Categories: biografiFolkor

Imam Muslim: Muslim Ibnul Hajjaj Al Imam Al Hafidz Hujjatul Islam

Share

Imam Muslim mempunyai nama lengkap Al-Imam Al Hafidz Abu Husain Muslim bin Hajjaj al-Qushairy al-Naisabury. Ia dinisbatkan kepada Nishabur karena dilahirkan di kota Nishabur Iran. Ia juga dinisbatkan pada nenek moyangnya Qushairi ibn Kan’an ibn Rabi’ah ibn Shasha’ah suatu keluarga bangsawan besar di Naisaburi. Beliau dilahirkan pada tahun 204 H dan ada yang ada juga yang mengatakan tahun 206 H.

Imam Muslim sudah mulai belajar hadis sejak usia kuarang lebih 12 tahun. Sejak saat itu banyak sekali perjalanan yang telah beliau lakukan untuk mencari hadis. Beliau pernah belajar hadis di Khurasan dan mendengar hadis dari Yahya bin Yahya, Ishaq bin Rahawih, dan lain-lain. Beliau juga pernah di Ray dan mendengar hadis dari Muh}ammad bin Mahran, Abu Ghassan, dan lain-lain. Di Hijaz beliau mendengar dari Sa’id bin Manshur, Abu Mash’ab, dan lainnya. Di Irak mendengar dari Ahmad bin Hambal, Abdullah bin Muslimah, dan lain-lain. Di mesir mendengar dari Amr bin Sawad, Hamalah bin Yahya, dan beberapa orang lainnya.

Imam Muslim banayak mengahasilkan banyak karya kitab hadis. Di antaranya: Jami’ al-Sahih (Kitab Hadis yang terkenal dan beredar hingga saat ini), Al Musnad Al-Kabir ‘Ala Al-Rijal, Al-Asma wal Kuna, Al Ilal, Al-Aqran, Sualatihi Ahmad bin Hanbal, Al Intifa’ bi Uhubis Siba’, Al-Muhadramain, Man Laisa Lahu illa Rawin Wahiidin, Auladul Sahabah, Auhamul Muahddisin.

Imam Muslim memberikan nama kepada kitabnya dengan “Al Musnad Al Sahih”, kemudian terkenal dengan nama “Sahih Muslim”. Kitab ini diakui ada pada posisi kedua setelah Sahih Bukhari. Kitab sahih muslim muncul pada sekitar abad ke-3 hijriah, yaitu pada masa pemurnian, penyehatan, dan penyempurnaan. Pada masa ini kegiatan ulama hadis antara lain mengadakan lawatan ke daerah-daerah yang jauh. Mengadakan klasifikasi hadis yang marfu’, mauquf, dan maqtu’. Selain itu juga mengklasifikasikan kualitas hadis menjadi sahih dan dhaif. Mereka juga menghimpun kritik-kritik yang dilontarkan oleh ulama kalam dan lain-lain, baik yang ditujukan pada para periwayatnya, maupun pada matannya. Mereka juga menyusun kitab-kitab hadis secara sistematis.

Baca Juga: Imam Bukhari – Amirul Mukminin Fil Hadits

Imam muslim menyusun kitab ini terdiri dari 300 ribu hadis yang masmu’ (melalui indera pendengaran) dan menghabiskan waktu selama 15 tahun. Beliau pun menjelaskan, bahwa beliau tidak menyimpan satu hadis kecuali yang telah disepakati oleh para ulama. Karena, tidak semua hadis sahih disimpan di dalamnya. Imam Muslim pernah mengatakan: “Tidaklah aku menyimpan satu pun (hadis) pada kitabku ini kecuali dengan alasan (hujjah). Dan tidaklah aku menggugurkan satu pun (hadis) kecuali ada alasan tertentu”. Beliau pun mengatakan: “Tidak semua hadis sahih yang aku hafal, aku simpan di sini, Akan tetapi, aku menyimpan hadis yang disepakati oleh para ulama”.

Metode dan Sistematika Kitab Sahih Muslim

Imam Muslim menggunakan metode yang sangat bagus dalam penysunan kitabnya. Matan-matan hadis yang senada atau satu tema dihimpun pada satu tempat lengkap dengan sanad dan matannya. Tidak memotong atau memisah-misahkannya dalam beberapa bab. Beliau juga tidak mengulang penyebutan hadis kecuali dalam jumlah sedikit karena adanya kepentingan yang mendesak menghendaki adanya pengulangan. Seperti untuk menambah manfaat pada sanad atau matan hadis.

Berdasarkan jalan yang ditempuh imam muslim dalam men-takhrij-kan hadis nya, para ulama memandang bahwa muslim meriwayatkan hadis yang sempurna. Memiliki syarat-syarat ke-Sahihan dan memiliki sanad muttasil dengan syarat adil dan kuat hafalan dari awal hingga ahir tanpa shad dan ‘ilat. Hal itulah yang menjadikan hadis dalam kumpulan Sahih Muslim memilki keunggulan dari kitab hadith yang lain. Di samping itu muslim sangat teliti, sehingga ia bedakan antara kata haddathana dengan kata akhbarona. Yang pertama mengandung pengertian bahwa hadith tersebut langsung didengar melalui ucapan guru, sedangkan yang kedua hadith itu dabacakan atas nama guru. Hadith-hadith tersebut ditulis dengan matan yang sempurna tanpa pengulangan.

Imam muslim telah menjadikan prinsip ‘an’anah (transfer secara langsung antara periwayat hadis dengan nara sumber hadis) sebagai azaz dalam pola seleksi mutu transmisi hadith. Karena asas itulah imam muslim selalu memelihara bukti kepastian bahwa antar pendukung riwayat itu benar-benar hidup semasa (mu’asarah). Mungkin pula dapat dibuktikan dari segi kecukupan waktu bagi proses berlangsungnya kontak pribadi (thubutu al-liqa’i) antar mereka.

Syarat kepribadian rijalul hadis mengutamakan mereka yang hafiz}, Muttaqin (profesionala dalam ilmiah hadis), adil lagi pula dabit (terpercaya hafalanya). Jujur serta terjamin stabil cara berfikirnya. Koleksi Sahih Muslim menampung pula hadis-hadis perawi yang tingkat hafalan dan keahlian hadis-nya tingkatan menengah. Perawi setingkat mereka lazim disejajarkan dengan peringkat kedua. Yang jelas Imam Muslim sama sekali tidak memberi tempat pada perawi hadis yang disepakati kelemahan pribadinya atau perawi hadis yang disepakati kelemahan pribadinya atau perawi hadis yang kebanyakan ulama muhaddisthin menolak periwayatanya. Koleksi hadis pada Sahih Muslim mengkhususkan pada hadis-hadis musnad, muttasil, dan bersambung (marfu’) kepada Nabi Muhammad Saw. Sejalan dengan spesifikasi tersebut maka sulit dijumpai ucapan sahabat (Qoul Sahabi) apalagi qoul tabi’in.

Tata letak dalam menyajikan hadis senantiasa diawali dengan hadis yang berkualitas tersahih disusul kemudian dengan hadis sahih dan urutan terahir untuk hadis yang diunggulkan sebagai sahih. hadishadis dengan aliokasi terahir itulah yang menurut analisa Alqadi’iyadh setara dengan hadis hasan seperti pola koleksi yang dilakukan oleh ibnu huzaimah dan ibnu hibban.

Baca Juga: Abu Yazid Al Busthami

Karya Imam Muslim

Pengantar sanad maupun redaksi matan hadis dalam koleksi Sahih Muslim menjunjung tinggi tehnik riwayah bil lafz’i, yakni cara pengungkapan seluruh batang tubuh hadis dengan mempertahankan keaslian redaksinya. Pemuatan hadis dalam sahih muslim selalu diwarnai oleh penyajian informasi matan selengakapnya tuntas dan utuh. Pola penyajian semacam itu telah menjadi redaksi suatu hadis dalam sahih muslim demikian panjang, mirip laporan pandangan mata yang sempurna.

Periode penapisan dan penyusunan sahih muslim berlangsung selama masa hidup guru-guru imam muslim dan seluruhnya dikerjakan di rumah kediaman tetap beliau. Proses tersebut amat menunjang segi kerapian teks dan menjadi kecil kemungkinan salah tulis dalam mencantumkan nama pera pendukung/rijal hadisnya. Pada tahap akhir proses pengujian mutu validitas hadis Imam Muslim memanfaatkan konsultasi rutin dengan ulama hadis di Naisabur bernama abu Zu’rah Arrazi (264 H). Setiap kali abu Zurah Arrazi mengisyaratkan indikasi illat. Maka imam muslim segera membatalkan pemuatan hadis berillat itu ke dalam koleksi sahihnya. Apabila abu Zur’ah tidak mencurugainya maka hadis tersebut akan dimuatnya.

Dalam penulisan kitab sahihnya, Imam muslim memulai dengan al-Iman yang berisi 380 hadis, al-Thaharah (1010), al-Haid (136), al-Shalat (285), al-Masjid (316), Shalat al-Musafir (312), al-Jum’ah (13), shalat ‘Idain (22). Shalat Istisqa’ (17), al-Kusuf (29), al-Jana’iz (108), al-Zakah (117), al-Shiyam (222), al-I’tikaf (10), al-Hajj (522), al-Nikah (110), al-Thalaq (32).

Al-Radha’ (134), al-Li’an (20), al-‘tq (26), al-Buyu’ (123), al-Masaqat wa al-Muzhara’at (143), al-Faraid (21), al-Hibbah (32), al-Washiyat (22). Al-Nazhr (13), al-Aiman (59), al-Qasamat (39), al-Hudud (46), al-Aqliyat (21), al-Luqathah (19), al-Jihad (150), al-‘Imarah (185), al-Shaid (30), al-‘Adalah (45), al-Asyribah (118). Al-Libas (127, al-Adab (45), al-Salam (155), al-Alfadh (21), al-Syi’ir (10), al-Ru’ya (23), al-Fadhail (174), fadhail al-Sahabat (232), al-Barr wa al-Shilah (166), al-Qadr (34), al-Ilm (16), al-Zikr (101), al-Taubah (60), Sifat al-Munafiqin (83), al-Jannah (84), al-Fitan (14), al-Zuhd (75), dan al-Tafsir (34) Hadis.

Dengan terkenalnya kitab Jami’ al-Sahih, sehingga banyak mendorong para ulama untuk mensharahnya. Di antaranya: al-mafhum fi Sharhi Muslim Abdul Ghafir bin Ismail Al Farisi (529 H), al-Ma’alim fi Sharhi Muslim karya Abu Abdillah Muhammad bin Ali bin Umar Al Mazir Al Maliki (536 H), Ikmal al-Ma’alim bi fawaidi Sharhi Muslim karya Al Qadli Abul Fadl ‘Iyadl bin Musa Al Yahshaby (544 H). Shr Sahih Muslim karya Abu Umar bin Usman bin Shalah (643 H), Ikma’i al-Ikma’i karya Abu Ruh Isa bin Mas’ud Al Zawawi Al Maliki (744 H) dan lain sebagainya.


Angga Saputra – Seni tablig Seniman NU