Categories: SimponiWarganet

Islamisasi Ilmu Kedokteran?

Share

Seorang sahabat saya bertanya, apakah ada ilmu kedokteran Islam? Bagaimana penerapannya? Apakah Kedokteran Islam atau pengobatan ala Nabi itu hanya terbatas pada: bekam, kay, madu, habbatus sauda’, kurma ajwa, dan lain-lain? Dan apakah ilmu kedokteran yang berkembang sekarang bukan merupakan kedokteran ala Nabi?

Saya teringat dengan wejangan guru saya DR. Hamid Fahmi Zarkasyi, MA, M.Phil saat saya bertanya tentang cara memulai islamisai ilmu kedokteran. Beliau menjawab, “Islamisasi ilmu kedokteran itu masuknya dari pintu ranah Maqashid as-syari’ah”. Saat itu saya berpikir, berarti tidak perlu untuk dilakukan perombakan secara radikal terhadap prinsip-prinsip ilmu kedokteran. Tidak perlu mengubah epistemologi dari ilmu yang dianggap berasal dari Yunani tersebut.

Di dunia Islam, prinsip-prinsip maqashid as-syari’ah sangat dijunjung tinggi untuk menegakkan agama dan kemaslahatan umat. Tak terkecuali di dalam ilmu kedokteran, konsep halal-haram, suci-najis, kemaslahatan, kedaruratan, dll tetap berlaku. Maka dari itu harus pula diperhatikan konsep berpikir dalam mempelajari ilmu kedokteran ini, agar tidak serta merta meninggalkan “Tuhan”.

Kemudian muncul pertanyaan, “Apakah ada kedokteran islam atau kedokteran ala nabi?”. Saya mencoba meneliti pertanyaan tersebut yang kemudian muncul pertanyaan baru, “Apa sih ilmu kedokteran islam itu? Bagaimanakah cara pengobatan ala Nabi? Apakah ilmu kedokteran yang sekarang berkembang bukan islami? Perlu diketahui bahwa bekam, kay, madu, kurma ajwa, habbatus sauda’ dan lainnya, bukanlah prinsip utama dalam pengobatan ala nabi. Pengobatan tersebut hanyalah salah satu dari berbagai macam cara untuk mengobati orang yang sakit. Namun, jauh daripada itu terdapat hal yang lebih mendalam dan substantif yang diajarkan oleh Nabi.

Beberapa hal prinsip kedokteran islam yang pernah diajarkan oleh Nabi yaitu:

  1. Apabila sakit, maka berobatlah, hal ini merupakan penerapan dari konsep ahli sunnah wal jama’ah yang mana manusia walaupun sudah ditentukan takdirnya oleh Allah, namun tetap diberikan kewenangan untuk melakukan kasab (usaha)
  2. Apabila terjadi suatu wabah penyakit, maka orang yang di luar daerah wabah dilarang masuk ke daerah wabah, dan penduduk daerah wabah dilarang keluar dari daerah tersebut, hal ini dilakukan agar tidak terjadi penyebaran penyakit yang lebih luas.
  3. Pesan tersirat Nabi kepada para sahabat untuk mengembangkan dunia kedokteran dari Yunani, karena sangat sedikitnya ahli medis muslim pada zaman itu
  4. Konsep tauhid bahwa yang menyembuhkan itu adalah Allah, bukan dokter ataupun obat-obatan. Namun dokter dan obat-obatan tersebut menjadi wasilah agar Allah menyembuhkan penyakit
  5. Perintah nabi agar selalu menjaga kebersihan yang merupakan langkah awal pencegahan dari infeksi bakteri, virus, jamur maupun parasit.
  6. Konsep empiris dan rasional bahwa segala macam penyakit ada obatnya melalui penelitian. Dan masih banyak lagi hadits-hadits tentang kedokteran yang bisa kita ambil sebagai landasan dasar berpikir untuk mempelajari ilmu kedokteran.

Sebagaimana perjuangan para dokter muslim kita pada masa kejayaan islam, telah mampu mengadopsi ilmu kedokteran dari Yunani yang salah satu guru besarnya adalah Hipocrates untuk dikembangkan di dunia islam. Dasar berpikir logis dan pengamatan ilmiah dari Hipocrates dikembangkan sedemikian rupa sehingga lahirlah metode penelitian ilmiah yang lebih komprehensif oleh para dokter dan ilmuwan muslim seperti Ar-Razi, Ibnu Sina, Az-Zahrawi, Ibnu Haitham dll yang justru mereka mengkritik dan bersikap skeptis terhadap seniornya yang dari Yunani.

Baca Juga: Islam, Proyek Konstruksi yang Mandeg

Para dokter muslim mengembangkan keilmuannya tidak hanya terpaku pada “cara” pengobatan yang diajarkan Nabi, namun mereka lebih substantif dalam penerapannya. Karena kalau hanya meniru caranya saja, tentu tidak akan relevan dengan zaman. Padahal ilmu kedokteran itu berkembang, berbagai macam penyakitpun juga ikut berkembang. Maka disinilah perlunya para dokter mempelajari maqashid as-syari’ah untuk mengembangkan dunia kedokteran islam.

Konsep Maqashid as-syari’ah dalam mempelajari ilmu kedokteran harus terus dijaga, mengingat betapa pesatnya perkembangan ilmu kedokteran. Terdapat banyak sekali permasalahan di dunia kedokteran yang pada saat ini masih dicari hukum syar’inya, contoh tentang stem sel, bayi tabung, transplantasi organ, modifikasi genetik dalam makanan, dsb. Ini merupakan sebuah tantangan bagi dokter-dokter muslim untuk selalu mengembangkan keilmuannya tanpa mengesampingkan agama.

Maka ketika muncul pertanyaan, “Apakah kedokteran modern yang berkembang sekarang bukan islami dan bukan yang diajarkan oleh nabi?” Kita dengan mudah saja bisa menjawab, “Justru ilmu kedokteran modern yang sedang berkembang sekarang lahirnya dari dunia islam”. Sejarah telah mencatat itu. Namun karena jatuhnya kejayaan islam dan banyaknya ilmu-ilmu sains yang dicuri oleh bangsa barat, maka umat islam terpuruk sehingga tidak mampu lagi mengembangkan ilmu-ilmu yang telah diwariskan oleh para ilmuwan dan dokter muslim di masa kejayaan islam. Banyak fakta membuktikan bahwa ilmu kedokteran modern lahir dari islam, hanya saja konsep ketuhanan dihilangkan dari ilmu tersebut (sekularisasi).


Fida’ Mushalim Afwan, S.Ked – Seniman NU Regional Solo