Categories: LiputanSimponi

Ibadah Bukan Urusan Duniawi

Share

Ibadah adalah bentuk persembahan atas pengabdian hamba kepada Tuhan. Kaitnya dalam peribadatan adalah dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Kemudian diistilahkan dengan beriman atau bertakwa. Sementara banyak kritik yang dialamatkan kepada pemeluk agama, bahwa ibadah bukan hanya urusan duniawi. Karena hakikat sesungguhnya beribadah adalah kepada Tuhan, bukan selain-Nya.

Tujuan Salat

Salat seringkali hanya merupakan aktivitas olahgerak atau olahraga. Tidak tahu siapa dan apa yang disembah. Sehingga hanya menyembah kekosongan dan kesunyian. Fisiknya juga kadang tidak serius, melaksanakan salat begitu cepat. Padahal dengan salat kita bisa mampu berkomunikasi dengan Sang Maha Puncak. Allah yang setiap hari merindukan kita, sedangkan saat berjumpa dalam salat, sering kita mengabaikannya. Sudah berapa persen kita menghadirkan Allah dalam diri kita?

“Salat tanpa memahami hakikatnya, seperti menyembah bumbung, hatinya kayu – batang kangkung – kosong mlompong, hampa dampa, kolong angin”

(Ki Lonthang)

Salat tanpa memahami konsep dari ibadah tersebut tidak bernilai. Dari luar kelihatan alim, tapi dalamnya kosong. Dapatnya hanya capek, lelah. Bagi para wali, setiap detik dalam hidupnya adalah salat. Mereka begitu maniak salat, maniat ibadah. Tapi tidak berhenti di syariat. Karena syariat hanya wadah atau lantaran untuk menuju ke yang lebih tinggi dan puncaknya bertemu Allah Swt.

Ada sindiran lain bahwa salat itu mencuri. Sebenarnya segala bentuk ibadah, termasuk salat, adalah permintaan Allah kepada kita (hamba) agar dilaksanakan. Harusnya demi Allah. Tapi banyak ibadah yang kita lakukan tidak demi Allah.

Ibadah hanya untuk pamrih, kebanyakan urusan keduniawian. Kita salat malam bertujuan untuk mendapatkan banyak rezeki, kita melakukan salat dhuha agar mendapatkan jabatan, dan ibadah lainnya yang dimaksudkan untuk pamrih. Itu yang dimaksud salat mencuri.

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ

ٱلَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

ٱلَّذِينَ هُمْ يُرَآءُونَ

Maka celakalah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya, orang-orang yang berbuat riya (QS. Al Maun: 4-7)

Untuk itu lakukanlah salat dengan khusyuk. Menghindarkan dari hal-hal yang sia-sia atau membuang waktu dalam beribadah, khususnya salat.

Baca Juga: Sembah Ragawi

Tujuan Puasa

Dalam pengertian secara syariat, puasa berarti suatu amalan ibadah yang dilakukan dengan menahan diri dari segala sesuatu seperti makan, minum, perbuatan buruk maupun dari yang membatalkan puasa mulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari yang disertai dengan niat karena Allah, dengan syarat dan rukun tertentu.

Menurut para ahli tasawuf, puasa itu paling utama adalah mengendalikan hawa nafsu. Dengan berpuasa kita terlatih untuk mengendalikan diri sendiri. Hasil dari puasa hakiki adalah jiwa yang bersih. Segala ego dan hawa nafsu hilang semua. Sehingga puasa tidak hanya dimaknai menahan lapar dan haus atau memindah waktu makan.

Sekarang banyak sekali keseharian kita bergantung kepada hal di luar diri sendiri. Kita bergantung kepada listrik, bergantung kepada internet, bergantung kepada BBM, dan lain sebagainya. Semakin berat jalan untuk menuju Allah Swt.

اللَّهُ الصَّمَدُ

Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Hanya Allahlah tempat tujuan segala kebutuhan dan permintaan. Satunya jalan adalah dengan latihan. Tidak usah ambisius. Sediki demi sedikit, ditaklukan pelan-pelan. Kalau ambisius dan drastis malah akan susah. Proses paling mudah adalah dengan pembiasaan diri.

Misalnya sebelumnya mengingat Allah hanya pas waktu takbiratul ikhram, dimulai membiasakan diri untuk mengingat Allah waktu membaca Al Fatihah. Setelah terbiasa ditingkatkan lagi sampai seluruh ibadah selalu diniatkan untuk Allah. Puncaknya melepaskan segala ketergantungan kepada dunia dan mempersembahkan segala ibadah, hidup, dan mati hanya untuk Allah.

Sekali lagi diingatkan bahwa sejatinya ibadah bukan hanya urusan duniawi, lebih jauh dari itu adalah ekspresi kehambaan kita kepada Allah Swt. Dari itu kita bisa mulai melatih perlahan untuk khusyuk dalam beribadah dan memahami hakikat setiap apa yang kita lakukan di dunia ini. Sesunggunya segala sesuatu akan kembali kepada Allah. Semoga setiap ikhtiar kita dalam mengendalikan nafsu dan mengingat Allah selalu diridai dan mendapatkan keberkahan. Amin.

*Diambil dari ceramah Dr. H. Fahruddin Faiz, S. Ag., M.Ag


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU