Categories: SimponiWarganet

Ikan dalam Sungai

Share

Artikel ini berjudul Ikan dalam Sungai, sebagai analogi manusia menuju Tuhan. Dunia, merupakan fase kehidupan ketiga sebelum fase kematian (kehidupan di alam barzah) dan fase keabadian (kehidupan di alam ukhrawi). Dalam keberlangsungan hidup di dunia ini, manusia terkadang lupa dengan fase kehidupan yang dilaluinya itu. Banyak yang terlena dan lupa, sehingga menganggap bahwa kehidupan di dunia merupakan kehidupan yang akan kekal selamanya. Padahal sudah dijelaskan bahwa dalam prosesnya (menuju Allah Swt.) manusia akan melalui beberapa fase kehidupan.

Seperti apa yang telah dijelaskan dalam Alquran Surat Al-Insyiqaq ayat 6:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلْإِنسَٰنُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَٰقِيهِ

“Wahai manusia! Sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhan-Mu, maka kamu akan menemui-Nya”

Dari firman Allah Swt. di atas sudah jelas bahwasanya detik demi detik sebenarnya manusia sedang menuju Allah Swt. Lalu sudah pantaskah kita sebagai manusia menghadap Tuhan yang maha Kuasa?! Bekal apa yang sudah kita persiapkan?! Dua pertanyaan yang menjadi prioritas untuk dijadikan renungan bagi kita sebagai manusia yang masih hidup di dunia.

Fase kehidupan yang di mulai dari alam roh, rahim, dunia, barzah/ kubur, dan akhirat/ ukhrawi. Penulis menganalogikan seperti kehidupan ikan yang ada di dalam sebuah sungai.

Mengapa demikian?

Karena dalam kehidupan ikan yang berada di sungai hakikatnya sama seperti manusia yaitu menuju satu tempat. Dalam kehidupannya, seekor ikan yang hidup di dalam sungai, ia akan senantiasa mengikuti arus untuk mencapai muara sebagai tempat tujuannya. Dan ketika dalam proses mencapai muara tersebut seekor ikan pastilah akan mengahadapi beberapa rintangan dari mulai arus air, kawanan ikan lain, bahkan pemangsa.

Ikan yang fokus dan berhati-hati dalam perjalanannya, akan selamat sampai tujuan. Dan sebaliknya, ikan yang terlena dalam perjalanan menuju muara karena menemukan makanan atau betina, ia akan lupa dengan tujuan dan mengakibatkan dirinya mati bahkan terbawa arus. Demikian juga ketika dalam perjalanan, lalu seekor ikan menemukan cacing yang dikaitkan dalam pancingan, di kala seekor ikan itu memakan dan ke atas maka hanya ada dua kemungkinan yaitu dikembalikan atau dijadikan santapan.

Baca Juga: Peradaban Sungai

Hal itu pun sama dilakukan oleh manusia dalam fase kehidupannya. Dalam hal ini manusia dianalogikan seekor ikan, lalu dengan arus air yang menuju muara adalah proses kehidupan menuju alam barzah/ kubur. Dari sini manusia hendaknya dapat merenungkan bahwa apabila seorang manusia yang dalam proses kehidupannya terlena dengan gemerlap dan hiruk-pikuk dunia dan seisinya, maka hanya satu yang menjadi harapannya siksa kubur dan tak sampainya kita ke tujuan yang sebenarnya yaitu Allah Swt.

Dalam kehidupan di dunia, terkadang manusia lebih senang dipuji, dianggap penting, dan dihormati. Padahal hakikatnya hal tersebut sangatlah berbahaya bagi jiwa manusia itu sendiri. Karena dengan seringnya orang menginginkan pujian, dianggap penting, dan dihormati oleh orang lain, maka akan banyak kemungkinan buruk dalam jiwanya. Kemungkinan itu di antaranya timbulnya penyakit hati dan jauh dari rahmat Allah Swt.

Hal ini sudah dijelaskan di atas dengan perumpamaan seekor ikan yang terlena karena menemukan makanan atau dia memunculkan diri ke permukaan karena menganggap dirinya aman dan tak akan ada yang memangsa dirinya. Padahal hakikatnya ketika seekor ikan memunculkan diri ke permukaan berarti dia sedang bunuh diri.

Oleh karena itu agar diri dan jiwa kita bisa sampai kepada Allah Swt, sesuai firman-Nya dalam Surat Al-insyiqaq ayat 6. Mari kita renungkan dalam hati kita, apakah kita sudah fokus dalam perjalanan hidup ini untuk-Nya (Allah Swt) atau malah sebaliknya, kita terlena dalam perjalanan hidup ini.

Ingat! Pujian, dianggap penting, dan dihormati oleh sesama ciptaan Allah Swt itu tidak ada nilai plus-nya dan hanya membawa kita lupa pada hakikat hidup sesungguhnya. Yakni, menuju Allah Swt.


Azah – Seniman NU Regional Jawa Barat