Categories: biografiFolkor

Ibnu Arabi: Konsep Wahdatul Wujud

Share

Nama lengkapnya adalah Muhammad Ibnu Ali Ibnu Muhammad Ibnu al-Arabial-Ta`i al-Hatimi. Beliau dilahirkan pada 17 Ramadan 560 H/ 28 juli 1165 M, di Mursia, Spanyol Tenggara. Pada masa pemerintahan Muhammad Ibnu Sa`id Ibnu Mardanisy. Ia adalah sufi keturunan suku Arab kuno Ta’i. Dikenal dengan Ibnu Arabi (tanpa al-) untuk membedakan Ibnu Arabi yang lainnya. Karena ada dua figur besar dalam dunia Islam yang menyandang nama Ibnu Arabi. Keduanya berasal dari Andalusia yaitu Abu Bakr Muhammad Ibnu Abdallah Ibnu al-Arabi Al-Ma’afiri 468-543 H/ 1076-1148 M.

Ayahnya, Ali Ibnu Arabi, berasal dari keluarga Arab kuno dari Yaman. Sedangkan Ibunya berasal dari keluarga Berber dari Afrika Utara. Ayahnya adalah seorang pegawai pemerintah pada masa Muhammad Ibnu Sa’id Ibnu Mardanisy (penguasa Mursia). Dia memiliki keluarga yang terhormat, karena pamannya (dari pihak Ibu) adalah penguasa Tlemcen, Algeria. Ketika Dinasti Al-Muwahiddin menaklukan Mursia pada 567 H/1172 M, ia bersama keluarganya pindah ke Seville. Dimana ayahnya kembali menjadi pegawai pemerintahan atas kebaikan Abu Yakub Yusuf. Di Seville, Ia menerima pendidikan formalnya, di kota pusat pengetahuan itu. Di bawah bimbingan guru-guru tradisional, ia mempelajari Alquran dan tafsirnya, hadis, fikih, teologi, filsafat skolastik, tata bahasa dan komposisi bahasa Arab.

Seville adalah suatu pusat Sufisme yang penting dengan sejumlah guru sufi terkemuka yang tinggal di sana. Keberhasilanya dalam pendidikanya mengantarkannya sebagai sekretaris Gubernur Seville. Pada periode itu juga ia menikah dengan seorang wanita muda yang saleh, Maryam. Suasana kehidupan guru-guru sufi dan kesertaan isterinya dalam keinginanya mengikuti jalan sufi adalah faktor kondusif yang mempercepat pembentukan diri Ibnu Arabi sebagai seorang sufi.

Sementara Seville menjadi tempat tinggal permanennya. Ibnu Arabi sering melakukan perjalanan ke berbagai tempat di Spanyol dan Afrika Utara. Ia juga mengunjungi Kordoba dan berjumpa dengan seorang ahli hukum sekaligus filsuf besar, Ibnu Rusyd. Percakapannya dengan filsuf besar ini menunjukkan kecermelangannya dalam wawasan spiritual dan intelektual. Pertukaran pikiran tersebut menunjukan bagaimana pemikiran filosofis dan pengalaman mistik Ibnu Arabi memperlihatkan bahwa mistisisme dan filsafat berhubungan satu sama lain dalam kesadaran metafisisnya.

Dari 601- 604 H/ 1204-1207 M, kota-kota yang dikunjunginya ialah Madinah, Yerussalem, Baghdad, Mosul, Konya, Damaskus, Hebron dan Kairo. Ketika ia berada di Mesir, ulama-ulama Ortodok mengecam akan membunuhnya, keadaan seperti ini menyebabkan ia meninggalkan Mesir dan kembali ke Makkah. Pada 607 H/1210 M ia pergi ke Asia kecil melalui Alepp. Ia sampai di Konya dan disambut hangat oleh raja Kay Kaus dan penduduknya. Di manapun Ia singgah, Ia menerima penghormatan besar dan diberi banyak hadiah yang kemudian selalu diberikanya pada fakir miskin.

Baca Juga: Abu Hasan Al Bashri: Sang Pedagang Mutiara

Pada 608 H/1211 M di Baghdad, Ia bertemu dengan Syihab al-Din ‘Umar al-Suhrawardi. Setelah perjalananya dari Konya ke arah Timur menuju Armenia dan ke arah Selatan lembah Eufrat dan sampai di Baghdad. Akhirnya Ia memutuskan untuk memilih Damaskus sebagai tempat menetap sampai akhir hayatnya.

Ibnu Arabi wafat pada 22 Rabi’al-Tsani 638 H/ November 1240 di Damaskus. Ia dimakamkan di Sahiliyyah, di kaki Bukit Qasiyun, di bagian Utara kota Damaskus. Ibnu Arabi mempunyai dua putera, Sa’du-din (w.656 H), seorang penyair terkenal, dan ‘imadud-din (w.667 H). Keduanya dimakamkan berdampingan dengan ayah mereka.

Karya Ibnu Arabi

Ibnu Arabi menulis tak kurang dari 350 buah buku, mulai dari karya besar Futuhat, yang halamanya berjumlah ribuan dalam teks Arab, sampai ke risalah-risalah kecil yang banyak sekali. Sebagaimana yang dikutip oleh Kautsar Azhari Noer menurut Osman Yahia, dalam karya bibliografisnya, menyebutkan ada 864 judul dari 700 judul yang asli hanya tersisa 400 yang masih ada. Dari karya-karyanya masih banyak yang berupa manuskrip, sekalipun jumlah yang disebutkan berbeda-beda. Keproduktifanya dalam menghasilkan karya tulis sulit dicari tandinganya.

Karya-karya Ibnu Arabi terdiri dari uraian-uraian pendek dan surat-surat yang hanya terdiri dari beberapa halaman sampai karya ensiklopedi besar. Dari risala-risalah metafisis yang abstrak sampai puisi-puisi sufi yang mengandung aspek kesadaran makrifah yang muncul dalam bahasa cinta. Pokok permasalahan dalam karyanya juga mencangkup masalah metafisika, kosmologi, psikologi, tafsir Alquran dan hampir dalam setiap pengetahuan semuanya didekati dengan tujuan menjelaskan makna esoteriknya.

Dua karya Ibnu Arabi yang paling penting dan termasyhur ialah Futuhat al-makiyyah dan Fusus al-Hikam. Ia mengaku bahwa kitab ini didiktekan langsung Tuhan melalui malaikat yang menyampaikan ilham. Sebuah ensiklopedi yang bertumpu pada ajaran Tauhid, pengakuan terhadap keesaan Tuhan, yang menjadi inti ajaran Islam, dalam kamus Ibnu Arabi “Futuh” (pembukaan) memiliki kesamaan arti dengan beberapa term lain seperti penyingkapan, merasakan, kesaksian, hasrat ilahiah, penyingkapan diri ilahiah, dan ilham. Masing-masing kata tersebut menunjuk pada penncapaian ilmu yang diperoleh secra langsung dari Tuhan tanpa perantaraan guru, melalui belajar atau pengerahan kemampuan rasional.Tuhan membuka hati untuk menanamkan ilmu. Kata membuka mengandung arti bahwa corak ilmu seperti in datang tiba-tiba setelah menunggu dengan sabar di dekat pintu.

Di samping dua karya utama di atas, karya-karya Ibnu Arabi yang lainya adalah sebagai berikut:

  1. Tentang metafisika dan kosmologi di antaranya: Insya’ al-Dawa’ir, ‘Uqlat al-Mustawfiz dan al-Tadbirat al-Ilahiyyah.
  2. Tentang sufisme di antaranya: Rasa`il Ibnu Arabi, Kitab al-Fana fi’al-Musyahadah, Risalat al-Anwar, Kitab al-Isra, Risalah fī Su’al Isma’il Ibnu Sawdakin, Risalah ila al-Imam Fakhr al-Din ar-Razi, Kitab al-Wasaya, Kitab Hilyat al-Abdal, Kitab Naqsy al-Fusus, Kitab al-Wasiyyah, Kitab Istilahat al-Sufiyyah.
  3. Tentang ungkapan rasa cinta yang membara terhadap Tuhan yaitu: Tarjuman al-Asywaq dan Dzakha’Ir al-A’laq.
  4. Tentang kritik terhadap penyimpangan dalam praktek sufisme yaitu: Ruhal-Quds, al-Durrat al-Fakhirrah.
  5. Tentang person Muhammad yaitu kitab Syajarat al-Kawn.
  6. Tentang jawaban terhadap apa yang harus diimani dan apa yang harus dilakukan oleh pencari pada permulaan sebelum yang lain yaitu: Ma La Budda Minhu li al-Murid.
  7. Tentang ucapan berharga para perenung dan pengembara spiritual yaitu: Kitabal i’lam bi Isyarat Ahl al-Ilham.
  8. Beberapa karya yang lain di antaranya: Misykat al-Anwar, Mahiyyat al-Qalb, Anqa Mughrib, al-Ittihad al-Kawnifi Hadrat al-Isyhad al-Ayni, Isyaratal Qur’an, al-Insan al-Kulli, Bulghat al-Ghawwas, Tāj al-Rasa’il, Kitab al Khalwah, Syarh Khal’al-Na’layn, Mi’rat al-Arifin, Ma`rifat al-Kanz al-Azim, Mafaatihal-Ghayb, Da’wat al- Asma Allah al-Husna dan Kitaab al-Haqq.
  9. Karya yang lain bisa di sebut: Masyahid al-Asrar, Mawaqi al-Nujum, Kitāb al-Alif, Kitab al-Ba, Kitab al-Ya’, Tanzulat al-Mawsiliyyah, Kitab al-Jalal wa al-Jamal, Kitab Ayyam al-Sha’n, Kitab al-Tajalliyat, Kitab al-Isfar, Fihrist al-Mu’allafat, Ijaza lil Malik al-Muzaffar, Kitab Nasab al-Khirqa, Awrad al-Usbu’, danal-Diwan al-Kabir.

Baca Juga: KH. Hasyim Asy’ari – Pendiri Nahdlatul Ulama

Konsep Wahdatul Wujud

Alam semesta merupakan wujud yang baru yang keluar dari Yang Qodim, dengan kehendak Tuhan untuk membedakan sesuatu dari lainnya. Kehendak Tuhan adalah mutlak, artinya bisa memiliki waktu tertentu, bukan waktu lainnya, tanpa ditanyakan sebabnya, karena sebab adalah kehendak-Nya itu sendiri. Kalau masih ditanyakan sebabnya, maka artinya kehendak Tuhan itu terbatas tidak lagi bebas; sedangkan kehendak itu bersifat bebas mutlak.

Allah adalah satu-satunya sebab bagi alam, alam diciptakan dengan kehendak dan kekuasaan-Nya. Karena kehendak Allah adalah sebab bagi segala yang ada (al-Maujudat), sedangkan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Sebab-sebab alami hanyalah korelasi waktu antara benda-benda.

Dia tidak terbatasi dengan ukuran, tidak juga bertempat pada penjuru dan mata angin, dan tidak pula bernaung di bumi dan di langit. Tuhan tidak bertempat pada sesuatu dan tidak ada sesuatu yang menempati-Nya. Allah Maha Suci dari naungan tempat sebagaimana Maha Suci dari ketentuan waktu. Bahkan sebelum menciptakan masa dan tempat, Dia seperti apa adanya sejak dahulu. Tuhan berbeda dengan makhluk yang Dia ciptakan lantaran sifat-sifat-Nya, tidak ada di dalam dzat-Nya selain-Nya, dan tiada dalam selain-Nya selain dzat-Nya

Allah adalah al-wujud, Allah adalah kenyataan yang hakiki. Tiap-tiap sesuatu musnah, dan hanya wajah-Nya yang kekal, abadi selamanya. Satu-satunya wujud adalah wujud Tuhan; tidak ada wujud selain wujud-Nya artinya yaitu bahwa apapun selain Tuhan tidak mempunyai wujud. Seperti halnya cahaya hanya milik matahari, tetapi cahaya itu dipinjamkan kepada penghuni bumi. Hubungan antara Tuhan dengan alam sering digambarkan seperti hubungan antara cahaya dan kegelapan. Karena wujud hanya milik Tuhan, maka adam (ketiadaan) adalah “milik” alam. Karena itu Ia mengatakan bahwa wujud hanya milik cahaya dan adam adalah kegelapan.

Alam tidak sendiri kecuali dengan wujud pinjaman atau wujud yang berasal dari Tuhan. al-Haqq (Tuhan) dan al-Khalq (alam) adalah satu tetapi berbeda, alam adalah tajalli Tuhan, dengan demikian segala sesutau yang ada di dalamnya adalah entifikasi-Nya. Tuhan dan alam tidak bisa dipahami kecuali sebagai kesatuan antara kesatuan kontradiksi ontologis yang bersifat horizontal juga vertical. Kesatuan ontologis antara Yang Tampak (az-zahir) dan Yang Bathin (al-bathin), antara Yang Awwal (al-awwal) dan Yang Akhir (al- akhir), antara Yang Satu (al-wahid) dan Yang Banyak (al-kasir) dan antara ketidaksetaraan (tanzih) dan keserupaan (tasybih). Ia memandang, realitas adalah satu, tetapi mempunyai dua sifat yang berbeda: sifat ketuhanan dan sifat kemakhlukan, yang keduanya hadir dalam segala sesuatu yang ada di alam ini.

Konsep sentral yang berkaitan dengan paham Wahdat al-Wujud Ibnu Arabi ialah konsep Tajalli (penampakan diri) al-Haqq, konsep Tajalli adalah dasar pandangan dan merupakan keseluruhan filsafat Ibnu Arabi, bahkan Tajalli adalah tiang filsafatnya tentang Wahdat al-Wujud karena ditafsirkan dengan penciptaan, yaitu cara munculnya yang banyak dari yang satu tanpa akibat, yang satu itu menjadi yang banyak. Tajalli sebuah pengungkapan dari wujud yang misterius, tak dikenal, yakni pengungkapan Tuhan pada makhluk-Nya agar dikenali oleh makhluk.

Sesungguhnya ia yang mengenal dirinya berarti mengenal Tuhan-nya. Berarti bahwa ia yang mengenal Tuhan spesifiknya, yang merupakan Tuhan sebagaimana Dia mengungkpakan diri-Nya pada jiwa, lebih dijelaskan oleh Ibnu Arabi dalam Fusûs: “katakanlah bahwa Dia yang disebut “Tuhan” adalah satu dalam hakikat tetapi menyeluruh (al-kull) melalui nama-nama. Tidak ada hal yang eksisten memiliki sesuatu dari Tuhan kecuali Tuhannya sendiri, Ia tidak mungkin memiliki keseluruhan, yang ditunjukanya dari keseluruhan hanyalah yang berkenaan dengan-Nya, dan itulah Tuhannya sendiri. Tak ada yang mengambil dari-Nya berkenaan dengan keEsaan-Nya, itulah mengapa cerita tentang Allah yang menyatakan penyingkapan diri dalam kesatuan adalah mustahil”.

Sumber: hasanah, uswatun. 2015. “Konsep Wahdat Al Wujud Ibn ‘Arabi”. Skripsi. UIN Walisongo Semarang.


Angga Saputra – Seni tablig Seniman NU