Categories: opiniSimponi

Gaya Komunikasi

Share

Perlu menjadi perhatian bagi kaum idealis yang acuh tak acuh terhadap sesama. Apalagi bagi mereka yang berpendidikan tinggi dan negeri. Semakin banyak informasi yang didapatkan, entah dari membaca atau belajar dari pengalaman dan lingkungan. Sebuah aktivitas yang wajib dilakukan sebagai takdir menjadi manusia: gaya komunikasi.

Komunikasi adalah suatu aktivitas penyampaian informasi, baik itu pesan, ide, dan gagasan, dari satu pihak ke pihak lainnya. Biasanya aktivitas komunikasi ini dilakukan secara verbal atau lisan sehingga memudahkan kedua belah pihak untuk saling mengerti.

Hampir setiap saat kita habisakan waktu untuk berkomunikasi kepada siapapun dan di manapun. Durasi berkomunikasi setiap orang tentu berbeda satu dengan yang lain. Ada yang mengaku diri sebagai seorang yang introvert dengan “hanya” berkomunikasi lewat media sosial, begitu pun sebaliknya.

Baca Juga: Angel bin Ngeyel

Tidak sadarnya manusia terjebak pada pemaksaan kehendak saat berkomunikasi yang kemudian dialibikan dengan prinsip atau idealisme. Syarat utama diterima dan menjadi nyaman dalam sebuah lingkungan tergantung dari gaya kita berkomunikasi. Mereka pecandu minuman keras mungkin merasa risih dengan kehadiran seorang yang sok suci. Mereka yang menghabiskan waktu untuk ke perpustakaan membaca buku juga tidak akan nyaman bagi yang suka haha hihi dengan teman di kantin. Kemudian banyak kasus lagi yang akhirnya mengarahkan kita untuk berada di lingkungan yang tepat.

Banyak orang tua yang kaget pada anaknya sendiri setelah merantau ke luar kota. Selain perubahan fisik, juga terjadi perbedaan cara pandang dan gaya berkomunikasi setelah balik kampung. Lingkungan sangat mempengaruhi kepribadian seseorang. Bahkan misalkan mereka dari keluarga terhormat dan kiai bisa menjadi bejat jika berada di lingkungan yang memaksanya berselimut kemaksiatan.

Proses tumbuh dewasa akan segala bentuk informasi yang menjadikan manusia tidak sadar akan perubahan dirinya. Bahkan hal yang seharusnya menjadi prinsip hidup bisa sedetik berubah hanya pada sebuah keadaan. Kita tidak paham hakikat informasi yang kita terima sesungguhnya benar-benar baik buat kita atau malah sebaliknya. Apalagi kemudian itu ditafsirkan sebagai idealis baru.

Ketika saya kembali duduk sebangku dengan mahasiswa, mereka selalu mengatakan tentang sebuah pemikiran baru. Seolah menjadi karya fenomenal atas usahanya mengeruk pengetahuan dari berbagai sumber. Bangga menyematkan diri sebagai tokoh yang idealis dan tidak gampang terpengaruh. Ketika saya singgung tentang egoisme, mereka kemudian beralibi.

Petuah bijak pun seketika muncul, “Jadilah diri sendiri, jangan bergantung atau ingin menjadi orang lain”. Padahal idealis manusia terbentuk karena faktor orang lain juga. Sedangkan egois lebih kepada pemaksaan kehendak yang seringnya dibalut dengan diksi yang bijaksana. Menjadi diri sendiri bukan berarti mengabaikan sesama, karena sejatinya manusia ingin menghargai dan ingin dihargai.

Banyak ditemui, bahkan mungkin secara tidak sadar saya pun melakukan hal yang demikian. Memaksa seseorang sesuai dengan kehendak kita. Mereka harus menurut dengan berbagai konsekuensi kelompok atau lingkungan. Itulah kenapa idealis itu penting pada saaat tertentu, bukan dengan memamerkan yang malah kadang sering susah membedakan idealisme dan egoisme kepada yang lain.

Dengan berkomunikasi tentunya bisa menjadikan seseorang bisa lebih luwes menghadapi berbagai karakter orang lain. Sehingga ia bisa dengan gampang mencintai dan dicintai orang lain. Manusia berlomba agar dicintai banyak orang tapi seringnya dia malah memilah untuk mencintai orang lain.

Baca Juga: NU kok Emosian

“Terserah, aku memang begini adanya”. Ketika saran untuk mengubah gaya berkomunikasi agar bisa diterima di masyarakat tidak mempan. Seolah menganggap diri wajar dengan gaya komunikasinya, yang padahal tidak disukai banyak dari yang lain. Manusia yang anti-kritik dan saran ini tidak menyadari diri bahwa dirinya terbelenggu pada prinsip-prinsip yang sesungguhnya tidak bisa membuatnya bahagia. Sedangkan tujuan manusia hidup adalah untuk bahagia. Itu saja!

Dalam segala aspek kehidupan selalu dikonsepkan tentang kebahagiaan. Bekerja yang bahagia, olahraga yang bahagia, mencari pasangan yang bisa membuat bahagia, dan beragama juga untuk kebahagiaan. Menjadi rancu ketika orang mengklaim paling beragama, sedangkan dalam dirinya tidak timbul kebahagiaan (rasa syukur) karena diberikan kesempatan untuk beribadah.

Memaklumi yang lain sesuai gaya komunikasinya akan sering menimbulkan konflik dalam lingkarannya. Gaya berkomunikasi bukan karakter atau watak, karena cenderung lebih luwes untuk diubah, tinggal ditanyakan kepada diri masing-masing, “Siapkah kita mengubah gaya komunikasi?!”.

Mulailah bercermin dan memaksa orang lain mengkritik. Dengan demikian minimal kita bisa membedakan mana yang sebenarnya harus dipertahankan sebagai idealisme dan mana yang harus diubah karena hanya nafsu egoisme akan pengakuan dirinya di hadapan yang lain. Gaya komunikasi menetukan masa depan kita – apakah menjadi bahagia atau malah menjadi butiran penyesalan karena “masa bodoh” dengan masukan!


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU