Categories: biografiFolkor

Imam Ahmad bin Hambal: Pendiri Mazhab Hambali

Share

Ahmad bin Muhammad bin Hambal atau Ahmad bin Hambal adalah imam yang keempat dari fuqaha Islam. Beliau adalah seorang yang mempunyai sifat- sifat yang luhur dan tinggi yaitu sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang yang hidup semasa dengannya. Beliau imam bagi umat Islam seluruh dunia juga imam bagi Darul Salam, mufti bagi negeri Irak dan seorang yang alim tentang hadis-hadis Rasulullah SAW.

Imam Ahmad bin Hambal dilahirkan di kota Baghdad pada bulan Rabiul Awal tahun 164 H, yaitu setelah ibunya berpindah dari kota “Murwa” tempat tinggal ayahnya. Ia berasal dari Marwa, Khurasan. Ia diberi gelar Abu Abdullah Sadusi. Ia adalah Abu Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Hambal bin Hilal Bin Asad bin Idris bin Abdullah bin Hayyain bin Abdullah bin Anas bin Auf bin Qasit bin Syaiban.

Nama bapaknya adalah Muhammad bin Hambal bin Hilal. Bapaknya bukanlah seorang ulama maupun pejabat tinggi negara. Ia hanyalah seorang komandan pasukan militer. Namun, ia merupakan seorang laki-laki terpandang, sebab termasuk seorang pahlawan Islam yang gugur secara syahid di medan pertempuran.

Saat gugur, usia bapaknya masih tiga puluh tahun. Sebagai bapak, ia belum sempat menyaksikan kelahiran putranya yang kelak menjadi imam besar, pendiri mazhab hambali. Oleh karena itu beliau hidup sebagai seorang anak yatim yang diasuh oleh ibunya saja. Ibu beliau bernama Safiyyah binti Maimunah binti Abdul Malik Asy-Syaibani dari suku Amir.

Nama Imam Hambali lebih disandarkan kepada nama kakeknya yaitu Hambal, dibandingkan ayahnya sendiri. Hal ini menandakan bahwa kakek Imam Hambali bukanlah seorang sembarangan. Hambal bin Hilal adalah orang yang terkemuka, yang menduduki posisi yang strategis di pemerintahan. Ia pernah menjabat sebagai Gubernur Sarkhas dan sekitarnya di daerah khurasan.

Imam Hambali hidup sebagai seorang yang rendah dan miskin, karena bapaknya tidak meninggalkan warisan padanya selain dari sebuah rumah kecil yang didiaminya. Oleh karena itu, beliau menempuh hidup yang susah beberapa lama sehingga beliau terpaksa bekerja untuk mencari kebutuhan hidup. Beliau pernah bekerja di kedai-kedai jahit, sebagaimana yang diceritakan oleh Ibnu Rajabul Hambali. Kadangkala beliau terpaksa mengambil mengambil upah membawa barang-barang di jalan-jalan. Meskipun demikian beliau sangat menjaga dengan perkara yang halal. Pada waktu yang lain pula beliau mengambil upah menulis atau ia mengambil upah menenun kain atau menjualnya.

Baca Juga: Imam Abu Hanifah – Mazhab Fikih Tertua

Pendidikan Imam Ahmad bin Hambal

Imam Ahmad tumbuh dewasa sebagai seorang anak yatim. Ibunya, Shafiyyah binti Maimunah binti ‘Abdul Malik asy-Syaibaniy, berperan penuh dalam mendidik dan membesarkan beliau. Ia mendapatkan pendidikannya yang pertama di kota Baghdad. Saat itu, kota Bagdad telah menjadi pusat peradaban dunia Islam. Penuh dengan manusia yang berbeda asalnya dan beragam kebudayaannya, serta penuh dengan beragam jenis ilmu pengetahuan. Di sana tinggal para qari, ahli hadis, para sufi, ahli bahasa, filosof, dan sebagainya.

Setamatnya menghafal Alquran dan mempelajari ilmu-ilmu bahasa Arab di Al-Kuttab saat berumur 14 tahun, beliau melanjutkan pendidikannya ke Ad- Diwan. Ia terus menuntut ilmu dengan penuh azzam yang tinggi dan tidak mudah goyah. Sang ibu banyak membimbing dan memberi beliau dorongan semangat. Tidak lupa ibunya mengingatkan beliau agar tetap memperhatikan keadaan diri sendiri, terutama dalam masalah kesehatan. Tentang hal itu beliau pernah bercerita, “Terkadang aku ingin segera pergi pagi-pagi sekali mengambil (periwayatan) hadis, tetapi Ibu segera mengambil pakaianku dan berkata. Bersabarlah dulu. Tunggu sampai adzan berkumandang atau setelah orang- orang selesai salat subuh.”

Perhatian beliau saat itu memang tengah tertuju kepada keinginan mengambil hadis dari para perawinya. Beliau mengatakan bahwa orang pertama yang darinya beliau mengambil hadis adalah al-Qadhi Abu Yusuf, murid/rekan Imam Abu Hanifah.

Imam Ahmad tertarik untuk menulis hadis pada tahun 179 H/ 796 M saat berumur 16 tahun. Beliau terus berada di kota Baghdad mengambil hadis dari syaikh-syaikh hadis kota itu hingga tahun 183 H/ 800 M. Beliau melakukan mulazamah kepada syaikhnya, Hasyim bin Basyir bin Abu Hazim al-Wasithiy hingga syaikhnya tersebut wafat tahun 183 H/ 800 M. Disebutkan oleh putranya bahwa ia mengambil hadis dari Hasyim sekitar 300.000 hadis lebih.

Pada tahun 186, beliau mulai melakukan perjalanan (mencari hadis) ke Bashrah lalu ke negeri Hijaz, Yaman, dan selainnya. Tokoh yang paling menonjol yang ia temui dan mengambil ilmu darinya selama perjalanannya ke Hijaz dan selama tinggal di sana adalah Imam Syafi’i. Ia banyak mengambil hadis dan faedah ilmu darinya. Imam Syafi’i sendiri amat memuliakan dirinya dan terkadang menjadikan ia rujukan dalam mengenal keshahihan sebuah hadis. Ada banyak ulama yang pernah mengambil ilmu darinya, di antaranya kedua putranya, Abdullah dan Shalih, Abu Zur’ah, Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Al-Atsram, dan lain-lain.

Dari sekian ilmu yang dipelajari Imam Ahmad diajarkannya kepada kaum muslimin, banyak pula yang ia tuangkan ke dalam bentuk tulisan. Misalnya karya besar Al-Musnad yang memuat 40.000 hadis. Di samping ia mengatakannya sebagai kumpulan hadis-hadis shahih dan layak dijadikan hujjah, juga karya tersebut mendapat pengakuan yang hebat dari para pakar hadis.

Selain Al-Musnad di atas yang merupakan ujung tombak kemasyuran Imam Ahmad, juga banyak karya-karya ia yang menyangkut berbagai bidang disiplin ilmu, baik berupa fiqh, ushul fiqh, tafsir ataupun tarikh. Misalnya Tafsir Alquran, An Nasikh wa al-Mansukh, Al-Muqaddam wa al-Muakhkhar fi Alquran, Jawabat Alquran, At-Taarikh, Al-Manasik al-Kabir, Al-Manasik ash-Shaghir, Thaatu ar Rasul, Al-Ilal, Al-Wara dan Ash-Shalah.

Pengikut Mazhab Hambali

Mazhab Hambali awalnya berkembang di Bagdad, Irak dan Mesir dalam waktu yang sangat lama. Pada abad 12, mazhab Hambali berkembang terutama pada masa pemerintahan Raja Abdul Aziz as-Su’udi. Saat ini mazhab Hambali menjadi mazhab resmi pemerintahan Saudi Arabia dan mempunyai penganut terbesar di seluruh Jazirah Arab, Palestina, Syria, dan Irak.

Ulama-ulama yang mengembangkan mazhab Ahmad bin Hambal antara lain adalah Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Hani yang terkenal dengan nama al-Atsram. Ahmad bin Muhammad bin Hajjaj al-Marwazi, Ishaq bin Ibrahim yang terkenal dengan nama Ibnu Ruhawaih al-Marwazi dan termasuk ashhab Ahmad terbesar. Muwaquddin Ibnu Qudamah al-Maqdisi, Syamsuddin Ibnu Qudaamah al-Maqdisi, Syaikhul-Islam Taqiuddin Ahmad Ibnu Taimiyah, Ibnul Qaiyim al- Jauziyah, dan lain-lain.

Dasar-Dasar Istinbath Hukum Imam Hambali

Berdasarkan periodenya, Mazhab Hambali menempati urutan keempat setelah Mazhab Hanafi, Maliki, dan Syafi’i. Mazhab ini terkenal ketat berpegang kepada sunnah Rasulullah SAW setelah Alquran, sehingga ada yang menyebutnya sebagai fiqh sunnah (Fiqh As-Sunnah). Imam Ahmad bin Hambal tidak meninggalkan buku tentang metode istinbath. Metode istinbath Imam Ahmad bin Hambal dalam membentuk mazhabnya diperoleh melalui pengikutnya serta fatwa fiqh-nya. Fiqih Imam Ahmad bin Hambal dibangun atas landasan berikut:

  1. Alquran
  2. As-Sunnah
  3. Al-Ijma
  4. Al-Qiyas
  5. Al-Istihshab
  6. Al-MasalihAl-Mursalah
  7. Saduz-

Baca Juga: Imam Malik bin Annas

Paling berpengaruh terhadap pembentukan mazhabnya selain nash adalah fatwa sahabat. Menurut Imam Ahmad bin Hambal Alquran dan Sunnah Rasulullah SAW sejajar pada peringkat pertama dalam urutan sumber hukum. Alasannya, kehujahan Nabi ditetapkan dengan Alquran dan Sunnah itu sendiri adalah penjelasan langsung dari pihak yang ditunjuk oleh Allah SWT terhadap isi Alquran. Namun demikian, pada prakteknya sewaktu Imam Ahmad bin Hambal menetapkan hukum, Sunnah Rasulullah diletakkan pada jajaran kedua setelah Alquran.

Bagi Imam Ahmad bin Hambal, jika sudah ditemukan nash hadis Rasulullah SAW yang dianggapnya sah untuk dijadikan sumber hukum, maka ia berpegang teguh kepadanya, meskipun pendapatnya itu bisa berbeda dengan pendapat sahabat. Berpegang teguh pada sunnah Rasulullah SAW di samping Alquran dan mengabaikan segala bentuk pendapat yang berbeda dengan prinsip yang merupakan hal mendasar dalam pembentukan Mazhab Hambali. Imam Ahmad bin Hambal juga berpegang pada ijma sahabat bila benar-benar terjadi.

Setelah hukum suatu masalah tidak terdapat dalam sumber-sumber di atas, ia berpegang pada pendapat sebagian sahabat yang tidak diketahui ada menentangnya. Namun dalam hal ini ia tidak mengatakan sebagai ijma, meskipun diakuinya lebih kuat dari pendapat perorangan. Menurutnya, tidak diketahui adanya perbedaan pendapat tentang suatu masalah tidak dapat dijadikan bukti bahwa hal itu telah disepakati semua ulama.  Hukum ijma baru dianggap terjadi bila masing–masing ulama secara tegas menyatakan persetujuannya.

Selanjutnya ia juga berpegang pada fatwa sahabat yang di perselisihkan, dengan cara memilih pendapat yang menurutnya lebih dekat kepada Alquran dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Syafi’i merupakan dua orang tokoh yang sama-sama berada dalam mata rantai aliran hadis dalam pembentukan mazhab fiqih, meskipun keterikatan Imam Ahmad bin Hambal kepada sahabat lebih kuat. Hal tersebut disebabkan karena Imam Ahmad bin Hambal lebih banyak mengetahui pendapat sahabat, sehingga banyak mewarnai mazhabnya.

Karena sikap kepatuhannya yang begitu kuat terhadap hadis dan fatwa sahabat, maka dapat dimengerti bahwa Imam Ahmad bin Hambal lebih mengutamakan riwayat daripada penalaran akal. Ijtihad baru digunakannya bila suatu hukum masalah tidak ditemukan dalam sumber-sumber tersebut. Metode ijtihad yang pertama adalah qiyas. Dalam masalah qiyas, Imam Ahmad bin Hambal mengatakan bahwa seorang mujtahid tidak akan bisa melepaskan diri dari qiyas.

Qiyas merupakan suatu keharusan bagi seorang mufti yang berfatwa, karena dalam kehidupan manusia akan ditemukan peristiwa yang tidak ditemukan hukumnya dalam teks (Alquran dan Sunnah) dan seorang ahli hukum tidak akan mampu menemukan hukum segala peristiwa di dalam dua sumber tersebut serta tidak pula dalam fatwa sahabat.

Di samping melakukan qiyas, Imam Ahmad bin Hambal pun menggunakan al-Mashalih al-Mursalah terutama dalam bidang Siyasah. Meskipun Mazhab Hambali berprinsip bahwa banyak sumber hukum yang bisa dirujuk sebelum melakukan ijtihad, namun bukan berarti mazhabnya menjadi kaku.

Sebagaimana yang disebutkan oleh Hasan Abu Thalib bahwa karakteristik pemikiran fiqh Imam Ahmad bin Hambal berusaha sejauh mungkin untuk tidak menggunakan rayu dalam istinbath hukum dengan kata lain, teori pemikiran ushul fiqh lebih banyak menggunakan pendekatan tekstual dalam menghadapi berbagai persoalan fiqhiyah.

Pola pemikiran fiqh yang dibangun oleh Imam Ahmad bin Hambal dengan teori-teori yang digariskannya telah melahirkan corak tersendiri dalam hukum Islam. Pandangan dan pemikiran Imam Ahmad bin Hambal banyak diikuti oleh umat Islam, dan menjadi mazhab resmi di Saudi Arabia, hingga sekarang ini.


Angga Saputra – Seni tablig Seniman NU