Categories: opiniSimponi

Idul Fitri: Sudah Siapkah Kita Kembali?

Share

Idul Fitri itu arti sederhananya adalah kembali ke fitrah. Kalau ditelusuri ke hulu, ke yang paling lubuk, yang paling sumber, yang paling asal usul, fitrah itu ya Allah sendiri. Karena tidak ada apapun selain Allah. Lalu saat Idul Fitri, sudah siapkah kita kembali?

Tempo setahun sekali, kita (masyarakat Indonesia) senantiasa disibukkan dengan lalu-lalang mobil mewah dari kota untuk kembali ke kampung : Mudik. Melepaskan penat bekerja, meluapkan rindu bertemu, dan memberi sanak saudara rezeki.

Sejak bedug takbir “kemenangan” dikumandangkan, anak-anak berlarian membawa obor. Sesekali membunyikan petasan sebagai ekspresi keberhasilan melalui “siksa dan dera” sebulan berpuasa. Ibu-ibu menyiapkan sembako untuk dibagikan ke tetangga dan saudara. Bapak-bapak diskusi ringan membahas problematika kehidupan. Semua melubur dalam harmoni pesta kemenangan.

Masing-masing diri manusia akan memproses perjalanan, pencarian dan percintaannya dengan Sang Fitrah. Yang diperlukan di antara diri-diri itu adalah apresiasi, empati, saling menghormati, atau kalau sama-sama sudah cukup matang: saling belajar, saling bercermin, saling bertanya dan menjawab, saling mengingatkan dan diingatkan.

“Maaf memaafkan itu setiap saat. Sepanjang waktu, di dunia sampai akhirat. Setiap hari adalah idul fitri bagi kita. Tidak ada hari dimana kita tidak memaafkan di antara kita”

Maaf. Diksi yang paling sering disampaikan satu sama lain. Saling merasa bersalah dengan meminta maaf. Saling merasa sungkan dengan memberi maaf. Menjadi fitri, bersih, suci, dan kembali semula.

Kembali Fitri

Kembali? Kemana?

Dari kota menuju desa (kampung), dari kesalahan menuju pemaafan, dari dosa menuju penyesalan dan tobat, dari munkar menuju ma’ruf. Kenyataannya semua pasti akan kembali. Air yang menguap dan mengembun kemudian menjadi awan dan hujan kembali ke bumi, manusia yang berasal dari tanah akan dikuburkan dan kembali menjadi tanah. Jika segala sesuatu dimulai dengan cara baik, maka akan kembali menjadi baik, begitu juga sebaliknya.

Innalillahi wainnaillaihi raji’un

Sesungguhnya kita juga pasti akan kembali kepada yang membuat. Kapan waktunya dan bagaimana prosesnya kita tidak mengetahui. Satu hal yang pasti adalah kematian sebagai perjalanan awal menuju mudik yang sesungguhnya.

Baca Juga: Mudik Lebaran

Kita sibuk ketawa-ketiwi, ngobrol kesana-kemari tanpa sejenak merenungi, “Bekal apa yang akan kita bawa kembali?!” Makna kembali bukan hanya sekedar pulang kampung dan meminta maaf kepada orang tua. Jika muasal tidak pernah dihayati, maka substansi kembali hanya akan menjadi hantaran materi.

Atau mungkin kembali dimaksudkan agar manusia lebih berhati-hati karena kembali liarnya nafsu, syahwat, dan setan yang selama sebulan berhasil kita sekap. Kembali ke dunia belantara dengan ribuan godaan untuk melupakan sang Maha Asal.

Silaturahmi Idul Fitri

Kurang lengkap sepertinya jika momen idul fitri tidak dilengkapi dengan aktivitas saling memaafkan. Utamanya tetap menjaga tali silaturahmi antar sesama. Setelah warga mudik, selanjutnya akan diadakan prosesi halal bihalal sebagai simbol bahwa semua sudah bersih dari sifat-sifat yang saling menyakiti.

Meskipun momen Idul Fitri dengan bingkai halal bihalal bukanlah “amaliah” Islam yang murni, namun asimilasi budaya ini yang akhirnya menyadarkan arti penting silaturahmi. Indonesia sebagai negara yang paling sibuk menyiapkan lebaran untuk menyambut keluarganya yang kembali dari perantauan.

Rahmi atau rahim diambilkan dari asma Allah yang maha penyayang. Mengingatkan kembali pentingnya makna kasih sayang kepada keluarga dan sesama. Pembelajaran dari agama Islam, sebagai ajaran yang damai dan santun penuh kasih sayang. Sehingga tidak ada lagi kebenciaan, iri, dengki, fitnah, dan perilaku kotor lainnya. Sejatinya segala hal akan kalah dengan kasih sayang.

Tapi sepertinya ketulushatian dan kesakralan silautahmi Idul Fitri tidak sejernih yang dibayangkan. Maaf-memaafkan hanya sebatas formalitas. Bertemu pun juga malas. Sehingga broadcast tentang ucapan panjang lebar dibumbui diksi puitis untuk menyampaikan maaf. Tradisi sungkeman perlahan memudar. Mereka yang enggan kembali menjadi fitri, ketika momen meminta maaf diabaikan dengan berbagai alasan. Jika ada putus silaturahmi, Idul Fitri adalah media untuk menyambungkannya.

Idul Fitri bukan hanya tentang salam-salaman, bukan tentang pulang kampung. Idul Fitri adalah hari dimana kita harus sudah menang terhadap nafsu diri sendiri. Yang semula coretan hitam tak tentu arah, kembali disucikan untuk menulis lagi dari awal. Menghapus segala sifat dan perilaku yang buruk untuk menjadi pribadi yang lebih baik lahir dan batin.

Jadi momen Idul Fitri, sudah siapkah kita kembali?


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU