Categories: FolkorMakam

Habib Ali bin Umar Bafaqih

Share

Jika di Pulau Jawa terkenal dengan Wali Songo maka di Bali ada Wali Pitu (tujuh wali), yang terdiri dari Mas Sepuh Raden Raden Amangkuningrat Badung, Habib Umar bin Maulana Yusuf al-Maghribi Tabanan, Habib Ali bin Abubakar bin Umar bin Abubakar al-Hamid Klungkung, Habib Ali Zaenal Abidin Alaydrus Karangasem, Syaikh Maulana Yusuf al-Baghdadi al-Maghribi Karangasem, The Kwan Lie Buleleng dan Habib Ali bin Umar bin Abubakar Bafaqih Jembrana. Nama terakhir, Habib Ali bin Umar Bafaqih Jembrana, adalah salah satu guru utama Maulana Habib Luthfi Bin Yahya Pekalongan.

Silsilah Habib Ali bin Umar Bafaqih

Habib Ali Bafaqih dilahirkan dari pasangan Habib Umar dan Syarifah Nur, pada tahun 1890 di Banyuwangi. Selain mendalami ilmu Alquran di waktu mudanya beliau dikenal sebagai pendekar silat yang sangat tangguh.

Nasab al-Habib Ali Bin ‘Umar Bafaqih. Beliau adalah Abu al-Asybal al-Sayyid al-Habib ‘Ali bin ‘Umar bin Abu Bakar bin Ahmad bin Zein bin ‘Alwiy bin ‘Abdullah bin Syeikh bin ‘Abdullah bin Syeikh bin ‘Abdullah bin ‘Ali bin Muhammad bin ‘Ali bin Ahmad bin ‘Abdullah Bafaqih bin Muhammad Maula ‘Aidid bin ‘Ali bin Muhammad bin ‘Abdullah bin Ahmad bin ‘Abdurrahman bin ‘Alwiy Muhammad Shahib al-Mirbath bin ‘Ali Kholi’ al-Qasm bin ‘Ali bin Muhammad bin ‘Alwiy bin ‘Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir ilallah bin ‘Isa al-Naqib bin Muhammad al-Naqib bin al-Imam ‘Ali al-‘Uraidhi ra bin al-Imam Ja’far al-Shadiq ra bin al-Imam Muhammad al-Baqir ra bin al-Imam ‘Ali Zein al-‘Abidin ra bin al-Imam Husein ra bin al-Imam ‘Ali bin Abi Thalib ra suami dari Sayyidatuna Fathimah al-Zahra` ra binti Rasulullah Saw.

Al-Habib Ali dilahirkan di sebuah desa bernama Lateng di Banyuwangi, sebuah perkampungan Arab, yang kini terletak di belakang Terminal Blambangan, pada hari Minggu malam Senin tanggal 1 Januari 1882 M atau 15 Sya’ban 1298 H, di sebuah keluarga yang sangat religius dan disiplin dengan ajaran Islam.

Ayah al-Habib Ali, al-Habib Umar bin Abu Bakar Bafaqih (1792-1942), adalah seorang ulama terkemuka pada masa itu. Al-Habib Umar juga adalah seorang muballigh. Sering berdakwah dari pulau ke pulau, seperti: Kangean, Sepeken, Bawean, Kalimantan, Sulawesi, Lombok dan Bali. Kemudian Habib Umar pernah mengawini wanita Loloan, Negara, Bali.

Ibu al-Habib Ali, Hababah Nur binti abdullah al-Haddad (1832-1932), adalah seorang muslimah yang salehah dan ustadzah.

Menurut cerita dari adik bungsunya, Hababah Ruqayyah Bafaqih, sebelum kelahiran al-Habib Ali, ayahnya bermimpi diberikan sebilah pedang al-Imam Ali bin Abi Thalib ra, Dzulfiqar, oleh seorang ulama. Karena itulah al-Habib Umar memberinya nama “Ali”.

Baca Juga : Sunan Kalijaga

Pendidikan Habib Ali bin Umar Bafaqih

Pada usia 7 tahun, al-Habib Ali berguru kepada ayahnya sendiri. Saat itu al-Habib Ali mendalami Alquran sampai 30 juz. Selain itu, ayahnya membekali al-Habib Ali dengan ilmu bela diri, di antaranya cimande, cimacan, cikalong, dll. Pada usia 10 tahun, al-Habib Ali sudah mampu membiayai hidupnya sendiri dan membantu mengurangi beban ekonomi kedua orang tuanya.

Al-Habib Ali mengenyam pendidikan agama di Pondok Pesantren Lateng, Banyuwangi, yang pada waktu itu diasuh oleh KH. Shaleh. Beliau pernah memuji al-Habib Ali di depan murid-muridnya dalam bahasa Melayu, “Besok kalo` sudah tuê Ye’ Ali (maksudnya al-Habib Ali) tu, situ kau tengok kewalian diê”. Maksudnya kewalian al-Habib Ali akan terlihat jika al-Habib Ali sudah tua.

Kemudian al-Habib Ali melanjutkan ke Pondok Pesantren Bangkalan, Madura, yang pada masa itu diasuh oleh KH. Kholil bin Abdul Lathif. Al-Habib Ali belajar di pondok pesantren ini selama 2 tahun dan telah dinyatakan lulus oleh KH. Kholil. Dengan dawuhnya, “Anda (al-Habib Ali), sekarang telah menjadi orang yang alim. Sekarang pulanglah, anda akan naik haji 7 kali”. Berkat doa KH. Kholil ini, al-Habib Ali menjadi seorang ulama besar dan dapat menunaikan ibadah haji.

Setelah itu al-Habib Ali berlayar ke tanah suci Mekah untuk memperdalam ilmu agama. Keberangkatan al-Habib Ali ke Mekkah ini atas sponsor KH. Sanusi. Al-Habib Ali bermukim di Si’ib Ali, Mekkah, kurang lebih 7 tahun lamanya. Itulah sebabnya al-Habib Ali dapat berkali-kali menunaikan ibadah haji.

Ketika di Mekkah, al-Habib Ali bertemu dan memperdalam ilmu agama kepada Syeikh Umar Hamdan. Al-Habib Ali juga memperdalam ilmu hadis kepada al-Sayyid Abbas bin Abdul Aziz al-Maliki al-Hasani dan al-Sayyid Alwiy bin Abbas al-Maliki al-Hasani—ayah dan kakek dari Prof. Dr. Al-sayyid Muhammad bin Alwiy al-Maliki al-Hasani, salah seorang ulama ahli hadits al-Haramein Mekkah al-Mukarramah—dan beberapa ulama serta pakar ilmu agama Islam terkenal lainnya.

Pernikahan Habib Ali bin Umar Bafaqih

Al-Habib Ali pertama kali menikah dengan wanita yang alimah dan salehah bernama Hababah Nazihah di Mekah pada tahun 1900. dari pernikahan ini al-Habib Ali dikaruniai seorang putra bernama al-Habib Alwiy Bafaqih (1902-1974). Al-Habib Ali berada di Mekah sekira 25 tahun dan dalam kurun waktu itu. Habib Ali menghabiskan pengembaraannya ke jazirah Arab dan Persia. Melintasi Yaman, berkelana ke Kuwait dan terus dilanjutkan ke Iraq, Iran hingga ke Mesir untuk studi banding agama ke majelis-majelis taklim ulama yang ada di negara-negara tersebut.

Pondok Pesantren Habib Ali bin Umar Bafaqih

Setelah kembali ke tanah air, al-Habib Ali menikah dengan Hababah Zainah binti Abdul Qadir al-Azhumah Khan (w. 1973) setelah wafat suaminya, al-Habib Hamid Ba’bud, yang juga adalah salah satu dari ustadz al-Habib Ali.

Kemudian tak lama setelah pernikahan tersebut, ayah al-Habib Ali, al-Habib Umar berpesan:

ضَعْ وُجُوْدَكَ فِي اْلأَرْضِ الْخَمُوْلِ.

Artinya: “Taruhlah dirimu di tempat yang tak dikenal”.

“Tempat yang tak dikenal” yang dimaksud tidak lain adalah Bali. dilatarbelakangi oleh restu dan wasiat ayahnya, maka mulailah al-Habib Ali menyiarkan Islam ke Bali.

Sebelum ke Bali, Habib Ali sempat mengajar di Madrasah al-Khairiyyah di daerah kelahirannya, Banyuwangi. Di samping itu juga al-Habib Ali mengajar ke beberapa pulau, seperti: Sepeken, Bawean, Kangean, Lombok, dll.

Pada pertengahan tahun 1920, al-Habib Ali bersama isterinya, Hababah Zainah, berlayar ke Lombok untuk syiar agama Islam selama beberapa bulan. Tempat yang al-Habib Ali kunjungi pada waktu itu diantaranya adalah Pancor. Setelah itu, al-Habib Ali melanjutkan dakwahnya ke pulau Bali.

Baca Juga : Sunan Kudus

Dakwah ke Pulau Dewata

Al-Habib Ali datang ke Bali pada akhir tahun 1920. Tempat pertama kali yang al-Habib Ali kunjungi di Bali adalah Kepaon, nama desa di Kabupaten Badung, Denpasar, ibu kota Provinsi Bali. Di desa ini, Habib Ali mendapat sambutan yang sangat baik dari warga setempat. Sebagian warga desa setempat sering mencari penghidupan ke Air Kuning. sebuah desa yang terletak di pesisir pantai Kabupaten Jemberana, Negara. Tak jauh dari Loloan, tempat berdirinya pondok pesantren al-Habib Ali saat ini.

Banyak dari warga Kepaon menikah dengan penduduk dari kedua desa tersebut. Selain mencari penghidupan, warga Kepaon juga sering menghadiri majelis ta’lim yang diadakan di kedua desa tersebut. Karena itulah al-Habib Ali memutuskan ingin mengunjungi kedua desa tersebut. Kemudian bersama isterinya, al-Habib Ali berangkat ke Kabupaten Jemberana dan Loloan.

Al-Habib Ali memulai syi’arnya di Negara ini dengan mengawali mengajarkan ilmu-ilmu agama praktis di langgar-langgar, di musala-musala, di masjid-masjid, dan masyarakat sekitar, bahkan di berbagai desa di wilayah Kabupaten Jemberana, seperti: Tegal Badeng, Cupel, Baluk, Tukadaya, Banyubiru, Pengambengan, Melaya, Air Kuning, Air Sumbul dan Medewi. Di samping berdakwah di Negara, al-Habib Ali juga sering berkunjung ke tanah kelahirannya, Banyuwangi, sekaligus mengajar di Madrasah al-Khairiyyah.

Pendirian Pondok Pesantren

Melihat setting al-Habib Ali seperti itu, membuat respon dan antusias masyarakat sangat besar. Dan terhadap materi serta metode pengajaran atau pembelajaran yang al-Habib Ali presentasikan, menunjukkan betapa kedalaman kemampuan ilmu yang dimiliki al-Habib Ali sebagai tanda bahwa beliau memiliki kemampuan dan kecerdasan yang sangat luas dan tajam. Ditambah dengan penampilan dan karakteristik al-Habib Ali senantiasa dihiasi dengan akhlak karimah, maka timbullah pikiran al-Habib Ali untuk mendirikan sebuah lembaga yang lebih representatif dalam bentuk pondok pesantren.

Niat untuk mendirikan lembaga ini bukanlah sesuatu yang mudah, tetapi memerlukan daya pikir dan usaha yang cukup keras. Bagaimana tidak? Karena pada saat itu al-Habib Ali belum mempunyai tempat yang layak untuk tempat pembelajaran.

Pada mulanya, al-Habib Ali mendirikan sebuah pengajian kecil bernama “SYAMSUL HUDA” pada tahun 1928. Setelah pengajian kecil yang diasuhnya ini mengalami kemajuan yang sangat pesat, maka al-Habib Ali berpikir untuk mengalihkan pengajian tersebut ke sebuah tempat yang baru. Impian al-Habib Ali untuk mendirikan pondok pesantren kini sudah nyata. Karena dari beberapa dukungan muncul terutama dari seorang dermawan bernama H. Yasin -ayah dari alm. H. Abdul Hafizh- berkenan untuk mewakafkan sebidang tanah yang terletak di kampung Kerobokan, tak jauh dari (sebelah barat) sungai Ijo Gading. Akhirnya pada tanggal 12 Februari 1935, al-Habib Ali mulai mendirikan pondok pesantren di kampung tersebut.

Pada mulanya pesantren ini didirikan dalam bentuk yang sangat sederhana. Karena dindingnya terbuat dari anyaman bambu (gedek=Jawa), sedang atapnya terbuat dari anyaman daun kelapa (raab=Bali). Disinilah al-Habib Ali membina, membimbing, dan mengajar serta mendidik para santri yang berdatangan dari beberapa daerah di seluruh Bali, bahkan ada yang berasal dari Jawa, terutama Banyuwangi.

Perkembangan Pondok Pesantren

Beberapa tahun setelah itu, ada di antara mereka yang kemudian melanjutkan dan sudah menyantri lama di sebuah pondok pesantren di Jawa, seperti: Jombang (Darul-‘Ulum / Bahrul-‘Ulum), Tebu Ireng, Denanyar, Sidogiri, Pasuruan, Sukorejo, Asem Bagus, Banyuwangi (Darun-Najah) datang ke almamaternya dengan mengajak beberapa kawan, ikut mengaji kembali sambil mengajar tingkat bawahannya (belajar-menagjar).

Hal ini sangat menguntungkan bagi para santri, baik yang mengajar maupun yang belajar. Karena dengan begitu mereka dapat saling menukar informasi atau pengalaman belajar mereka. Diantara mereka ada pula yang ditunjuk sebagai santri khusus yang bertujuan untuk mencetak SDS (Sumber Daya Santri) yang siap terjun sebagai pengajar di pesantren ini maupun di masyarakat. Mereka dibekali ilmu-ilmu pendukung (diniyyah) untuk menunjang materi metode dakwah mereka.

Selain itu para santri juga belajar tentang banyak hal, seperti:

  1. Ilmu Tauhid, dengan rujukan; sifat dua puluh, hayah al-islam, khamsah al-mutun, ‘aqidah al-‘awwam, ‘aqidah al-sanusiyyah, dll.
  2. Ilmu Fiqh, dengan rujukan; masa`il al-muhtadin, irsyad al-anam, perukunan besar, tujuh faedah, safinah al-najah, sullam al-taufiq, sullam al-mubtadi, sabil al-muhtadin, kifayah al-akhyar, bughyah al-mustarsyidin, kasyifah al-suja, al-umm, al-mabadi` al-fiqhiyyah, fiqh al-sunnah, fath al-qarib al-mujib, matn al-zubad, dll. Ditambah dengan ilmu ushul al-fiqh.
  3. Akhlaq / Tashawwuf, dengan rujukan; al-akhlaq li al-banin (al-banat), hidayah al-salikin, sair al-salikin, durrah al-nasihin, perhiasan bagus, ihya` ulum al-din, bidayah al-hidayah, minhaj al-abidin, tanbih al-ghofilin, muroqi al-‘ubu diyyah, dll.
  4. Tarikh / Siroh / Sejarah, dengan rujukan; maulid al-diba’i, maulid al-‘azab, maulid al-barzanji, maulid simth al-durar, dll.
  5. Ilmu tafsir, dengan rujukan; tafsir al-jalalein, tafsir al-shawi, al-iksir, al-ibriz, dll.
  6. Ilmu hadits, dengan rujukan; lubab al-hadits, bulugh al-maram, matn al-baiquni, mushthalah al-hadits, dll.
  7. Nahwu dan Sorf, dengan rujukan; matn al-jurumiyyah, syarh dahlan, al-nahw al-wadhih, qawa’id al-lughah al-‘arabiyyah, matn bina` wa al-asas, tashrif al-‘izziy, alfiah ibn al-malik, muttammimah, ‘imrithi, syarh ibn ‘aqil, qowa’id al-i’rob, al-amtsilah al-tashrifiyyah, dll. Ditambah dengan ilmu Balaghah, Bayan, Badi’, Ma’ani, Khoth, Imla`, Masyrahiyyah, dll.
  1. Seni olah raga, seperti: seni qira`ah, seni qashidah, seni khithabah, seni bahasa (arab, inggrism indosesia), dan seni bela diri (pencak silat).
  2. Bahara Arab, dengan rujukan; lughah al-tkhathub, al-lughah al-‘arabiyyah, dll.
  3. Ekstra kulikuler, seperti: menjahit, mengetik, menukang, dll.

Pesantren yang beliau asuh mengalami kemajuan yang sangat pesat dari tahun ke tahun. Terbukti dengan pesatnya jumlah Jumlah santri dari berbagai daerah, baik secara kulikuler maupun ekstra kulikuler (pengajian ibu-ibu di hari Kamis sore dan pengajian bapak-bapak di hari Jum’at pagi). Ditambah dengan kegiatan dakwah al-Habib Ali dari kampung ke kampung.

Perkembangan kemajuan ini juga ditandai dengan pendidikan formal yang pernah ada di kurun waktu 1963, dengan dilahirkannya Madrasah Mu’allimin (keguruan) yang bertujuan untuk mencetak para santri yang dipersiapkan untuk mengajar pendidikan agama di sekolah-sekolah formal yang direncanakan ke depan oleh al-Habib Ali, seperti Madrasah Ibtida`iyyah, Madrasah Tsanawiyyah, dan Madrasah ‘Aliyyah.

Pada tahun 1971, atas prakarsa para dewan guru PGA 4/6 tahun, didirikan madrasah setingkat SLTP bernama MMPN (Madrasah Menengah Pertama Negeri) di PONDOK PESANTREN SYAMSUL HUDA untuk mendukung PGA 4/6 tahun tersebut.

Di tahun 1975, mulai terasa bahwa beberapa santri SYAMSUL HUDA yang menimba ilmu di PGA 4/6 tahun telah lulus ujian. Sebagian besar mereka ada yang melanjutkan pendidikannya di Jawa, seperti; di PTIQ Jakarta, ada pula yang melanjutkan di IKIP Malang, Singaraja (Bali), dan ada pula yang melanjutkan di IAIN Malang, Yogyakarta, UII Yogyakarta. Sedang sebagian yang lainnya, yang tidak dapat melanjutkan, masih menimba ilmu di pesantren sendiri, juga di madrasah di Negara, Cupel dan Banyubiru sambil menunggu pengangkatan pegawai negeri Madrasah Ibtida`iyyah.

Sekitar tahun 1973, al-Habib Ali membeli sebidang tanah milik Datuk Zainab Masqati untuk kamar mandi santri yang baru. Letaknya dekat dengan sungai Ijo Gading.

Baca Juga : Raden Rahmat (Sunan Ampel)

Bencana di Bali

Pada tanggal 14 Juli 1976, terjadi gempa bumi berkekuatan 5,6 pada sekala richter yang sempat memporakporandakan bangunan pesantren. Bahkan ada di antara santri yang sedang beristirahat terkena reruntuhan bangunan tersebut. TPeristiwa ini tidak mengurangi niat dan minat mereka (santri) untuk menimba ilmu agama di kota ini, baik santri yang bersekolah (PGA 4/6 tahun) maupun mereka yang berpredikat sebagai santri biasa. Pada waktu itu proses belajar-mengajar di laksanakan di bawah tenda darurat (kemah), dan sebagian di kediaman al-Habib Ali. Kini bertempat di jalan Katulampo No. 11 Loloan Barat, Negara-Bali.

Beberapa tahun kemudian, setelah kehadiran seorang dermawan kelahiran Loloan yang mempunyai perusahaan di Arab Saudi. Bernama Abdullah bin Umar Bamasaq, yang juga santri al-Habib Ali, pulang ke Loloan dan membantu membangun gedung baru yang lebih baik, lengkap dengan asrama santri berlantai dua. Dengan demikian, proses belajar-mengajar dapat berjalan sebagaimana biasa.

Di tahun 1982, santri-santri yang dulu pernah melanjutkan ke Jawa, sebagaian besar mereka telah lulus. Mereka kembali ke dan mengabdikan diri ke almamaternya (belajar dan mengajar).

Di tahun itu pula, dengan didukung oleh SDM yang memadai dan dukungan finansial dari Abdullah Bamasaq di bawah panji IKAP (Ikatan Abituren PGA), lahirlah PTIA (Perguruan Tinggi Ilmu Agama), sementara masih menumpang di gedung PGA—kini STIT Al-Mustaqim Negara. Gedung ini dibangun pada tahun 1984 di atas tanah yang diwakafkan oleh Abdullah Bamasaq. Dengan didirikan STIT Al-Mustaqim ini, maka santri-santri SYAMSUL HUDA yang tidak mampu melanjutkan sekolah ke Jawa, dapat melanjutkan di STIT Al-Mustaqim ini.

Kepribadian Habib Ali bin Umar Bafaqih

Al-Habib Ali berpostur tubuh tinggi, berkulit putih, sangat kharismatik dan wajahnya selalu berseri, karena selalu dibasahi dengan air wudhu`. Al-Habib Ali terkenal sebagai orang yang mempunyai ilmu yang luas, sangat penyantun dan tawadhu’ kepada siapa saja; tua maupun muda, kaya maupun miskin, muslim maupun non muslim, kepada yang ‘alim maupun tidak. Jika bertemu dengan seseorang, al-Habib Ali selalu menyapa dan mengucapkan salam sambil tersenyum dan menganggukkan kepala (dengan hormat) terlebih kepada orang yang dikenalnya.

Masyarakat Loloan memanggilnya dengan “Datuk Habib / Moyang Habib”. Al-Habib Ali sangat menghormati tamu, terlebih mereka adalah alim ulama dan dzurriyah (keturunan) Rasulullah Saw.

Habib Ali sangat menjaga porsi makannya. Al-Habib Ali makan hanya untuk bertahan hidup, dan menyukai makanan yang paling sederhana. Al-Habib Ali selalu makan tepat pada waktunya (istikamah), amat teratur hidupnya.

Jika diundang, Habib Ali selalu berusaha untuk datang tepat waktu, atau paling lambat 15 menit sebelum acara tersebut dimulai. Meskipun tempat undangan itu jauh dan sulit terjangkau. Terkadang, untuk memenuhi undangan tersebut, Habib Ali harus berjalan di bawah teriknya matahari atau kehujanan.

Al-Habib Ali juga sangat menjaga kebugaran tubuhnya. Pernah dalam sebuah wawancara dengan salah seorang wartawan, al-Habib Ali membeberkan rahasia kebugarannya. Katanya, “Madu itu banyak khasiatnya. Ada caranya, sebab ini agak lain. Saya sering minum madu yang dimasak dalam cangkir dan dipanaskan di atas lempeng baja putih”. Khasiatnya memang nyata, ini terlihat pada wajahnya yang kebugaran kulitnya tetap terjaga dan tidak mudah mengkeriput, dan tubuhnya langsing, liat dan gesit.

Al-Habib Ali juga selalu tampil flamboyan, karena memiliki kepekaan seni dalam hal berbusana. Al-Habib Ali selalu memakai celak mata dan memakai minyak wangi yang tentunya buatan Arab.

Amalan Habib Ali bin Umar Bafaqih

Habib Ali tidur pada pukul 10 malam (WITA) dan bangun pada pukul 2 pagi untuk melaksanakan salat malam hingga menjelang fajar. Mendekati Subuh, al-Habib Ali biasanya berolahraga dengan jalan-jalan sambil berzikir. Setelah mendengar adan Subuh, barulah Habib Ali pulang ke rumah untuk menunaikan salat Subuh. Setelah itu, beliau berzikir hingga pukul 6 pagi. Al-Habib Ali berulangkali membaca asma` al-husna, kadang-kadang untuk setiap asma` yang dibaca, beliay bertasbih, bertahlil dan bertahmid. Setelah itu membaca zikir lainya hingga pukul 6 pagi.

Setelah mandi pagi, al-Habib Ali sarapan pagi dengan telur, susu dan kopi khas arab. Kemudian, al-Habib Ali mengajar santri-santrinya mulai pukul 7 – 9. lalu biasanya al-Habib Ali sarapan nasi hanya dengan tiga suapan saja, kemudian salat Dhuha dan berzikir sebentar. Kadangkala setelah mengajar al-Habib Ali memuthala’ah (mengecek ulang) kitab-kitabnya.

Pada pukul 11, setelah jalan-jalan, al-Habib Ali menunggu waktu Zuhur dengan duduk santai atau tidur sebentar, kemudian barulah makan siang dan salat Zuhur yang dilanjutkan dengan zikir.

Menjelang Asar, al-Habib Ali membuka kitab-kitab yang akan diajarkan kepada para santrinya. Setelah itu, al-Habib Ali mandi dan salat Asar. Setelah berzikir, al-Habib Ali duduk santai sambil membaca kitab-kitabnya. Pada sore hari setelah mengajar, al-Habib Ali membaca Thariqah al-‘Alawiyyah al-Naqsyabandiyyah dari Syeikh abdul qadir al-Jailani.

Sebelum Maghrib, al-Habib Ali biasanya membaca surah al-syams, kitab senjata mu`min, dan kitab dala`il al-khairat. Sesudah salat Maghrib, al-Habib Ali mengajar santri-santrinya hingga Isya`. Setiap malam Jum’at setelah salat Maghrib, al-Habib Ali bersama santri-santrinya membaca Ratib al-Haddad dari al-Habib Abdullah bin Alwiy al-Haddad. Setelah salat Isya`, al-Habib Ali juga mengajar santri-santri khususnya.

Wafatnya Habib Ali bin Umar Bafaqih

Pada akhir tahun 1998, al-Habib Ali mengalami gangguan di saluran kantung kemihnya yang menyebabkan beliau susah buang air kecil. Beliau kemudian berobat ke rumah sakit terdekat, RS Dharma Sentana (13 Oktober 1998). Karena sakit yang dideritanya bertambah parah, al-Habib Ali lalu berobat di salah satu rumah sakit di Denpasar, RS Sanglah. Setelah kesehatannya semakin membaik, al-Habib Ali diperbolehkan pulang oleh dokter (pada 25 November 1998).

Tiga bulan setelah itu, kesehatan al-Habib Ali memburuk kembali. Maka pada 25 Februari 1999, al-Habib Ali dibawa berobat kembali ke Denpasar, RS Kasih Ibu.

Pada 27 Februari 1999, sekitar jam dua siang (WITA) adalah hari yang sangat menyedihkan bagi keluarga al-Habib Ali khususnya dan masyarakat Loloan Barat pada umumnya. Sebelum wafatnya, al-Habib Ali sempat melihat bayangan ayahnya, al-Habib Umar, sambil memanggil, “Abah….Abah….Abah….!!!”, dan mnyebut, “Allah….Allah….Allah….!!!”. dan pada waktu itu juga al-Habib Ali menghembuskan nafas terakhirnya dalam usia 117 tahun.

Kemudian, jenazah al-Habib Ali dibawa dari Denpasar ke Loloan barat, Negara untuk disemayamkan. Suasana haru, tangis dan duka menyelimuti rumah kediaman al-Habib Ali. Pada malam harinya, hampir semua masyarakat Loloan, Kabupaten Jemberana dan sekitarnya, serta orang-orang yang mengiringi ambulance yang mengantarkan jenazah al-Habib Ali dari Denpasar ke Loloan Barat, menghadiri acara pembacaan yasin, tahlil dan do’a untuk al-Habib Ali.

Keesokan harinya, 28 Februari 1999, jenazah al-Habib Ali dibawa untuk disalatkan di Masjid Besar Mujahidin Loloan Barat. Waktu jenazah al-Habib Ali dikeluarkan dari rumah kediamannya, turun hujan gerimis mengiringi jenazah al-Habib Ali ke Masjid Mujahidin. Setelah jenazah al-Habib Ali masuk ke Masjid Mujahidin, hujan gerimis itu tiba-tiba reda.

Kejadian serupa juga terjadi ketika jenazah al-Habib Ali dikeluarkan dari Masjid Mujahidin untuk dibawa ke PONDOK PESANTREN SYAMSUL HUDA untuk dimakamkan. Hujan gerimis itupun turun, dan reda ketika jenazah al-Habib Ali telah masuk ke PONDOK PESANTREN SYAMSUL HUDA. Warga Loloan dan sekitarnya berpendapat, kejadian tersebut merupakan salah satu dari karomah al-Habib Ali.

Makam Keramat Al-Habib Ali bin Umar Bafaqih berada di area Pondok Pesantren Syamsul Huda, Kampung Kerobokan, Kelurahan Loloan Barat, Kecamatan Negara, Jembrana.

Referensi: http://kasyaf.com/

*Jika ingin berziarah ke makam Habib Ali bin Umar Bafaqih bisa menghubungi koordinator Seniman NU Bali

Lintang Eka P – Seniman NU Regional Bali