan penghayatannya kepada petunjuk Allah berdasarkan ilmu yang dimilikinya. Orang-orang seperti ini disebut sebagai Ulul Albab, yaitu orang cerdik pandai yang mendapatkan petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Baca Juga: Negara Gemar Membaca

Pada tahun 1984 di Brazil, mulai muncul siaran televisi yang membuat masyrakat sangat gandrung sekali menonton telivisi, sehingga tontonan yang tidak diperlukan akhirnya tetap ditonton juga, yang membuat pergi ke sawah menjadi kesiangan, dan cepat–cepat pulang dari tempat kerja hanya untuk nonton televisi, hal ini membuat produktivitas  masyarakat berkurang. Beruntung sekali di sana ada sekelompok orang yang peka terhadap hal ini, sehingga didiskusikan secara sarasehan dari kampung ke kampung.

Maka di Solo ada tradisi HIK wedangan. Anak muda meninggalkan handphonenya di rumah sambil nongkrong di HIK, tanyakan kepada teman–teman di situ dan sejarah Eropa membangun pikiran–pikiran modern itu dari wedangan. Semua orang harus melepas jabatanya, melepas subjek dirinya, setiap orang menjadi individu, maka muncullah CFD, di situ ngobrol dengan banyak orang. Jangan cuma makan saja, karena di situ bisa cair.

Maka jangan sampai pakai lambang jabatan di situ. Pakai kaos olahraga itulah, manfaatkanlah pertemuan offline, secanggih apapun manusia sepintar apapun manusia, naluri dasar manusia adalah butuh pertemuan mempribadi, kecanggihan manusia tidak ditentukan oleh alat tapi human instrumentnya sebagai alat ciptaan Tuhan.

Kalau dalam jurnalis itu ada fase new media, ada definisi yang lebih konkrit lagi. Pertama yakni mesin pencari,kita bisa asosiasilan google. Kemudian yang kedua media sosial, kalau kita bisa asosiasikan facebook itu sumber daya politik dan ekonomi, maka sumber daya politik kita jaga agar tetap demokratis. Jangan pikir yang aneh–aneh, kita ini masyarakat yang bhineka. Maka pemilu kita perwujudan dan kedaulatan rakyat.

Untuk memperbaiki sumber daya kita, berhubungan dengan wakil rakyat penting, yang PKL ditata supaya bisa jualan ditata aksesnya. Maka penting buat kita, berbagi pandangan juga penting untuk mengkonfirmasi. Hari hari ini kita tidak bisa lepas dari hoaks, tidak bisa menghindari kebohongan. Artinya ketika terkoneksi dengan internet kita 24 jam menerima konten. Apalagi anak muda sekarang orang menyebutnya generasi menunduk, jejeran tapi enggak ngobrol. Ini membuat produsen hoaks sangat senang.

Kembali ke kepentingan tadi. Kita punya formulanya, kita menyebutnya dengan kebeningan nurani, kita bisa merasakan kok ini informasi betul atau tidak, bekal kita ini menjadi tumpul ketika kita ada kepentingan. Maka pertama kali agar terhindar terpapar dari hoaks adalah jangan tutup mata dan jangan tutup telinga. Tentang menyebar berita yang belum tahu kebenarannya ini sangat fatal dan berisiko sekal. Karena bisa memilih ya, bisa mengecek pasti bisa memikirkan, ini belum mengecek tapi ikut menyebarkan. Kalau fitnah menyadari akibatnya, nanti orang bisa salah paham berkelahi, orang bisa marahan sama orang orang lainnya. Maka perlu kebeningan nurani dan mengasahnya dalam diri kita.

Semakin beragam semakin plural itu ancaman semakin besar. Berbeda jika homogen, karena memanajemennya enak. Apalagi di Indonesia ini, mungkin negara satu–satunya yang sangat plural ini ya di Indonesia. Ini memang berbanding lurus dengan ancaman, kita di Indonesia masing–masing pribadi punya kepentingan dan ancaman. ketika kepentingan ini dielaborasi dan diekspresikan tanpa ada kesadaran diri dari kita. Tidak menyadari bahwa kebhinekaan ini bagian dari kita.

Sementara dari luar, ketika melihat Indonesia yang kaya raya mereka pasti punya kepentingan. Sekarang bukan peluru kendali atau nuklir namun kekuatan informasi. Indonesia adalah kentang panas, kentang itu paling enak dinikmati saat masih panas. Indonesia ini adalah kentang panas, tambang apapun ada di tempat kita, yang kelihatan hanya sebagai emas, sebagai tembaga, tapi ada cobalt di dalamnya.

Baca Juga: Akhlak dan Hizbul Hoaks Indonesia

Cobalt ini bahan yang diperlukan untuk instalasi nuklir, ternyata ada emas putih, nikel, platinum. Macam–macam ada di bumi indonesia. Kita ini juga sangat beragam. Afghanistan itu ada 7 suku utama, kita ada 714 suku. Di Swiss itu sangat homogen, tetapi 20 tahun buku pelajaran mereka sudah tidak berlaku karena kelas SD sampai SMA sudah beragam budayanya dengan banyaknya anak–anak dari lembaga internasional, kaget mereka. Maka kita bersyukur betul atas kekayaan yang kita punya ini. Tetapi ingat, kita adalah hot potatos! Kita harus sadar bahwa kita ini sasaran. Kita jangan hanya konsumen informasi, tetapi syukur bisa menjadi ulul albab atau produsen informasi.

Ada kata yang sangat sederhana, tutur itu cermin rohani, kalimat tulis itu cermin keterpelajaran. Maka hati-hatilah bertutur kata dan cermatilah ketika sedang menulis, karena akan menampakkan kualitas kita sebagai manusia. Mudah mudahan kita ummat Islam semakin sehat berinformasi dan berkomunikasi, kita jaga ukhuwah kita karena itu kekayaan yang luar biasa buat kita.

Disarikan oleh Ustaz Ahmad Hasan Al Baidlowi, S.H.


Fadhel Moubharok – IPNU Kabupaten Sukoharjo