Categories: AransemenKajian

Goblok Lebih Maksiat daripada Riba

Share

Saya akan mencoba menulis artikel tentang orang goblok lebih maksiat daripada riba yang diambil dari ceramahnya Gus Baha. Belakangan banyak sekali orang yang suka jalan–jalan. Pergi ke sana kemari demi kesenangan batiniah atau sekedar mencari spot foto yang instragamabel. Ternyata berpergian mempunyai berkah tersendiri. Karena kita akan sadar bumi ini diciptakan Allah berbeda-beda, tanahnya, udaranya, musimnya, budayanya, dan banyak lagi keindahan di daerah masing-masing.

Orang zuhud itu tidak suka diajak ngeluyur (berpergian) kata Gus Baha. Dengan ngeluyur kita akan mengetahui bahwa semua di dunia ini bias dihitung. Dalam Alquran Surat Yunus (10:5)

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ ۚ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَٰلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

Baca Juga: Kisah Kezuhudan KH. Zainal Abidin Munawwir Krapyak

Bahwa hisab itu bisa dihitung, hari menjadi bulan, bulan menjadi tahun. Kita bisa menghitungkan pada bulan ini matahari berada di belahan bumi utara. Selanjutnya akan berada di belahan bumi tengah yang menyebabkan bumi pengalami panas. Kemudian berada di belahan bumi selatan dan kembali lagi ke belahan bumi tengah, dan seterusnya. Itu salah satu barokahnya orang berpergian. Ya beda tradisinya, beda cuacanya, beda ilmunya, beda kebiasaannya, beda atmosfirnya. Karena dengan melihat dan merasakan daerah yang berbeda-beda maka kita akan lebih menjadi manusia yang toleran. Tidak dengan mudah menghujat dan menyalahkan orang lain.

Nabi Senang Berpergian

Nabi juga senang rihlah, seperti orang–orang quraisy yang rihlah (berpergian). Kalau sudah berpergian mereka pulang dan membawa rezeki, mereka berdagang dan membawa banyak uang disebut dalam Surat Al Quraisy ayat 4.

الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ

Utamanya orang pergi itu pulang bawa uang, jangan sudah pergi pulang uangnya habis. Lha di sni menjadi perkara. Berpergian lalu pulang membawa uang itu yang dimaksud memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar.

Sekarang ilmu seperti ini sudah terkikis, dan menganggap Alquran itu kuno. Ya karena dipakai untuk jimat makanya mereka menganggap Alquran itu kuno. Padahal Alquran itu tidak bertambah dan tidak berkurang, tetapi masalah yang ada di bumi ini selalu bertambah. Harus ada kiai–kiai yang serius belajar dan memberikan solusi kepada umat berdasarkan masalah yang mereka hadapi. Masalah ini berbeda–beda pada setiap orang. Walaupun masalahnya sama, akan berbeda penyampaian penyelesaianya jika background setiap orang berbeda pula. Di sinilah peran kiai atau ulama seperti Gus Baha yang berilmu dan dalam berlogika itu masuk akal. Maka Alquran akan dapat menyelesaikan masalah yang terus berkembang dan Islam tetap menjadi agama yang tidak kuno.

Baca Juga: Melatih dan Menjaga Hati

Perihal Riba

Kisah tentang orang goblok lebih maksiat daripada riba. Sewaktu Gus Baha berdebat dengan pakar ekonomi perihal riba dan bagi hasil secara syariat (murabahah), para ulama memikirkan bahwa hukum yang diberikan Allah, murabahah itu lebih menguntungkan daripada riba.

Dimisalakan si A meminjam uang 100 juta dan bank memberikan bunga sebesar 1 juta perbulan, maka bank mendapatkan untung sebesar 12 juta dalam setahun. Jika dibandingkan dengan bagi hasil murabahah akan sangat berbeda. Misalkan 100 juta dibelikan kambing 2 juta, lalu dijual 2,2 juta, per 10 juta untung 1 juta, per 100 juta untung 10 juta. Jika setiap bulan ada 4 kali pasar jual beli hewan, maka tiap bulan untung 40 juta, selama setahun 480 juta. Katakanlah dia dalam berbisnis jual beli mengalami kesalahan perhitungan atau dibohongi, sakit dan lain lain selama setahun, dia mengalami kerugian 50%, rugi 50% orang paling sial ini. 480 juta dibagi 50% yaitu 240 juta selama setahun. Paham?

Kalau dengan Riba bank hanya mendapatkan untung 12 juta pertahun, maka sistem bagi hasil murabahah 20 kali lebih menguntungkan. Di sini Allah menepati janjinya, jika Allah melarang riba tetapi Allah bertanggungjawab. Siapa lagi kalau bukan ulama–ulama yang berfikir dengan ilmu yang berkembang untuk menjawab masalah–masalah yang baru dengan tetap berpedoman pada Alquran dan rujukan-rujukan ulama terdahulu.

Jadi kita harus tahu dan dapat membuktikan jika dengan sistem hukum yang dibuat Allah itu lebih prospek, dengan bagi hasil secara syariat itu lebih menguntungkan. Riba memang dosa besar, tetapi goblok itu jauh lebih besar dosanya. Sejelek–jeleknya maksiat yang pertama itu adalah goblok, baru riba, dan selanjutnya dan selanjutnya. Goblok lebih maksiat daripada riba. Karena kalau orang islam itu goblok negara bisa hancur. Islam akan hancur.

Referensi dari ceramah Gus Baha


Brawijaya Chandra – Seni tablig Seniman NU