Categories: biografiFolkor

Husain Ibnu Mansur al-Hallaj: Ana Al Haq

Share

Husain Ibnu Mansur al-Hallaj merupakan tokoh tasawuf falsafi yang terkenal dengan jargonnya yang kontroversial “Ana al-Haq”. Dikenal sebagai Hallaj al-Asrar (Sang Pemintal Rahasia). Beliau adalah sosok yang memajukan perkembangan tasawuf falsafi pada abad ketiga yang memperkenalkan teori al-Hulul. Ajaran dan ungkapan-ungkapannya yang kontroversial telah melahirkan banyak konflik. Hingga akhirnya al-Hallaj harus mengakhiri kisah hidup dan perjalanan tasawuf secara dramatis. Beliau dieksekusi mati secara brutal oleh pemerintah Dinasti Abbasyiyah yang menganggap sesat ajaran tasawuf yang dibawa Al Hallaj.

Ajaran tasawuf al-Hallaj masih banyak disalahpahami dan dipandang sebagai amalan menuju kemurtadan oleh muslim lainnya. Keadaan ini terjadi karena keterbatasan literatur tentang ajaran tasawuf falsafi al-Hallaj, khususnya dalam bahasa Indonesia. Kajian terhadap pemikiran tasawuf al-Hallaj sampai saat ini masih sangat sedikit ketimbang para sufi lain. Padahal paham tasawuf falsafi yang dibawa Al Hallaj cukup penting untuk diteliti dan dikaji secara kritis dan objektif, mengingat pemikiran tokoh tasawuf falsafi Al Hallaj mempunyai pengaruh yang cukup besar.

Biografi Al Hallaj

Abu Abdullah Husain bin Mansur al-Hallaj adalah ulama sufi yang dilahirkan di kota Thur dengan corak Arab di kawasan Baidhah, Iran Tenggara, pada tanggal 26 Maret 866M. Beliau adalah seorang dari keturunan Persia. Al-Hallaj merupakan ulama sufi paling terkenal di abad ke-9 dan ke-10.

Di usia sangat muda, ia mulai mempelajari tata bahasa Arab, membaca Alquran, dan tafsir serta teologi. Dalam usia 12 tahun beliau sudah hafal Alquran. Ketika berusia 16 tahun, ia merampungkan studinya, tetapi merasakan kebutuhan untuk menginternalisasikan apa yang telah dipelajarinya. Pamannya bercerita kepadanya tentang Sahl at-Tustari, seorang sufi yang berani dan independen dengan menyebarkan ruh hakiki Islam. Sahl adalah seorang sufi yang mempunyai kedudukan spiritual tinggi dan terkenal karena tafsir Alqurannya. Ia mengamalkan tradisi Nabi dan praktek kezuhudan. Kemudian Al-Hallaj pindah ke Tustar untuk berguru kepada Sahl.

Dua tahun berselang, Al Hallah meninggalkan Sahl dan pindah ke Bashrah. Setelah itu di Bashrah, ia berjumpa dengan Amr al-Makki untuk belajar tasawuf. Amr al Maliki adalah murid Junaid al-Baghdadi, seorang sufi paling berpengaruh saat itu. Al-Hallaj bergaul dengan Amr selama delapan belas bulan.

Aliran Tasawuf Falsafi

Dalam memahami konsep hulul (ungkapan-ungkapan ganjil) dalam ajaran tasawuf falsafi al-Hallaj, tidak cukup jika hanya dilihat dari perspektif sufisme. Sebab ungkapan kontroversial beliau memiliki fokus yang berbeda antara ungkapan yang satu dengan ungkapan yang lainnya. Hal ini yang menjadikan paham hulul yang digagas oleh al-Hallaj, berbeda dengan paham hulul yang digagas oleh kelompok hululiyun kaum Nasrani.

Konsep hulul dalam ajaran tasawuf falsafi Husain Ibnu Mansur al-Hallaj tidak keluar dari batas-batas agama. Sebab syatahatnya bukan pernyataan yang informatif terhadap siapa pun, tetapi hal tersebut (syatahat) terucap tanpa sadar saat ia dalam keadaan sakran (mabuk asmara kepada Tuhan). Konsep hulul yang terdapat dalam syair-syairnya, tidak lebih melainkan hanya ekspresi meluap secara emosional ketika merasakan limpahan kehadiran Ilahi. Sebagaimana ajaran para sufi lain merupakan wujud ekspresi pengalaman tasawuf ketika merasakan kehadiran Ilahi, yakni (dalam bahasa puitis al-Hallaj) bertemunya lahut manusia dengan nasut Tuhan.

Baca Juga: Abu Yazid Al Busthami

Karya Al Hallaj

Sebagian orang menyebut angka sekitar 40 an. Tetapi semuanya dibakar oleh penguasa Dinasti Abbasiyah. Buku-buku Hallaj dilarang keras. Mereka yang menyimpannya dihukum. Meski begitu sebagian orang menyimpannya secara diam-diam. Beberapa waktu kemudian sebuah manuskrip berjudul Al Thawasin ditemukan. Ini mungkin satu-satunya karya Al Hallaj yang selamat. Selain Al Thawasin, ada Diwan al Hallaj, berisi kumpulan cuplikan puisi-puisi atau kasidah-kasidahnya yang berhasil dihimpun dari berbagai orang, dan pengikutnya dari berbagai sumber. Diwan, kata Massignon, pertamakali ditemukan oleh Al Qusyairi, di perpusatakaan Sullami. Sebagian puisi terdapat pada Al Thawasin.

Al Thawasin, karya utama al Hallaj, berisi kumpulan narasi pemikiran dan keyakinan-keyakinannya yang ditulis dalam bentangan waktu hidupnya yang berbeda. Thawasin berisi 11 teks:

1. Thasin al Siraj. Menurut Ruzbihan Baqli, Thasin al Siraj berarti Lampu Al Musthafa (Nabi Muhammad), berisi pandangan Hallaj tentang Hakikat Muhammadiyyah. Tha dan Sin kependekan dari Thaha dan Yasin, dua panggilan nabi Muhammad.
2. Thasin al Fahm (pemahaman).
3. Thasin al Shafa (Kebeningan),
4. Thasin al Dairah (Sirkuit),
5. Thasin al Nuqthah (Titik),
6. Thasin al Azal wa al Iltibas (Kebahagiaan dan Derita Eterniti/ Keabadian dan Kekeliruan pemahaman),
7. Thasin al Masyi-ah (Kehendak),
8. Thasin al Tauhid (Keesaan),
9. Thasin al Asrar fi al Tauhid (Rahasia-rahasia dalam Keesaan),
10. Thasin al Tanzih (Kesucian, keterbebasan),
11. Thasin Bustan al Ma’rifah (Taman Pengetahuan/Ma’rifat).

Akhir Hidup Al Hallaj

Eksekusi mati terhadap al-Hallaj yang begitu sadis lebih didominasi oleh nuansa politis, tidak ada hubungannya sama sekali dengan ajarannya benar atau tidak. Para ulama pada saat itu seolah sudah merasa capek dan tidak mampu meluruskan pemikiran al-Hallaj. Hal ini menjadi peluang besar bagi orang-orang yang kontra terhadap al-Hallaj dalam membentuk konspirasi politik. Mereka merancang dakwaan untuk bisa menjerat al-Hallaj. Akhirnya mereka sepakat untuk mendakwa al-Hallaj sebagai pemberontak dari kalangan Qaramitah yang ingin menghancurkan Kakbah di Mekkah. Al- Hallaj merupakan korban politik dengan tuduhan teologis para penguasa politik Dinasti Abbasyiyah.

Beberapa alasan eksekusi dilakukan kepada Al Hallaj bahwa dianggap menganut aliran Syiah Qamarthian yang memberontak kepada penguasa. Selain itu juga kekhawatiran karena begitu kuatnya pengaruh ketokohan dari Al Hallaj. Beliau yang menyarankan para Sufi untuk mengajarkan ilmunya kepada masyarakat, namun Al Hallaj malah dianggap sebagai penyebar kesesatan.

Dalam sejarah tasawuf Islam, ungkapan-ungkapan ganjil (syatahat) yang lebih “mengerikan” dan ekstrem dari pernyataan al-Hallaj bahkan pernah dikemukakan oleh Abu Yazid al-Bustami. Namun Abu Yazid al- Bustami tidak mendapat hukuman atau sangsi politik seperti yang dialami oleh al-Hallaj.

Maka dari itu, al-Hallaj merupakan “noda hitam” dalam sejarah tasawuf Islam. Bukan karena ajaran tasawuf yang dibawanya keluar dari batas-batas agama, akan tetapi karena perlakuan kejam dan bengis para penguasa politik (Dinasti Abbasyiyah) yang menyebabkan terbunuhnya tokoh sufi besar, Husain Ibnu Mansur al-Hallaj. Mereka telah mengeksekusi mati seorang tokoh sufi besar dengan cara yang sangat brutal hanya demi kepentingan politik.


Angga Saputra – Seni tablig Seniman NU