Categories: AransemenHikmah

Membedah Seniman NU: Hakikat Seni #5

Share

Akhirnya sampai pada fase terakhir: Keindahan. Bagi yang merasa memiliki dan lama bergulat dengan seni, tentu tidak akan bertele-tele menilai keindahan sesuatu. Apalagi yang berkaitan dengan karya seni. Sayangnya, seni sendiri begitu diciutkan maknanya menjadi seputar tari, teater, musik, lukis, kriya, dan lain sebagainya. Padahal hakikat seni sendiri sangat erat kaitannya dengan kehidupan manusia.

Menurut John Hospera, Seni adalah segala sesuatu yang dibuat manusia dan bukan dari hasil kegiatan alami. Seni lahir dari keinginan kuat dalam diri manusia untuk berekespresi dan menciptakan sesuatu yang sesuai keinginan sebagai tanggapan dari pengalaman pribadi, rasa, pengolahan pemikiran, dan kondisi sekelilingnya.

Bisa juga dimaknai bahwa hakikat seni itu adalah ungkapan jiwa, perasaan, dan suasana hati. Tujuannya adalah untuk mengungkapkan perasaan manusia yang mengandung sebuah estetika atau keindahan. Berolah seni mencakup pada aktivitas batin atau jiwa dan raga sebagai bentuk pengalaman. Sehingga aktivitas batin bisa selaras dengan aktivitas raga.

Baca Juga: Membedah Seniman NU, Kebenaran Agama

Keindahan dalam seni juga merupakan sesuatu yang bisa mendatangkan kesenangan, kenyamanan, dan kepuasan bagi manusia yang secara normatif. Keindahan seni selalu dipandang subjektif dalam menentukan indah dan tidaknya sebuah seni. Di dalam seni yang cakupannya tak terhingga tersebut, sering dibagi menjadi beberapa elemen atau unsur. Ada juga yang mengkaitkan hubungan antara seni dan budaya yang merupakan bagian dari seni itu sendiri. Kesimpulannya adalah segala sesuatu yang menciptakan keindahan adalah sebuah karya seni.

Parameter seni mungkin bisa dinilai dari audio visual yang dipresentasikan. Namun lebih absurd bila seni dibiaskan pada sebuah paradigma, pemikiran, dan perasaan yang belum “dikaryasenikan”. Dalam perwujudanya mencapai fase keindahan, seni berperan dalam melenturkan pikiran kaku dan meleburkan hati yang keras. Sehingga kesan yang ditampakan adalah tentang kebahagiaan, kebijkasanaan, dan kenyamanan.

Manusia tidak bisa melepaskan diri dari berkesenian. Adat adalah kebiasaan yang berulang yang muaranya akan membentuk keindahan. Seni tidak bisa dipaksakan, karena menilai seni selalu berdasarkan pengalaman dari pelaku dan pemerhati seni itu sendiri. Sesuatu yang mungkin dianggap banyak orang berantakan, mungkin akan menjadi sebuah bentuk yang indah bagi mereka yang peka pada seni. Lukisan abstrak, teater kontemporer, musik absurd tidak berpola. Semua adalah laku dalam mencapai puncak kesenian.

Seni Hidup

Pandangan atau penilaian indah kepada apapun dan siapapun adalah harapan dari proses berseni tersebut. Kalau dalam berteater (panggung sandiwara), kehidupan yang sudah begitu detail diatur alur ceritanya oleh Sutradara. Musik yang mencipta segala bentuk keindahan suara alam semesta. Lukisan sebagai karya mengagumi bentuk ciptaan dari sang Maha. Banyak hal menjadikan hidup lebih nyeni seperti:

  • Sikap merasa bersalah

Dalam seni semua harus siap dikritik, karena mereka paham parameter keindahan bukan sesuatu yang objektif. Sikap merasa bersalah adalah bentuk pengalaman untuk berkarya yang lebih bisa dinikmati “konsumen”.

  • Berpikiran positif

Tenggang rasa dan saling menghargai. Segala hal di dunia ini selalu mempunyai kausalitas. Belum lagi tentang dimensi paradoks setiap pengambilan keputusan. Jika seorang yang memiliki jiwa seni, ia akan selalu melihat kebaikan dan kemudian menceritakan. Tidak mengungkit keburukan yang lain karena pasti mempunyai dasar sendiri menentukan keindahan masing-masing.

  • Bijaksana

Ini adalah puncak dalam berkesenian. Ucapan yang menentramkan, perilaku yang patut diteladani, pengambilan kesimpulan yang matang, dan perasaan atau pikiran yang penuh dengan kedamaian atau ketenangan.

  • Merdeka

Selalu berkarya tanpa ragau-ragu akan kesalahan. Karena prinsip seni akan selalu bermula dari kesalahan untuk mencapai bentuk yang diinginkan. Merdeka berarti tidak terkontaminasi dari doktrin yang tidak sesuai dengan nurani.

Baca Juga: Membedah Seniman NU, Jahat Tidak Baik

Seni adalah segala sesuatu yang bebas tapi sadar batas. Itulah kenapa seni tidak bisa dilepaskan dari aspek agama, karena itulah pembatasnya. Beragama tanpa seni akan menjadikan kaku. Sedangkan seni tanpa agama adalah semu. Ciptakan diksi yang indah dalam selembar puisi untuk menggambarkan kekaguman kita dalam beragama.

Menulis naskah drama yang kita susun beserta konflik dan klimaks adegan agar mendapat riuh tepuk tangan dari penonton. Hanya itulah penghargaan tertinggi dari karya seni. Bentuk apresiasi yang tidak melulu materi dan impian. Selama kita berperilaku dan bermanfaat bagi orang lain – Itulah hakikat seni! Begitupun beragama yang paling fundamental adalah bagaimana kita sebagai umat bisa berguna dan bermanfaat untuk yang lain.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU