Categories: FolkorHikmah

Hakikat Kurban

Share

Idul Kurban berasal dari dua kata dalam bahasa Arab. Ied dari kata ‘aada – ya’uudu, bermakna “kembali”. Qurban, dari kata qaraba-yaqrabu, bermakna “mendekat”. Idul Kurban kemudian bisa dimaknai sebagai hari dimana kita berupaya kembali pada hakikat kemanusiaan kita yang mendambakan dekat dengan Allah. Banyak cara yang bisa kita tempuh untuk mendekat kepada-Nya (taqarrub Ilallah), Maulana Jalaluddin Rumi menyebut, sebanyak helaan nafas manusia.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya, agar kamu beruntung (QS. Al-Maidah: 35).

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. (QS. Al-Kautsar: 2)

Kurban tidak saja bermakna memotong seekor kambing yang terbaik, lebih jauh dari itu, yakni mengorbankan kecintaan kepada selain Allah SWT. Sebagaimana kisah Nabiyullah Ibrahim As., yang begitu lama mendambakan seorang putra dan dengan khusuk melantunkan doa-doa. Setelah dikaruniai seorang putra yang bernama Ismail, membuat hatinya berpaling, yang tadinya hanya terisi Allah Swt., mulai berbagi. Karena Allah memerintahkan menyembelih putra tersayangnya, agar hatinya kembali bersih – hanya mencintai Allah SWT. Orang-orang yang mengikuti hakikat kisah ini, dengan jalan memerangi hawa nafsunya (mujahadah) pada setiap kesempatan, dalam istilah tasawuf disebut mutashowif.

Baca Juga: Menyelami Makna Makrifat

Pengorbanan kedua nabi tersebut menjadi sebuah pelajaran, bagaimana tingkatan untuk mencapai rida Allah harus rela mengorbankan sesuatu yang paling dicintai di dunia ini. Sedangkan kita sering terlena hanya untuk mengorbankan sedikit harta untuk bersedekah hanya karena sulitnya melepaskan hawa nafsu keduniaan.

Dalam kasus nyata tentang kurban, seringkali kita menyisakan pamrih atas hewan yang kita buat untuk berkurban. Mungkin pula karena Tuhan terlalu abstrak dan kurang instant, sehingga keikhlasan menjadi investasi yang kurang aman.

Menjadi sesuatu yang sebaliknya jika apa yang telah kita korbankan segera menjadi keuntungan. Misalkan kita berkorban kambing, besoknya mendapatkan sapi. Begitu kiranya semua orang akan berlomba untuk saling berkurban. Semoga kita menjadi hamba yang senantiasa mengabdi untuk mengorbankan segala sesuatu kepada Allah.

Nama lain Idul Kurban, adalah Idul Adha. Adha memiliki makna penyembelihan. Harus ada yang disembelih. Kita yang termasuk belum memiliki kemampuan untuk menyembelih hewan kurban, sesungguhnya telah diberi kemampuan untuk melakukan prosesi penyembelihan lain, menyembelih “kambing”, “sapi”, “onta”, maupun “hewan ternak” lain yang beranak pinak dalam diri kita. Hewan ternak sesungguhnya tamsil dari dominasi hawa nafsu dan syahwat kita. Tamsil segala kesesatan dan keburukan; kebodohan, kedengkian, ketakaburan, buruk sangka, kemalasan, kecintaan pada hal-hal material dan aspek lainnya yang harus kita sembelih dari diri kita. Allah Swt. menyebut orang-orang yang buta hati, akal dan pikirannya lebih sesat dari hewan ternak.

Maulana Jalaluddin Rumi dalam Matsnawi Ma’nawi menafsirkan empat ekor burung yang disembelih dan dicincang oleh Nabi Ibrahim as dalam surah Al-Baqarah ayat 260 sebagai empat ekor unggas yang ada dalam diri kita. Keempat ekor unggas itu adalah bebek yang mencerminkan kerakusan, ayam jantan yang melambangkan nafsu, merak yang menggambarkan kesombongan dan gagak yang melukiskan keinginan.

Kita hanya bisa kembali hidup sebagaimana manusia ketika kita berani menyembelih keempat unggas ini, sebagaimana Ibrahim As mencincangnya. Di antara keempat unggas ini, bebeklah yang paling mewakili karakter kebanyakan kita.

Baca Juga: Mudik Lebaran

Dikisahkan oleh Maulana Jalaluddin Rumi, secara indah dalam kitab Mastnawi yang masyhur. Kisah itu bercerita tentang seekor keledai yang dikandangkan bersama seekor Unta, keledai itu berkata:

“Kepalaku selalu menunduk ke bawah, kendati demikian, aku masih selalu jatuh. Sementara kepalamu tegak, dan pandanganmu lurus serta melihat ke atas, tetapi engkau tidak pernah jatuh, apa sebabnya?”

Sang Unta menjawab, “Dengan kepalaku tegak dan lurus aku bisa melihat jauh. Kalau ada lubang, aku bisa menghindarinya.”

Mendengar itu si keledai menangis, ‘Bimbinglah aku, tunjukkan kepadaku jalan yang lurus, sehingga aku tidak jatuh lagi.’

Sang Unta menjawab, “Dengan mengakui kelemahan diri, kamu sudah terselamatkan. Berbahagialah sekarang, karena kamu sudah terbebaskan dari sesuatu yang jahat.’

Terbebaskan dari sesuatu yang jahat, yakni keakuan atau ego! Tujuan utama bertasawuf adalah mengalahkan keakuan atau ego, hal ini tidak boleh terlupakan oleh para salik, bukan malah membangunnya.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU